Ragam  

Viral Tilang Etle di Area Persawahan, Kapolres Sukoharjo Minta Maaf, Berikut Ini Statement Lengkapnya

Kapolres Sukoharjo, AKBP Wahyu Nugroho Setyawan berbincang dengan Parno, sosok viral yang terkena tilang Etle di persawahan, Kamis (23/6/2022).

Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Terkait kasus tilang Etle Satlantas Polres Sukoharjo yang ramai di media sosial, Kapolres Sukoharjo, AKBP Wahyu Nugroho Setyawan memberikan penjelasan. Kapolres meminta maaf jika hasil dari penilangan Etle menimbulkan polemik di masyarakat khususnya media sosial.


“Pertama, kami dari Polres Sukoharjo menyampaikan permohonan maaf apabila terkait hasil dari penilangan Etle menimbulkan polemik di masyarakat khususnya di media sosial,” ujar Kapolres, Kamis (23/6/2022).

Kapolres juga menyampaikan terimakasih atas berbagai kritik dan saran dari masyarakat karena hal itu merupakan input bagi Polres untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Terkait kasus tilang Etle tersebut, Kapolres menjelaskan jika kondisi geografis di Sukoharjo dimana 43% nya terdiri dari wilayah persawahan sehingga sawah ada di tengah-tengah kota, seperti di sekitar Polres, Pemda, DPRD, dan lainnya yang dikelilingi sawah.

“Jadi sawah itu bukan berarti jauh dari perkotaan, artinya jalan-jalan diantara sawah ini ada jalan aspal yang menghubungkan antara jalan protokol,” jelasnya.

“Bukan berarti itu jalan di perkampungan yang jauh dari perkotaan. Kemudian, dari gambar Etle, bapak-bapak pengendara sepeda motor ini lebih jelasnya adalah sedang melewati jalan penghubung tadi. Beliau juga mengenakan pakaian batik, celana panjang dan pengakuannya sepulang dari takziah”.

Menurutnya, meski dalam latar belakang ada di persawahan, bukan berarti yang bersangkutan sedang berada disawah. “Memang beliau adalah petani tapi saat ini tidak sedang turun ke sawah,” jelasnya.

Kapolres juga menjelaskan soal Etle mobile dimana petugas lalu lintas Polri, selain ada kamera Etle statis di sejumlah titik jalan protokol juga dilengkapi dengan Etle mobile yang bisa diletakkan di helm petugas.

Selain itu, juga bisa menggunakan kamera handphone yang dilengkapi dengan aplikasi Etle sehingga tilang petugas terhadap berbagai pelanggaran lalu lintas tidak hanya berdasar Etle Statis tapi sudah bisa menggunakan Etle mobile.

“Untuk mengurangi interaksi antara petugas dengan pelanggar sehingga penerapan Etle bisa meningkatkan efektivitas dalam rangka penegakan hukum lalu lintas,” kata AKBP Wahyu.


Terlebih lagi, ujarnya di tahun 2021 lalu area persawahan sering terjadi kecelakan dimana ada 21 kejadian kecelakaan di jalan-jalan penghubung dan mengakibatkan enam orang meninggal dunia. Kemudian, di 2022, Januari-Mei sudah ada 10 kejadian dan tiga meninggal dunia, artinya di jalan-jalan tersebut berpotensi terjadi lakalantas dengan fatalitas tinggi sehingga pengendara meninggal dunia.

Secara yuridis dijelaskan, bahwa Pasal 291 ayat 2 merupakan aturan yang merujuk pada kedisiplinan setiap pengendara motor dalam menggunakan alat keselamatan saat berkendara. Jika ada penumpang yang melanggar aturan ini, tentu saja bisa kena tilang bahkan ditindak pidana sesuai pasal yang berlaku.

Hal tersebut sudah tertuang dalam UU No.22 thn 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang menyebut bagi pengendara yang tidak sesuai aturan alias melanggar bisa kena denda hingga kurungan.

“Setiap pengemudi yang membiarkan penumpangnya yang tidak memakai helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu”

“Artinya, tidak ada pengecualian sehingga pengendara wajib mengenakan helm standar demi keselamatan saat berkendara,” ujarnya.

Kapolres juga menambahkan, bahwa yang bersangkutan (pria yang tertilang) sudah menemui petugas Satlantas Polres Sukoharjo, untuk mengakui pelanggaran yang telah dilakukannya dan membayar denda tilang melalui sistem BRIVA yang telah ditentukan.

“Sudah dikonfirmasi. Yang bersangkutan juga mengakui kesalahannya. Ia mengaku waktu tertangkap Etle itu sedang kembali dari takziah,” jelasnya.

Sementara itu, Parno-pengendara yang terkena tilang mengakui saat itu kaget mendapat kabar dari anaknya dia dapat surat tilang. Namun, dia mengakui saat itu baru saja pulang dari takziah.

“Saya kaget kok dapat kiriman surat dari kantor pos. Tetapi memang saya sudah membayar denda itu karena tidak membawa helm,” katanya.

Dalam kesempatan itu Parno kemudian mengajukan permintaan pada Kapolres untuk dibantu perpanjangan SIM.
“Saya nanti dibantu perpanjangan SIM lo pak,” pinta Parno dan disanggupi Kapolres. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.