Ragam  

Wayang Potehi, Sempat Dilarang Orde Baru, Hidup Kembali Sejak Era Gus Dur

Wayang China yang disebut Wayang Potehi.

Sukoharjonews.com – Wayang Potehi berasal dari Provinsi Fujian, China. Ada beberapa versi cerita asal mula munculnya wayang Potehi yang mengatakan bahwa wayang potehi berasal sejak Dinasti Ming. Dalam buku “Wayang Potehi: Chinese Peranakan Performing Arts in Indonesia” terbitan 2014 yang ditulis Dwi Woro Retno Mastuti menyebutkan kesenian Wayang Potehi dikenal masyarakat Tiongkok pada abad ke-7 sampai dengan abad ke-9 semasa Dinasti Tang.


Menurut buku tersebut dijelaskan terdapat dua versi munculnya wayang potehi. Pertama dibuat oleh seorang pelajar bernama Liang Bing Lin yang berkali kali gagal ujian berdoa di kelenteng Xian Gong Miao yang dekat dengan danau Jiu Li, Fujian.

Konon Liang Bing bermimpi dihampiri seorang tua yang menuliskan di telapak tangannya “gongming gui zhangshang” yang artinya kemashuran muncul dari telapak tangan. Liang Bing yang merasa mimpinya merupakan tanda bahwa dia akan lulus, menjadi sangat kecewa ketika ternyata dia tetap tidak lulus.

Untuk melipur kesedihannya dia pulang ke kampung dan memainkan boneka-boneka kecil yang dimainkan dengan telapak tangannya. Kepandaiannya bercerita dan menyusun kata kata mampu membuat pertunjukan boneka yang dimainkannya menjadi sangat termashur. Setelah itu Liang Bing baru menyadari makna mimpinya.

Cerita yang lain menyebutkan bahwa wayang potehi dibuat oleh lima tahanan yang dijatuhi hukuman mati. Di penjara mereka tidak mau menghabiskan hidupnya dengan bersedih. Mereka menghibur diri dengan membuat pertunjukan sederhana berupa boneka diiringi musik yang dibuat dari bahan sederhana yang mereka temukan di penjara. Bunyi-bunyian akhirnya sampai ke telinga sang kaisar yang akhirnya menghadiahi mereka kebebasan.

Adapun Potehi berasal dari kata “pou” yang artinya kain, “te” atau kantong dan “hi” berarti wayang, sehingga bisa diartikan sebagai boneka wayang yang terbuat dari kain—meski beberapa bagiannya terbuat dari kayu. Untuk memainkannya sang dalang memasukkan jari-jarinya ke dalam boneka yang menyerupai kantong dan menggerakkan boneka wayang sesuai lakon dan iringan musik.


Wayang Potehi masuk Indonesia salah satunya dikembangkan oleh Tok Su Kwei, asal Coan-Ciu, Provinsi Fujian, China yang merantau ke Nusantara pada 1920-an. Ia memilih tinggal di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di tempat asalnya, Tok Su Kwei adalah dalang wayang potehi. Saat merantau membawa semua alat perlengkapan pertunjukan yang dibutuhkan, lalu mendirikan grup wayang Potehi yang diberi nama Fu He Han yang artinya rezeki dan selamat.

Pada perjalanan sejarahnya, wayang potehi tidak semulus kisah atau lakon yang dimainkan. Tak lama setelah grup wayang potehi Fu He Han mendapat tempat di hati warga Jombang dan sekitarnya. Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1967 yang membatasi segala kegiatan yang berhubungan dengan Negara Tiongkok yang berhaluan komunis.

Keputusan dikeluarkan mengingat telah terjadi peristiwa berdarah yang dinamakan Gerakan 30 September atau G30S yang menurut versi Orde Baru didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Maka segala yang berbau komunis dan kebudayaan Tiongkok dilarang di Indonesia. Keppres tersebut menjadi “tiket kematian” bagi wayang potehi.

Baru pada masa pemerintah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lewat Instruksi Presiden No 6 Tahun 2000 membebaskan masyarakat Tionghoa untuk mengekspresikan budayanya dan menyatakan bahwa budaya Tionghoa telah menjadi bagian dari budaya nasional Indonesia.


Meski begitu, tidak mudah bagi wayang potehi untuk bangkit kembali. Seperti Toni Harsono misalnya. Pimpinan grup Wayang Potehi Fu He Han Jombang dan merupakan cucu dari Tok Su Kwei, ini merasa prihatin dengan kondisi wayang potehi yang dirintis mendiang kakeknya. Kini, ia dengan sekuat tenaga perlahan menghidupkan kembali semarak wayang potehi yang pernah jaya ini.

Diawali dengan mengumpulkan wayang tua yang tersebar dimana-mana dan membeli wayang potehi baru buatan perajin beserta alat musiknya. Apa yang dibutuhkan siap untuk menyediakan demi grup wayang potehinya bisa bangkit kembali.

Niat baiknya sebagai “maesenas” atau patron ternyata mendapat sambutan baik dari beberapa perusahaan besar di antaranya PT. Marimas Putera Kencana (Marifood) Semarang. Perusahaan tersebut telah membantu menyediakan alat transportasi agar kelompok wayang potehi yang dipimpin Toni Harsono ini bisa berkeliling pentas dengan mudah.

Dalam grup Wayang Potehi Fu He Han Jombang terdapat seorang dalang bernama Ki Widodo Potehi. Ia mengaku tidak memiliki darah Tionghoa dan mulai berkenalan dengan wayang potehi sejak kecil karena tinggal di belakang sebuah klenteng di kota kelahirannya, Blitar. Kala itu, ia kerap diminta membantu berbagai kegiatan untuk klenteng.

Widodo lalu diizinkan belajar mendalang. Setelah menikah dan menetap di Jombang, Widodo pun bergabung dengan wayang potehi. Kini, ia menjadi salah satu dalang wayang potehi ternama dan kerap diminta manggung saat Imlek di Jakarta dan luar negeri seperti Belanda dan Perancis. (sapta nugraha/mg)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.