
Sukoharjonews.com – Silver Media Group yang berbasis di Singapura telah menandatangani nota kesepahaman dengan legenda tinju Indonesia, Chris John, untuk mengembangkan “Dragon’s Dojo”—sebuah serial animasi vertikal yang dirancang khusus untuk perangkat seluler dan diangkat dari cerita rakyat Indonesia.
Dilansir dari Variety, Rabu (12/8/2026), proyek ini menandai babak pertama dari waralaba Mitologi Asia ASERYA. Kolaborasi ini mempertemukan Silver Media Group dengan Chris John, eksekutif TV Indonesia berpengalaman Harun Kurniawan, serta Koollab Studios sebagai mitra produksi bersama.
“Dragon’s Dojo” meluncurkan Semesta ASERYA, sebuah waralaba mitologi Asia yang saling terhubung dan mencakup animasi, komik, gim, serta merchandise. Semesta ini memadukan tokoh dunia nyata dengan protagonis muda, cerita rakyat, dan makhluk mitos dari seluruh penjuru benua, dengan tujuan memperkenalkan kisah-kisah Asia kepada audiens global.
Kisahnya mengikuti kemunculan makhluk-makhluk kuno di dunia modern, yang memicu para pahlawan dari berbagai negara untuk menghadapi kegelapan yang bangkit dan mengancam kawasan tersebut. Dalam “Dragon’s Dojo,” Chris John tampil sebagai sosok alter ego animasi, berperan sebagai kepala instruktur dan mentor di akademi bela diri yang menjadi judul serial ini—sebuah tempat yang membina anak-anak muda yang sedang menghadapi kesulitan hidup. Saat makhluk-makhluk dari mitologi Indonesia muncul dan mengancam komunitas murid-muridnya, Chris dan anak-anak didiknya menyadari bahwa pertarungan mereka melampaui sekadar melawan monster, melainkan juga mencakup pergulatan batin mereka sendiri.
Serial ini dirancang sebagai waralaba lintas platform dengan potensi pengembangan ke ranah komik, gim, dan merchandise. Chan Gin Kai, pendiri sekaligus CEO Silver Media Group, mengatakan bahwa Asia memiliki sejarah, budaya, dan mitologi terkaya di dunia, namun banyak dari kisah-kisah tersebut masih belum banyak dikenal di luar negara asalnya.
“Melalui ASERYA, kami ingin membangun semesta yang saling terhubung, di mana kisah-kisah ini dapat hidup kembali bagi generasi penonton yang baru,” ujar Chan. “‘Dragon’s Dojo’ adalah awal dari perjalanan tersebut di Indonesia; sebuah karya yang memadukan warisan seorang juara sejati, Chris John, dengan kekuatan mitologi, aksi, dan penceritaan yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Saat kami membuka pintu menuju semesta cerita yang lebih luas dari seluruh penjuru Asia, kami berharap dapat membagikan kekayaan warisan ini kepada dunia.”
Chris John mengatakan seni bela diri bukan sekadar belajar cara bertarung, melainkan juga mengajarkan disiplin, rasa hormat, keberanian, dan cara menghadapi tantangan hidup. “Sepanjang karier saya, tinju telah mengajarkan bahwa kemenangan terbesar tidak hanya diraih di atas ring, tetapi juga saat kita berhasil mengatasi tantangan yang kita hadapi sehari-hari,” ungkapnya. “‘Dragon’s Dojo’ menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam sebuah petualangan seru, di mana kaum muda dapat menemukan kekuatan serta tujuan hidup mereka, sekaligus memupuk keberanian untuk menapaki jalan mereka sendiri sembari menyelami kekayaan mitologi Indonesia.”
Kurniawan menuturkan bahwa Indonesia memiliki kisah, legenda, dan warisan budaya luar biasa yang telah diwariskan secara turun-temurun. “‘Dragon’s Dojo’ memberi kami kesempatan untuk mengemas elemen-elemen tersebut ke dalam format kontemporer dan memperkenalkannya kepada penonton di seluruh dunia,” ujarnya. “Kami menciptakan karya yang mencerminkan kebanggaan Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari semesta penceritaan Asia yang jauh lebih luas.”
Salah satu pendiri Koollab Studios, Oliver Guse, mengatakan bahwa masa depan dunia hiburan akan dibentuk oleh kolaborasi antara kreativitas manusia, teknologi, dan pendekatan baru dalam bercerita. “Di Koollab Studios, kami meyakini bahwa inovasi harus mampu memberdayakan para kreator untuk menghadirkan kisah yang lebih besar dan ambisius, tanpa mengorbankan autentisitas maupun kedalaman emosional yang menjadikannya bermakna,” kata Guse. “‘Dragon’s Dojo’ menghadirkan peluang menarik untuk memadukan visi kreatif dengan berbagai kemungkinan produksi baru, serta membawa kekayaan budaya dan mitologi Indonesia ke hadapan penonton global.”
“Dragon’s Dojo” saat ini sedang dalam tahap pengembangan, dengan rincian mengenai produksi dan jadwal perilisannya akan diumumkan kemudian. Silver Media Group, yang didirikan oleh produser pemenang penghargaan Golden Horse, Chan Gin Kai, mengelola portofolio lebih dari 1.500 aset kekayaan intelektual (IP) yang mencakup film, animasi, gim, dan novel grafis. Perusahaan ini telah bermitra dengan manajer investasi berlisensi dari Monetary Authority of Singapore untuk membentuk Silver Media Fund, sebuah sarana investasi media berskala institusional yang berfokus pada pengembangan dan pembiayaan IP yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam skala besar (scalable).
Koollab Studios didirikan bersama oleh Guse, sosok yang telah berkecimpung selama tiga dekade dalam produksi animasi, dan perusahaan ini berfokus pada alur kerja produksi yang berbasis pada teknologi-teknologi baru yang sedang berkembang. (nano)














Facebook Comments