Cek di Sini, Berikut Ini Tanda Allah Ridha Kepada Kita

banner 468x60
Ilustrasi. .(Foto: Harnas)

Sukoharjonews.com – Pernahkah kita bertanya dalam hati, “Apakah Allah sudah ridha?” Pertanyaan tanda Allah ridha pada manusia, sesungguhnya muncul dari hati yang hidup, hati yang ingin memastikan bahwa langkah-langkahnya tidak melenceng dari jalan yang diridhai-Nya. Banyak orang mengira bahwa ridha Allah hanya tampak dari hidup yang serba mudah, rezeki yang melimpah, dan segala urusan yang terasa lancar.

Dilansir dari Bincang Syariah, Selasa (6/10/2026), padahal, ridha Allah sering kali justru bersemayam di balik ujian, kesulitan, dan kesabaran yang kita jalani tanpa keluh. Betapa banyak orang yang tampak sederhana hidupnya, namun di hatinya ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan dunia; itulah tanda cinta dan ridha Allah yang sejati.

Melalui tulisan ini, mari kita bersama-sama menelusuri tanda-tanda kasih Allah yang kerap hadir dalam bentuk yang tidak selalu kita duga — karena ridha-Nya bukan tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana hati kita menerima, bersyukur, dan tetap istiqamah dalam setiap keadaan.

Dalam kitab Rabi’ul Abrar karya Imam Az-Zamakhsyari disebutkan:

قال موسى ما علامة رضاك عني ؟ قال ذكرك إياي يابن امران

Nabi Musa bertanya, “Ya Rabbi, apa tanda keridhaan-Mu kepadaku?” Jawab-Nya, “dzikirmu kepada-Ku, hai anak Imran.”

Dzikir seorang hamba kepada Allah bukan sekadar gerakan lisan atau rutinitas ibadah, melainkan cerminan hubungan hati antara seorang makhluk dengan pencipta-Nya. Saat seseorang dimampukan untuk berdzikir, itu bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena Allah sedang memberi izin dan kehendak agar ia mengingat-Nya.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari sini kita memahami bahwa dzikir bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga bukti kasih sayang Allah dan tanda bahwa Dia tidak meninggalkan hamba-Nya, bahkan sedang menaruh perhatian kepadanya.

Dzikir juga menjadi bukti bahwa Allah sedang menuntun hati seorang hamba agar tetap hidup dalam cahaya iman. Tidak semua orang diberi kemudahan untuk senantiasa mengingat Allah di tengah kesibukan dan hiruk pikuk dunia. Maka ketika lisan kita masih ringan menyebut nama-Nya, ketika hati masih tersentuh oleh ayat-ayat-Nya, itu pertanda bahwa Allah masih menanamkan cahaya hidayah di dalam diri.

Allah berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ ۝١٥٢

Artinya;“Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu.” (QS. Al-Baqarah: 152).

Betapa lembutnya kasih Allah, Dia tidak hanya memerintahkan kita untuk berdzikir, tetapi juga berjanji untuk membalasnya dengan perhatian dan rahmat yang jauh lebih besar.

Dzikir juga menjadi penenang jiwa yang tidak bisa digantikan oleh apa pun di dunia. Di saat hati manusia mudah resah dan pikiran penuh kecemasan, dzikir menghadirkan ketenangan yang sejati. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

Artinya; “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Seorang hamba yang ridha dengan Allah akan senantiasa berdzikir, dan sebaliknya, dzikir yang tulus akan melahirkan hati yang ridha terhadap segala ketetapan-Nya. Inilah hubungan spiritual yang indah, yakni ketika seorang hamba mengingat Tuhannya, maka Allah pun menurunkan ketenangan, cinta, dan keridhaan ke dalam hatinya.

Dzikir bukan sekadar ritual, melainkan tanda kehidupan spiritual yang sehat dan bukti bahwa Allah masih berkenan mendekatkan diri kepada hamba-Nya. Dzikir menjaga hati agar tidak keras, menjaga jiwa agar tidak sombong, dan menjaga langkah agar tetap di jalan kebenaran.

Ketika seseorang terus berdzikir, ia sejatinya sedang berada di bawah naungan rahmat dan ridha Allah. Lebih komprehensif, dzikir juga menjadi sarana penyucian jiwa yang menumbuhkan rasa cinta dan kedekatan dengan Allah.

Mengapa demikian? melalui dzikir, seorang hamba perlahan bisa melepaskan ketergantungan pada dunia dan menemukan makna sejati dari ketenangan batin. Ia sadar bahwa semua kebahagiaan, rezeki, dan keselamatan hanyalah karunia dari-Nya.

Rasulullah bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya amalan pelengkap, tetapi napas kehidupan bagi ruh seorang mukmin. Maka, selama hati masih bergetar saat mengingat Allah, selama lisan masih ringan menyebut nama-Nya, itulah tanda bahwa Allah ridha dan masih memberi kesempatan bagi kita untuk hidup dalam cahaya-Nya. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *