Ragam  

Antisipasi Penyebaran DBD, Kecamatan Sukoharjo Terjunkan Kader Jumantik Pantau Lingkungan

Kader Jumantik Kecamatan Sukoharjo terjun memantau dan membersihkan lingkungan membasmi jentik nyamuk, Sabtu (25/6/2022).

Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Munculnya sejumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo membuat Perintah Kecamatan menggelar apel Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik), Sabtu (25/6/2022). Tidak sekadar apel, setelah itu kader juga diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pemantauan jentik.


“Jadi kegiatan ini serentak di 12 kelurahan dimana penerjunan kader Jumantik dilatarbelakangi timbulnya beberapa kasus DBD di Kecamatan Sukoharjo,” jelas Camat Sukoharjo, Havid Danang PW.

Havid melanjutkan, para kader Jumantik tersebut kemudian diterjunkan di wilayah masing-masing untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk. Para kader juga melakukan pemeriksaan lingkungan tempat perkembangbiakan nyamuk seperti bak pemyimpanan air, selokan, dan tempat-tempat lainnya.

“Jadi, dilakukan dilakukan pembersihan lingkungan sekaligus memberikan pengertian bahwa fogging bukanlah solusi untuk membasmi nyamuk DBD. Ada cara yang efektif yakni Pemberantasan Sarang Nyamuk atau PSN dan 3M plus,” jelasnya.

Kalau terlalu sering fogging, ujar Havid, dikhawatirkan lama kelamaan nyamuk akan kebal dan tidak menpan lagi terhadap fogging. Selain itu, foggging hanya membasmi nyamuk dewasa dan tidak bisa membasmi jentik.

“Fogging menggunakan obat dan ada efek sampingnya sehingga diminimalkan. Kalaupun terpaksa fogging, harus dilakukan oleh petugas dan dinas terkait dalam hal ini Dinas Kesehatan”.

“Kalau ada kasus DBD, kader jumantik akan melakukan pelacakan dan pemebersihan lingkungan bersama masyarakat,” lanjutnya.

Havid juga mengatakan, kader jumantik diberi bekal soal penbetahuan penanganan DBD dan pengecekan lingkungan sehingga lebih maksimal. Menurutnya, selama ini banyak muncul fogging oleh lembaga swasta dan diharapkan masyarakat tidak melakukannya karena fogging tidak dilakukan secara asal karena ada aturannya.

“Intinya fogging diminimalkan, paling efektif adalah gerakan PSN dan 3M plus,” ujar Havid.

Havid juga mengatakan, sejak Januari sampai Juni 2022 ini, sudah ada 48 kasus DBD di Kecamatan Sukoharjo sehinggga perlu diwaspadai bersama. Terlebih lagi, saat ini cuaca tidak menentu terkadang hujan terkadang panas sehingga banyak tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk.

“Dari 48 kasus tersebut memang belum ada yang sampai menyebabkan kematian, tapi harus diwaspadai. Kalau data kewaspadaan dini rumah sakit, sudah ada 185 kasus yang masuk Puskesmas,” tambahnya. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.