Ragam  

Lahan Sawah Disulap Jadi Tempat Budidaya Lumut, Pria Sukoharjo Ini Raup Ratusan Ribu Per Harinya

Karnoto, 59, saat mengecek lahan sawahnya yang dijadikan tempat budidata lumut umpan pancing di Dukuh Mayang, Desa Mayang, Kecamatan Gatak, Sukoharjo.

Sukoharjonews.com (Gatak) – Mancing mania atau penghobi memancing masih menjadi tren di masyarakat, termasuk di Kabupaten Sukoharjo. Kondisi tersebut menjadi celah untuk meraup pundi-pundi rupiah dengan menjual umpan lumut yang banyak dicari oleh pemancing. Umpan lumut sering jadi andalan mancing mania untuk memancing di waduk, embung, dan lainnya.


Salah satu petani di Dukuh Mayang RT 02/03, Desa Mayang, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Karnoto, 59, menangkap peluang tersebut. Karnoto menjadikan sawahnya untuk budidaya lumut umpan. Usaha tersebut sudah digeluti Karnoto selama 1,5 tahun terakhir.

“Sudah satu setengah tahun saya budidaya lumut. Di sini airnya bagus, mengalir, tapi sawah tak pernah untung karena hama tikus. Kebetulan saya hobi mancing, maka saya pancingi itu ikan di sawah yang lagi tidak saya tanami,” ujarnya, Selasa (6/9/2022).

“Saya suka pakai lumut untuk umpan dan biasanya saya cari di areal persawahan, dari situlah kemudian muncul ide budidaya lumut, akhir-akhir ini kan hobi mancing makin populer, pikir saya bisa dijadikan peluang usaha,” sambungnya.

Karnoto bercerita, untuk lahan satu kedok ukuran 3.000-an meter jika ditanami padi dalam tiga bulan hanya menghasilkan sekitar Rp5 juta itu pun jika tidak kena hama. Dari hasil itu sepertiga untuk modal bibit dan pupuk, sepertiga untuk penggarap, dan sebagai pemilik sawah ia hanya mendapat sepertiganya.


Nah, begitu diubah menjadi kolam budidaya lumut, hasilnya dalam seminggu, ia bisa meraup Rp800.000 dengan harga minimal Rp50 ribu per ember kecil. Tidak ada potongan biaya tenaga kerja karena dikerjakan sendiri, hanya untuk pembelian bibit dan pupuk, ia masih bisa mendapat Rp500 ribu bersih.

“Kalau harga lagi melonjak tinggi, panen saya bagus, saya bisa dapat Rp1 juta bersih. Ini hasilnya 3-4 kali dari menanam padi yang sudah biaya tinggi, risikonya juga tinggi sekali,” jelas Karnoto.

Untuk wilayah Desa Mayang menurut Karnoto hanya dia sendiri petani lumut umpan pancing dan ada satu penjual lumut yang didatangkan dari Ponggok Kabupaten Klaten. Dan itu belum mencukupi untuk menyuplai kebutuhan para pemancing di Sukoharjo dan sekitarnya.

“Saya saja hanya bisa memanen dalam tiga hari sekali karena keterbatasan lahan dan tenaga, jadi ya hanya bisa dipanen seminggu tiga kali. Padahal ada puluhan ribu pemancing di Sukoharjo,” kata Karnoto.

Pelanggan lumut hasil budidaya Karnoto selain dari Sukoharjo sendiri, ada yang dari Kota Solo dan Sragen. Harga lumut per ember Rp50 ribu adalah harga patokan yang disepakati antara para pengepul atau toko-toko kebutuhan pancing dan para pemancing di Sukoharjo dan sekitarnya.


Budidaya lumut umpan pancing hanya bisa dijalankan di musim penghujan atau kondisi air tercukupi. Karnoto yang mengandalkan air dari sumber sendang, jika air sedang menyusut maka untuk sementara berhenti dan mencari sumber ekonomi lain.

“Jika airnya menyusut, saya kembali alih profesi jadi tukang bangunan lagi, agar dapur keluarga saya tetap mengepul,” pungkas Karnoto.

Cara Budidaya Lumut
Karnoto membagi cara budidaya lumut umpan pancing. Pertama, sawah harus diubah total menjadi kolam air dan harus steril dari lumpur.

Setelah lahan steril, lahan harus dikeringkan dan diberi dolomit sampai merata. Beberapa hari dolomit sudah kering lalu air dimasukkan ke lahan sampai penuh dan ditabur bibit lumut.

“Usahakan bibit lumut yang bagus, kasar, dan panjang. Setelah ditabur bibit, lumut yang sudah menempel di dasar dan pinggir lahan kita ambil biar mengambang di air, istilah sini “dibanjakke” biar rata ke seiisi kolam. Setelah itu dikontrol 1-2 hari sekali. Dalam waktu seminggu sudah bisa dipanen,” jelas Karnoto.

Jika proses berjalan lancar, 1 sak bibit lumut dalam satu minggu bisa menghasilkan 2 sampai 3 panenan, dan setelah dipanen pun tak perlu menabur bibit lagi, karena akan kembali bisa dipanen seminggu lagi begitu seterusnya.

Dengan catatatn debit air dan cuaca mendukung. Hujan dan panas seimbang, itu bagus,” jelas Karnoto. (sapta nugraha/mg)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page