
Sukoharjonews.com – Shalat Dhuha disebut pula dengan shalat awwabin (shalat orang yang kembali kepada Allah). Shalat Dhuha memiliki berbagai keutamaan. Lalu berapa jumlah rakaat shalat Dhuha yang dianjurkan dan kapan waktu afdalnya?
Dikutip dari Rumaysho, Jumat (7/11/2025), berikut ini anjuran untuk shalat Dhuha:
Hadits #391
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: (كَانَ رسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم يُصَلِّي الضُّحى أَرْبَعاً، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله). رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan menambah seperti yang dikehendaki oleh Allah.” (HR. Muslim). [HR. Muslim, no. 719, 79]
Hadits #392
وَلَهُ عَنْهَا: أَنَّها سُئِلَتْ: «هَلْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم يُصَلِّي الضُّحَى؟»، قَالَتْ: «لاَ، إلاَّ أَنْ يَجيء مِنْ مَغِيبِهِ».
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia ditanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukan shalat Dhuha?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali apabila beliau pulang dari safarnya.” [HR. Muslim, no. 717]
Hadits #393
وَلَهُ عَنْهَا: «مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ، وَإنِّي لأُسَبِّحُهَا».
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan, “Aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha dengan tetap rutin, tetapi sungguh aku melakukannya dengan tetap rutin.” [HR. Bukhari, no. 1128, 1177]
Faedah hadits
1. Dhuha adalah waktu setelah matahari meninggi hingga mendekati waktu zawal (mendekati Zhuhur). Shalat Dhuha disebut pula dengan subhah adh-dhuha. Shalat sunnah disebut dengan subhah.
2. Hadits ini menunjukkan disyariatkannya shalat Dhuha dan hukumnya adalah sunnah muakkad karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, mewasiatkan kepada Abu Hurairah untuk menjaganya, begitu pula kepada Abu Dzarr dan Abud Dardaa’. Walaupun wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat, tetapi wasiat ini berlaku untuk umat seluruhnya, bukan khusus untuk yang diwasiati. Begitu pula ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang atau memerintah, maka hukumnya itu umum kecuali ada dalil pengkhususan. Maka dalil shalat Dhuha adalah berdasarkan ucapan dan praktik.
3. Shalat Dhuha ini disunnahkan secara mutlak, artinya boleh dirutinkan setiap hari.
4. Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Al-Fatawa (22:284) berpandangan bahwa yang sudah rutin shalat malam (qiyamul lail) tidak disunnahkan lagi shalat Dhuha. Sedangkan yang tidak memiliki kebiasaan shalat malam, hendaklah ia melakukan shalat Dhuha.
Namun, pendapat paling kuat, shalat Dhuha bisa dilakukan rutin setiap hari berdasarkan hadits berikut ini.
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat” (HR. Muslim, no. 720).
5. Apa yang tidak dilihat oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha terkait shalat Dhuhanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan berarti shalat Dhuha itu tidak ada. Berdasarkan riwayat sahabat lain, shalat Dhuha tetap ada dan kita tetap boleh mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibicarakan dalam hadits lain.
6. Shalat Dhuha itu sangat dianjurkan (muakkad). Rakaat minimalnya ada dua rakaat, yang sempurna adalah delapan rakaat, di tengah-tengahnya adalah empat atau enam rakaat. Demikian pendapat ulama Syafiiyah yang dikemukakan oleh Syaikh Az-Zuhaily.
7. Waktu shalat Dhuha dalam pandangan madzhab Syafii, waktunya dari matahari meninggi hingga waktu zawal (matahari tergelincir). Waktu ikhtiyar (pilihan) adalah ketika telah lewat seperempat siang. (nano)















Facebook Comments