
Sukoharjonews.com – Dalam artikel ini akan membahas tentang amalan agar ternak melimpah. Dalam Khazanah Islam, dikenal istilah fara’, yaitu prosesi mencari berkah dengan menyembelih anak pertama dari hewan ternak, agar melahirkan lebih banyak lagi.
Dilansir dari Bincang Syariah, Rabu (12/8/2026), amalan agar ternak melimpah dan berkah ini hukumnya sunnah dalam Madzhab Syafi’i saja. Alasannya adalah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Simak penjelasan berikut;
وَالْعَتِيرَةُ بِفَتْحِ الْمُهْمَلَةِ وَكَسْرِ الْفَوْقِيَّةِ وَهِيَ مَا يُذْبَحُ فِي الْعَشْرِ الْأُوَلِ مِنْ رَجَبٍ وَالْفَرَعَ بِفَتْحِ الْفَاءِ وَالرَّاءِ وَبِالْعَيْنِ الْمُهْمَلَةِ وَهِيَ أَوَّلُ نِتَاجِ الْبَهِيمَةِ يُذْبَحُ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا وَكَثْرَةِ نَسْلِهَا مَنْدُوبَتَانِ؛ لِأَنَّ الْقَصْدَ بِهِمَا لَيْسَ إلَّا التَّقَرُّبَ إلَى اللَّهِ بِالتَّصَدُّقِ بِلَحْمِهِمَا عَلَى الْمُحْتَاجِينَ فَلَا تَثْبُتُ لَهُمَا أَحْكَامُ الْأُضْحِيَّةِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ.
Artinya; “Atirah adalah menyembelih hewan kurban pada kesepuluh awal bulan Rajab, sedangkan fara’ adalah menyembelih anak pertama hewan yang dimaksudkan untuk mencari keberkahan agar bertambah banyaknya anak. Keduanya ini dihukumi sunnah, sebab tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan mensedekahkan dagingnya kepada yang membutuhkan”. (Busyra al-Karim, halaman 707).
Pada sisi lain, sembelihan fara [tujuan untuk melimpahkan hewan ternak] ini makruh hukumnya. Hal ini bisa dijumpai dalam kitab Khatib Al-Syirbini, yang menukilkan ada beberapa elit Syafi’iyyah lainnya, yang mengatakan hukumnya adalah makruh.
وَالْعَتِيرَةُ بِالْعَيْنِ الْمُهْمَلَةِ ذَبِيحَةٌ كَانُوا يَذْبَحُونَهَا فِي الْعَشْرِ الْأُوَلِ مِنْ رَجَبٍ، وَيُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ أَيْضًا، وَالْفَرَعُ بِفَتْحِ الْفَاءِ وَالرَّاءِ وَالْعَيْنِ الْمُهْمَلَةِ أَوَّلُ نَتَاجِ الْبَهِيمَةِ كَانُوا يَذْبَحُونَهُ وَلَا يَمْلِكُونَهُ رَجَاءَ الْبَرَكَةِ فِي الْأُمِّ وَكَثْرَةِ نَسْلِهَا وَيُكْرَهَانِ لِخَبَرِ الْبُخَارِيِّ «لَا فَرَعَ وَلَا عَتِيرَةَ» .
Artinya; “Athirah atau Rajabiyyah ini adalah menyembelih hewan di 10 hari pertama bulan Rajab, sedangkan fara’ adalah menyembelih anak pertama hewan ternak. Keduanya dihukumi makruh, berdasarkan hadis yang berbunyi ” Tidak ada fara’ dan athirah”. (Mughni Al-Muhtaj, Jilid 6/143).
Kendati demikian, menurut pendapat Ibnu Hajar al-Haitami, pendapat yang mu’tamad (unggul dan dijadikan pegangan), hukum menyembelih satu hewan di bulan Rajab agar binatang ternak berkembang biak dengan cepat hukumnya adalah diperbolehkan.
Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan;
(خَاتِمَةٌ) الْمُعْتَمَدُ مِنْ مَذْهَبِنَا الْمُوَافِقِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ كَمَا بَيَّنَهُ فِي الْمَجْمُوعِ وَادِّعَاءُ نَسْخِهَا لَمْ يَثْبُتْ مَا يَدُلُّ لَهُ وَإِنْ سُلِّمَ أَنَّ أَكْثَرَ الْعُلَمَاءِ عَلَيْهِ أَنَّ الْعَتِيرَةَ بِفَتْحِ الْمُهْمَلَةِ وَكَسْرِ الْفَوْقِيَّةِ وَهِيَ مَا يُذْبَحُ فِي الْعَشْرِ الْأُوَلِ مِنْ رَجَبٍ وَالْفَرَعَ بِفَتْحِ الْفَاءِ وَالرَّاءِ وَبِالْعَيْنِ الْمُهْمَلَةِ وَهِيَ أَوَّلُ نِتَاجِ الْبَهِيمَةِ يُذْبَحُ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا وَكَثْرَةِ نَسْلِهَا مَنْدُوبَتَانِ؛ لِأَنَّ الْقَصْدَ بِهِمَا لَيْسَ إلَّا التَّقَرُّبَ إلَى اللَّهِ بِالتَّصَدُّقِ بِلَحْمِهِمَا عَلَى الْمُحْتَاجِينَ فَلَا تَثْبُتُ لَهُمَا أَحْكَامُ الْأُضْحِيَّةِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ.
“Al-Atirah adalah menyembelih hewan kurban pada kesepuluh awal bulan Rajab, sedangkan Al-Far’ adalah menyembelih anak pertama hewan yang dimaksudkan untuk mencari keberkahan. Keduanya ini dihukumi sunnah, sebab tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan mensedekahkan dagingnya kepada yang membutuhkan. Pendapat inilah yang mu’tamad dalam Madzhab Syafi’i, dan tentunya yang paling cocok dengan teks-teks hadis. Adapun terkait klaim telah dinasakh, maka Al-Nawawi sudah panjang lebar membantahnya dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab”. (Tuhfat Al-Muhtaj, Jilid IX, halama 377).
Tradisi ini sebenarnya merupakan bagian dari adatnya masyarakat Jahiliah, namun ketika ditanyakan kepada Rasulullah SAW, ternyata beliau membolehkannya. Imam Al-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan;
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِيمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ عَنْ المزني قال ما سمعت الشافعي يقول في الفرع هو شئ كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَطْلُبُونَ بِهِ الْبَرَكَةَ فِي أَمْوَالِهِمْ فَكَانَ أَحَدُهُمْ يَذْبَحُ بِكْرَ نَاقَتِهِ أَوْ شاته فلا يغدوه رَجَاءَ الْبَرَكَةِ فِيمَا يَأْتِي بَعْدَهُ فَسَأَلُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ فَقَالَ (فَرِّعُوا إن شئتم) أي اذبحوا إنْ شِئْتُمْ وَكَانُوا يَسْأَلُونَهُ عَمَّا كَانُوا يَصْنَعُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خَوْفًا أَنْ يُكْرَهَ فِي الْإِسْلَامِ فَأَعْلَمَهُمْ أَنَّهُ لَا مَكْرُوهَ عَلَيْهِمْ فِيهِ وَأَمَرَهُمْ اختيارا أن يغدوه ثُمَّ يَحْمِلُوا عَلَيْهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. قَالَ الشَّافِعِيُّ وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (الْفَرَعُ حق) معناه ليس باطل وَهُوَ كَلَامٌ عَرَبِيٌّ خَرَجَ عَلَى جَوَابِ السَّائِلِ قال وقوله صلى الله عليه وسلم (لافرع ولاعتيرة وَاجِبَةٌ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْحَدِيثُ الْآخَرُ يَدُلُّ عَلَى هَذَا الْمَعْنَى فَإِنَّهُ أَبَاحَ لَهُ الذَّبْحَ وَاخْتَارَ لَهُ أَنْ يُعْطِيَهُ أَرْمَلَةً أَوْ يَحْمِلَ عَلَيْهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
Artinya; “Imam Al-Baihaqi meriwayatkan cerita sahih yang bersumber dari Al-Muzanni, di mana Imam Al-Syafi’i menyatakan bahwa fara’ adalah tradisi jahiliyah, yang mana mereka itu mencari berkah atas harta mereka sehingga mereka menyembelih untanya atau kambingnya. Kemudian mereka menanyakan hukum amalan ini kepada Rasulullah SAW, syahdan Rasulullah menjawab dengan mengatakan “lakukanlah fara’ jika kalian mau”.
Mereka bertanya hal demikian, karena merupakan tradisi jahiliyah, sehingga mereka takut kalau tradisi demikian ternyata tidak boleh. Ternyata respon Rasulullah SAW memperbolehkan, bahkan beliau menyatakan “Fara’ itu haq, bukan bathil’. Adapun hadis lain yang menunjukkan kebolehan adalah bahwa Rasulullah SAW memberikan pilihan atas alokasi dagingnya, dimakan sendiri atau diberikan kepada para pejuang sabilillah”. (Al-Majmu’, 8/445)
.
Dengan demikian, bisa diketahui bahwa fara’ atau menyembelih anak pertama dari hewan ternak dengan tujuan mencari berkah ini adalah boleh. Amalan ini sudah lumrah dilaksanakan, biasanya mereka melakukannya dengan tujuan agar hewannya bisa lebih banyak lagi dalam melahirkan.
Demikianlah amalan agar ternak menjadi berkah dan melimpah. Semoga bermanfaat. (nano)














Facebook Comments