
Sukoharjonews.com – Selain para Nabi, tidak ada manusia yang maksum; terjaga dari perbuatan maksiat. Semua memiliki potensi untuk bermaksiat. Hanya saja sebaik-baik mereka yang bermaksiat adalah yang membersihkan diri dengan air mata tobat. Nah berikut pesan Nabi Muhammad agar dosa terampuni.
Dikutip dari Bincang Syariah, Sabtu (25/4/2026), pada umumnya, orang akan merasa malu atau sedih ketika melakukan suatu kesalahan, apalagi sangat fatal. Pasti akan ada yang namanya penyesalan dalam diri. Tidak ada yang bangga bila rahasia (dosa atau aib) dalam hidupnya diketahui khalayak ramai. Bahkan sampai ada yang depresi dan down sebab rahasia terbongkar.
Hal yang pasti semua manusia menyimpan rahasia dirinya sendiri atau orang lain sebaik mungkin. Terutama rahasia yang berhubungan dengan aib atau kemaksiatan masa lampau, yang bila terungkap akan berdampak pada harkat dan martabat masa depan. Apalagi bagi seorang pemimpin atau tokoh masyarakat.
Saat ini kebanyakan maksiat tidak lagi menjadi aib atau rahasia. Bahkan ada yang dengan bangganya menceritakan pada khalayak ramai. Baik melalui status di medsos atau podcast. Padahal sudah ditutup oleh Allah Swt., malah disebarluaskan sendiri.
Pada dasarnya hakikat kemaksiatan adalah sebuah pengkhianatan kepada Tuhan layaknya pengkhianatan karyawan dalam perusahaan. Tentu ia merasa malu dan merasa telah menjatuhkan reputasi sendiri. Sudah khianat, malah dipamerkan, apalagi kalau hal ini bukan sebuah kebodohan dalam kesombongan?
Allah Swt. Maha segalanya. Tidak ada satupun yang luput dari pandangan-Nya. Termasuk dalam kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba. Tapi Allah Swt. tetap membuka jalan tobat dan menutupi kemaksiatan yang telah dilakukan dari pandangan manusia. Allah Swt. berfirman dalam QS. Thaha : 82:
وَاِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى
Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.
Dalam Tafsir Ar-Razi disebutkan :
وهَهُنا نُكْتَةٌ: وهي أنَّ العَبْدَ لَهُ أسْماءٌ ثَلاثَةٌ: الظّالِمُ والظَّلُومُ والظَّلّامُ. فالظّالِمُ: ﴿فَمِنهم ظالِمٌ لِنَفْسِهِ﴾ [فاطر: ٣٢] والظَّلُومُ: ﴿إنَّهُ كانَ ظَلُومًا جَهُولًا﴾ [الأحزاب: ٧٢] والظَّلّامُ إذا كَثُرَ ذَلِكَ مِنهُ، ولِلَّهِ في مُقابَلَةِ كُلِّ واحِدٍ مِن هَذِهِ الأسْماءِ اسْمٌ فَكَأنَّهُ تَعالى يَقُولُ: إنْ كُنْتَ ظالِمًا فَأنا غافِرٌ وإنْ كُنْتَ ظَلُومًا فَأنا غَفُورٌ، وإنْ كُنْتَ ظَلّامًا فَأنا غَفّارٌ: ﴿وإنِّي لَغَفّارٌ لِمَن تابَ وآمَنَ﴾
Allah Swt. tetap membuka pintu tobat untuk siapa saja yang melakukan kezaliman. Karena Allah Swt. menyesuaikan ampunan-Nya dengan kadar kezaliman hamba. Dia Maha Ghofir, Ghofur, dan Ghaffar. Untuk mereka yang sesekali melakukan kezaliman, Allah Swt. cukup mengampuni dengan al-Ghofir. Mereka yang seringkali berbuat kezaliman, ada sifat Ghofur-Nya. Sedangkan hamba yang senantiasa berbuat kezaliman, pintu tobat tetap terbuka lebar dengan sifat Ghaffar-Nya.
Hanya saja Rasulullah Saw. menggarisbawahi tentang dosa yang diwartakan atau dipertontonkan. Beliau bersabda :
كل امتي معافى الا المهاجرون، وان من المجاهرة ان يعمل الرجل بالليل عملا، ثم يصبح وقد ستر الله فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف سترالله عنه رواه البخاري ومسلم
Semua ummatku dalam ampunan Allah Swt. kecuali orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan. Seperti orang yang bermaksiat di malam hari, lalu keesokannya ia bercerita pada orang lain. Padahal sudah disembunyikan oleh Allah, malah tirai aibnya dibuka sendiri.
Secara bahasa, almu’afah memiliki beberapa arti. Pertama, keselamatan kita dari gangguan orang lain. Begitu juga sebaliknya. Kedua, Allah menyelamatkan hamba dari segala marabahaya dan penyakit. Ketiga, ampunan atas dosa dan selamat dari siksa. Sedangkan almujaharoh dapat diartikan sebagai penyiaran dan penerangan dosa kepada orang lain.
Dalam artian Rasulullah Saw. menjamin atas ampunan dosa umatnya selagi dia tidak mempertontonkan atau menceritakan kemaksiatannya pada orang lain. Apalagi sampai ada rasa bangga saat bercerita. Na’udzubillah.
Lagi pula, apa gunanya kita bercerita tentang kemaksiatan yang telah dilakukan? Bukankah itu hanya akan menjadikan dalih pembenaran bagi orang lain. Apalagi yang bercerita seorang tokoh agama atau tokoh masyarakat. Seakan-akan menumbuhkan rasa istisghor (menganggap sepele pada kemaksiatan). “Tuh, ustadz saja dulunya segelap itu. Ternyata sekarang alim banget. Jadi wajar saja kemaksiatan seperti ini.”
Khawatirnya mereka bermaksiat karena terinspirasi dari cerita yang disampaikan. Jadilah dosa jariyah untuk kita sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. (au kama qola):
من دعا الى ضلالة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها الى يوم القيامة
Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kesesatan, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang yang melakukan hingga hari kiamat.
Sebuah kejujuran memang sangat penting, tapi tidak untuk kemaksiatan yang telah dilakukan. Membangkitkan semangat para pendosa untuk meraih maghfiroh tidak melulu dengan mencontohkan kemaksiatan diri. Bisa saja ceritakan kalam hikmah dari para ulama tentang luasnya ampunan Allah Swt. pada hamba yang penuh dosa.
Beda lagi bila kemaksiatan memang dipandang perlu untuk diceritakan. Misal untuk keperluan penyelidikan dan penyidikan atau kesaksian di depan hakim. Atau keperluan lain yang dapat dibenarkan oleh syariat. Tentu hal ini menjadi sebuah pengecualian. Bahkan bukan hanya boleh, tapi wajib diceritakan.
Semua ini masih tentang mereka yang menceritakan kemaksiatan yang telah dilakukan. Lalu, bagaimana dengan mereka yang secara sengaja dan terang-terangan melakukan kemaksiatan di muka umum? Na’udzubillah. Bisa direnungkan sebentar.
Seperti makan di teras depan saat Ramadan, padahal tetangga lalu lalang di depan rumah, “Pacaran” di alun-alun kota, siang hari lagi, bagi-bagi uang (money politic) dalam acara kampanye. Dalihnya kuburan masing-masing, tak usah hiraukan dosa orang lain. Iya, benar. Tapi seperti pepatah, lain orang yang makan nangka, lain orang yang kena getah.
Orang dengan model seperti ini kata Syekh Muhammad Abdul Aziz Al-Khuli (al-Adab An-Nabawi: hal. 86) yang bakal tambah disesatkan oleh Allah Swt.. Bukan hanya disiksa atas kemaksiatan yang telah dilakukan, tapi bakalan dapat penambahan atas mempertontonkannya. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqoroh : 10:
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.
Kata beliau, tobat orang model macam tersebut tidak bisa diharapkan. Percuma saja menasihati mereka. Bagaimana mau mengharapkan ampunan Allah Swt. atau mau menerima nasihat, sedangkan dalam dirinya meremehkan kemaksiatan yang diperbuat. Na’udzubillah.
Pada akhirnya semua manusia pasti memiliki dosa. Namun sebaik-baik pendosa adalah mereka yang terus bertobat dan beristighfar sedangkan seburuk-buruknya adalah mereka yang mempertontonkan kemaksiatan. Wallahua’lam. (nano)















Facebook Comments