
Sukoharjonews.com – Bahkan rangkaian promosi besar-besaran yang melibatkan Tom Cruise—mulai dari menjadi sampul majalah GQ, tampil di siniar “New Heights”, hingga aksi ala film “Risky Business” saat melewati lorong penyemangat di acara “Jennifer Hudson Show”—tidak mampu menyelamatkan “Digger” dari kegagalan total di box office.
Dilansir dari Variety, Senin (5/10/2026), film komedi kelam (black comedy) berating R (dewasa) produksi Warner Bros. ini hanya meraup USD3,4 juta dari 3.321 bioskop di Amerika Utara pada hari Jumat, menyusul banyaknya ulasan negatif dan beragamnya tanggapan penonton. Film ini tampaknya akan menjadi salah satu kegagalan terbesar tahun ini, dengan perkiraan pendapatan domestik hanya sebesar USD7,5 juta pada akhir pekan pembukaannya.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, anggaran awal film disetujui sebesar USD125 juta, namun akhirnya membengkak menjadi antara USD160 juta hingga USD180 juta akibat proses produksi yang berkepanjangan. Hal ini menjadi masalah karena studio harus berbagi pendapatan tiket dengan pemilik bioskop, yang berarti “Digger” diprediksi akan mengalami kerugian jutaan dolar selama masa penayangannya di bioskop.
Disutradarai oleh pemenang Academy Award Alejandro González Iñárritu, “Digger” menampilkan Cruise sebagai taipan minyak berpengaruh yang perusahaannya memicu bencana ekologis. Meskipun Cruise memiliki daya tarik bintang yang kuat—seperti yang terbukti lewat kesuksesan film-film blockbuster baru-baru ini seperti waralaba “Mission: Impossible” dan film fenomenal tahun 2022 “Top Gun: Maverick”—”Digger” justru akan menjadi kegagalan terbaru bagi Warner Bros.
Tahun ini, studio tersebut telah merilis sejumlah film yang kurang sukses, termasuk film punk rock karya Maggie Gyllenhaal, “The Bride!”, dan adaptasi buku komik DC, “Supergirl”. Di tengah penolakan penonton umum terhadap “Digger,” film “psycho-thriller” produksi Amazon MGM, “Verity,” berhasil menempati posisi puncak pada hari Jumat dengan pendapatan USD15,1 juta dari 3.510 bioskop di Amerika Utara. Film ini diperkirakan akan meraup USD33,6 juta di pasar Amerika sepanjang akhir pekan.
Diadaptasi dari buku terlaris karya Colleen Hoover dengan judul yang sama, “Verity” berkisah tentang penulis ternama Verity Crawford (Anne Hathaway) yang mengalami cedera parah akibat kecelakaan mobil. Kondisi ini membuat suaminya (Josh Hartnett) menyewa seorang penulis yang kariernya sedang sulit (Dakota Johnson) untuk menyelesaikan sisa buku-bukunya. Film ini disutradarai oleh Michael Showalter. Ini merupakan novel keempat Hoover yang diangkat ke layar lebar, menyusul “It Ends With Us” (Sony) tahun 2024, “Regretting You” (Paramount) tahun 2025, dan “Reminders of Him” (Universal) tahun 2026.
Film horor zombi karya Zach Cregger, “Resident Evil,” menempati posisi kedua pada hari Jumat dengan pendapatan USD3,62 juta. Dibintangi oleh Austin Abrams sebagai kurir medis yang harus menghadapi wabah zombi saat melakukan pengiriman ke Rumah Sakit Umum Raccoon City, film produksi Sony ini diprediksi akan menambah pendapatan sebesar USD12 juta hingga hari Minggu, sehingga total pendapatan domestiknya mencapai USD124,395 juta.
Setelah “Digger” yang finis di posisi ketiga, film produksi Paramount Pictures, “The Heart of the Beast,” menyusul di posisi berikutnya dengan pendapatan USD3,15 juta, menjadikan total pendapatan kumulatifnya USD38,39 juta. Film petualangan yang dibintangi Brad Pitt ini disutradarai oleh David Ayer; Pitt berperan sebagai seorang veteran pensiunan yang harus menempuh perjalanan sejauh 58 mil demi keselamatan setelah ia dan anjing tempurnya selamat dari kecelakaan pesawat di alam liar Alaska.
Terakhir, di posisi kelima, terdapat film produksi A24 berjudul “Primetime.” Film ini meraup USD2,49 juta pada hari Jumat dan diperkirakan akan menghasilkan tambahan USD7,5 juta hingga hari Minggu. Akhir pekan pembukaan film ini tercatat sebagai yang terbaik ketiga bagi A24, di bawah “Backrooms” (USD81,4 juta) dan “Civil War” (USD25,5 juta), dan drama yang dibintangi Robert Pattinson ini telah meraup USD28,58 juta di pasar domestik sejauh ini.
“Primetime” mengisahkan perjalanan Chris Hansen saat menjadi pembawa acara segmen “To Catch a Predator” dalam program “Dateline” NBC. Meskipun film ini menuai ulasan positif dan respons hangat dari penonton sejak tayang perdana di Festival Film Venesia awal bulan ini, sosok asli Hansen justru memberikan tanggapan yang kurang berkenan menjelang perilisannya; setelah menonton film tersebut, Hansen menyebutnya “sangat aneh dan sangat tidak realistis,” serta “jauh dari kenyataan.” (nano)














Facebook Comments