Yang Belum Tahu, Berikut Ini Rahasia Shalat Tahajud

banner 468x60
Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Malam selalu menyimpan dua wajah. Bagi sebagian orang, malam adalah waktu terbaik untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian bergulat dengan pekerjaan. Namun, bagi sebagian yang lain, malam justru menjadi saat paling berharga untuk menyendiri bersama Allah.

Dilansir dari Bincang Syariah, Selasa (29/9/2026), ketika suara manusia mulai menghilang dan hiruk-pikuk dunia mereda, seorang mukmin bangkit dari pembaringannya. Ia mengambil air wudu, mengusap kantuk yang masih tersisa, lalu berdiri menghadap Rabb yang tidak pernah tidur.

Di situlah letak keistimewaan shalat tahajud. Ia bukan ibadah yang diwajibkan, tetapi justru karena tidak diwajibkan, nilainya menjadi begitu istimewa. Tahajud adalah ukuran kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya.

Siapa pun mampu beribadah ketika semua orang melakukannya. Akan tetapi, tidak semua orang sanggup bangun ketika manusia lain masih terlelap dalam tidurnya.

Karena itulah, Allah mensyariatkan shalat tahajud bukan untuk mengurangi waktu istirahat manusia. Allah tidak membutuhkan letihnya hamba-Nya.

Sebaliknya, Allah hendak menghadiahkan sebuah kesempatan yang tidak diberikan pada setiap waktu, yakni kesempatan untuk bermunajat dalam suasana yang paling hening, paling jujur, dan paling dekat dengan-Nya.

Allah Swt. berfirman,

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya; “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isrā’ [17]: 79).

Ayat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Allah tidak sekadar memerintahkan tahajud, tetapi juga memperlihatkan rahasia shalat tahajud, yaitu mengangkat derajat hamba menuju maqāman maḥmūdā, kedudukan yang terpuji.

Para ulama memang memberikan penjelasan yang beragam mengenai makna maqām maḥmūd, tetapi semuanya bermuara pada satu hal: Allah memuliakan orang-orang yang menjadikan malam sebagai waktu untuk mendekat kepada-Nya.

Persoalannya, mengapa tahajud harus dilakukan pada malam hari?

Jawabannya sederhana. Malam adalah waktu ketika manusia benar-benar diuji keikhlasannya. Shalat lima waktu masih memungkinkan dikerjakan bersama orang lain.

Puasa masih dapat diketahui keluarga atau sahabat. Akan tetapi, tahajud hampir tidak diketahui siapa pun selain pelakunya dan Allah. Di sinilah nilai keikhlasan menemukan bentuknya yang paling nyata.

Maka tidak mengherankan jika Rasulullah saw. menyebut kemuliaan seorang mukmin justru terletak pada shalat malamnya. Beliau bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ

Artinya; “Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin terletak pada shalat malamnya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam tidak selalu diukur dari kekayaan, jabatan, atau kedudukan sosial. Kemuliaan sejati justru lahir dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika banyak orang mencari kehormatan di hadapan manusia, Islam mengajarkan bahwa kehormatan itu justru dibangun ketika seseorang berdiri sendirian di hadapan Allah.

Karena itu, tahajud bukan sekadar rangkaian gerakan shalat. Ia adalah latihan untuk menundukkan ego. Betapa beratnya meninggalkan kasur yang hangat ketika udara malam menusuk tubuh. Betapa sulitnya membuka mata yang masih dipenuhi kantuk.

Namun justru di situlah letak nilai ibadah ini. Allah tidak melihat seberapa lama seseorang berdiri dalam shalatnya, melainkan melihat kesungguhan hatinya ketika memilih Allah di atas kenyamanan dirinya sendiri.

Tidak sedikit orang yang mengeluhkan sulitnya bangun malam. Alarm dipasang berkali-kali, tetapi jemari justru lebih sigap mematikannya daripada tubuh yang beranjak dari tempat tidur. Fenomena ini menunjukkan bahwa musuh terbesar tahajud bukanlah dinginnya malam, melainkan rasa nyaman yang terlalu dicintai. Sebab, setiap ibadah besar memang selalu meminta pengorbanan yang tidak kecil.

Namun, Allah tidak pernah membiarkan pengorbanan itu tanpa balasan. Bahkan Rasulullah saw. Memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang menghidupkan malamnya dengan ibadah. Dari Abdullah bin Salam r.a., beliau bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Artinya; “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan shalatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan penuh keselamatan.”

Hadis ini menarik. Rasulullah tidak hanya menyebut tahajud sebagai ibadah individual, tetapi menempatkannya sejajar dengan kepedulian sosial, seperti memberi makan dan menyambung silaturahmi. Seolah-olah ia ingin menegaskan bahwa kesalehan sejati selalu memiliki dua wajah: dekat kepada Allah sekaligus dekat kepada manusia. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *