Yang Belum Tahu, Ini Penjelasan tentang Zuhud, Pengertian, Dalil, Ciri-ciri, dan Cara Mengamalkannya

banner 468x60
Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Sukoharjonews.com – Apa itu zuhud? Pasalnya, zuhud sering kali dipahami sebagai sikap menjauhi dunia, hidup miskin, mengenakan pakaian sederhana, atau meninggalkan pekerjaan. Padahal, pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya benar. Dalam ajaran Islam, zuhud bukanlah tentang meninggalkan dunia, melainkan mengendalikan hati agar tidak diperbudak oleh dunia.

Dilansir dari Bincang Syariah, Minggu (4/10/2026), kesalahpahaman mengenai zuhud telah muncul sejak lama. Ada orang yang menganggap dirinya zuhud karena hidup serba kekurangan, enggan bekerja, bahkan memandang sinis orang yang memiliki harta. Sebaliknya, ada pula yang bergelimang kekayaan, tetapi mengaku telah bersikap zuhud, padahal seluruh hidupnya hanya berputar untuk mengejar dunia.

Padahal, hakikat zuhud tidak diukur dari sedikit atau banyaknya harta, melainkan dari posisi harta di dalam hati. Seorang muslim boleh kaya, memiliki jabatan tinggi, bahkan menjadi pengusaha sukses. Namun, semua itu tidak boleh membuat hatinya berpaling dari Allah SWT.

Apa Itu Zuhud Menurut Ulama?

Syekh Abdul Qadir Isa dalam kitab Haqaiq at-Tashawuf menjelaskan bahwa zuhud merupakan keadaan hati yang kosong dari ketergantungan kepada selain Allah. Seorang yang zuhud tetap memanfaatkan dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya.

Senada dengan itu, Al-Manawi dalam Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir memberikan penjelasan yang sangat terkenal:

“Zuhud itu kosongnya hati dari dunia, bukan kosongnya tangan dari dunia.”

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa Islam tidak melarang seorang muslim memiliki kekayaan. Yang dilarang adalah ketika kekayaan menguasai hati sehingga melahirkan kesombongan, kerakusan, dan lupa kepada Allah SWT.

Karena itu, seorang pedagang yang jujur, pejabat yang amanah, atau pengusaha yang dermawan dapat lebih zuhud dibandingkan orang yang hidup sederhana tetapi masih dipenuhi rasa iri terhadap harta orang lain.

Kesalahan Memahami Zuhud

Banyak orang mengidentikkan zuhud dengan kemiskinan. Mereka mengira semakin miskin seseorang, semakin tinggi pula derajat kezuhudannya.

Padahal Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan demikian. Beliau menikah, berdagang, memimpin negara, menerima hadiah, memiliki keluarga, dan memanfaatkan berbagai nikmat dunia untuk kemaslahatan umat. Kehidupan beliau membuktikan bahwa dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, melainkan sarana untuk beribadah kepada Allah SWT.

Karena itu, meninggalkan pekerjaan, tidak mencari nafkah, atau sengaja hidup melarat bukanlah bentuk zuhud. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya bekerja keras, mencari rezeki yang halal, lalu menggunakan harta tersebut untuk beribadah, membantu sesama, serta menegakkan keadilan.

Al-Manawi bahkan menegaskan bahwa dunia tidak boleh ditinggalkan karena akhirat hanya dapat diraih melalui dunia. Harta, jabatan, keluarga, dan berbagai kenikmatan dunia dapat menjadi kendaraan menuju ridha Allah apabila dimanfaatkan sesuai syariat.

Dalil Al-Qur’an tentang Zuhud

Salah satu ayat yang menjadi dasar sikap zuhud adalah firman Allah SWT:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ

Artinya: “Katakanlah, kesenangan dunia hanyalah sebentar, sedangkan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nisa’: 77).

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Seluruh kenikmatannya bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat bersifat kekal. Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya.

Rasulullah SAW bersabda:

يقول ابن آدم مالي مالي قال وهل لك يا ابن آدم من مالك إلا ما أكلت فأفنيت أو لبست فأبليت أو تصدقت فأمضيت

Artinya: “Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal yang benar-benar menjadi miliknya hanyalah apa yang ia makan hingga habis, apa yang ia pakai hingga usang, dan apa yang ia sedekahkan sehingga menjadi bekal akhirat.”

Hadis ini mengajarkan bahwa harta yang benar-benar bermanfaat hanyalah yang digunakan untuk kebaikan. Kekayaan yang sekadar ditimbun tidak akan menemani manusia setelah kematian.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا إضاعة المال ولكن الزهادة في الدنيا أن لا تكون بما في يديك أوثق مما في يد الله

Artinya: “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud adalah ketika keyakinanmu terhadap apa yang ada di sisi Allah lebih besar daripada apa yang ada di tanganmu.” (HR. At-Tirmidzi).

Hadis ini meluruskan anggapan bahwa zuhud berarti membenci harta. Justru Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar mencari rezeki dan tawakal kepada Allah.

Tiga Cara Menggapai Zuhud

Syekh Abdul Qadir Isa menjelaskan bahwa ada tiga jalan untuk menumbuhkan sifat zuhud dalam hati.

Pertama, menyadari bahwa dunia hanyalah sementara. Sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, semuanya akan ditinggalkan ketika kematian datang.

Kedua, meyakini bahwa kehidupan akhirat jauh lebih kekal daripada kehidupan dunia. Kesadaran ini membuat seseorang lebih bersemangat memperbanyak amal saleh daripada sekadar mengejar kenikmatan materi.

Ketiga, meyakini bahwa rezeki telah ditetapkan oleh Allah SWT. Keyakinan ini melahirkan sikap qanaah, menjauhkan seseorang dari sifat tamak, iri hati, korupsi, serta berbagai bentuk kezaliman.

Ciri-Ciri Orang Zuhud

Orang yang zuhud bukanlah orang yang anti terhadap harta atau sengaja hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya, ia mampu menempatkan harta pada posisi yang semestinya, yaitu sebagai amanah dan sarana beribadah, bukan tujuan hidup.

Harta boleh berada di tangan, tetapi tidak boleh menguasai hati. Karena itu, ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur kepada Allah, dan ketika kehilangan sebagian hartanya, ia tetap tenang karena meyakini bahwa seluruh rezeki berada dalam ketetapan-Nya.

Sikap zuhud juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Orang yang zuhud tidak tamak mengejar kenikmatan dunia, tidak iri terhadap kekayaan orang lain, serta tetap berusaha mencari rezeki yang halal dengan penuh tanggung jawab.

Ia menyadari bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah, sedangkan harta yang diperoleh harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan, seperti membantu sesama, bersedekah, dan memenuhi hak keluarga. Dengan demikian, kecintaannya kepada akhirat tidak membuatnya meninggalkan kewajiban hidup di dunia.

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Az-Zuhri yang menyebutkan bahwa hakikat zuhud adalah mensyukuri rezeki halal yang dianugerahkan Allah, menjauhi segala bentuk penghasilan yang haram, serta merasa cukup dengan apa yang telah ditetapkan-Nya.

Sikap qanaah inilah yang melahirkan ketenangan batin, membebaskan seseorang dari sifat rakus, dan menjadikan hatinya lebih dekat kepada Allah SWT. Inilah ciri utama orang yang benar-benar zuhud: hidup di tengah dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.

Zuhud Relevan untuk Kehidupan Modern

Di era modern, manusia menghadapi godaan dunia yang jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Persaingan ekonomi, budaya konsumtif, media sosial, hingga gaya hidup mewah sering kali membuat seseorang mengukur kebahagiaan berdasarkan materi.

Akibatnya, lahirlah berbagai persoalan seperti korupsi, penipuan, eksploitasi, hingga ketimpangan sosial. Semua itu berawal dari hati yang tidak pernah merasa cukup.

Di sinilah zuhud menjadi solusi. Zuhud mengajarkan bahwa manusia boleh mengejar kesuksesan, tetapi tidak boleh kehilangan integritas. Boleh kaya, tetapi tetap dermawan. Boleh memiliki jabatan tinggi, tetapi tetap amanah. Boleh menikmati dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.

Sikap seperti inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para ulama. Mereka memanfaatkan dunia sebagai sarana beribadah, bukan sebagai sesuatu yang dipertuhankan.

Zuhud bukanlah hidup miskin, bukan pula meninggalkan pekerjaan atau membenci harta. Zuhud adalah kemampuan menjaga hati agar tidak diperbudak oleh kenikmatan dunia.

Seorang muslim yang zuhud tetap bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, bahkan menjadi kaya apabila Allah menghendaki. Namun, seluruh nikmat itu dipandang sebagai amanah yang harus dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagaimana ditegaskan Al-Manawi, hakikat zuhud bukanlah kosongnya tangan dari dunia, melainkan kosongnya hati dari ketergantungan kepada dunia. Ketika hati telah merdeka dari kerakusan, seseorang akan lebih mudah bersyukur, berbagi, dan menjalani hidup dengan tenang. Inilah makna zuhud yang sejati menurut ajaran Islam. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *