Penting untuk Diketahui, Berikut Ini Penjelasan Shalat Qadha, Jahriyyah atau Sirriyah?

banner 468x60
Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Berikut keterangan tentang shalat qadha, apakah termasuk jahriyah (nyaring) atay sirriyah (lirih)? Sejatinya, shalat terbagi menjadi dua kategori, yaitu shalat sirriyah dan shalat jahriyyah. Shalat sirriyah merupakan sholat yang dilakukan dengan melirihkan bacaan al-Qur’an, sehingga hanya didengar oleh diri orang yang shalat. Sholat Dzuhur dan ashar masuk dalam kategori ini.

Dilansir dari Bincang Syariah, Rabu(1/7/2026), sedangkan shalat jahriyyah merupakan sholat yang dilakukan dengan mengeraskan bacaan al-Qur’an, sehingga dapat didengar orang-orang disekitarnya, seperti sholat Subuh, Maghrib, dan Isya’.

Adanya bacaan shalat sirriyah dan jahriyyah ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

فِي كُلِّ صَلاَةٍ يقْرَأُ ، فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ ، وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ

“Setiap shalat ada bacaan yang dibaca. Apa yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam perdengarkan kepada kami (mengeraskan bacaan) maka kami perdengarkan kepada kalian. Apa yang beliau samarkan kepada kami (melirihkan bacaan)maka kami samarkan pula kepada kalian.” (HR. Bukhari no. 772 dan Muslim no. 396).

Membaca pelan dan keras dalam bacaan sholat ini hukumnya sunnah. Sehingga diperbolehkan tidak mengikuti ketentuan ini, meskipun berarti ia telah melakukan kemakruhan sebab tidak melakukan kesunnahan. Kesunnahan ini tidak hanya berlaku pada imam saja, namun juga berlaku bagi orang yang melakukan sholat dalam keadaan sendirian (munfarid).

Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

فالسنة الجهر في ركعتي الصبح والمغرب والعشاء وفى صلاة الجمعة والاسرار في الظهر والعصر وثالثة المغرب والثالة والرابعة من العشاء وهذا كله باجماع المسلمين مع الاحاديث الصحيحة المتظاهرة علي ذلك هذا حكم الامام وأما المنفرد فيسن له الجهر عندنا وعند الجمهور

“Disunnahkan membaca dengan suara keras pada dua rakaatnya shalat subuh, maghrib, isya’ dan shalat Jumat. Dan disunnahkan membaca pelan pada shalat zuhur dan ashar serta rakaat ketiga dan keempat pada shalat maghrib dan isya’. Semua ketentuan ini sesuai dengan kesepakatan para ulama seiring adanya hadits-hadits sahih yang menjelaskan tentang hal ini. Keseluruhan hukum di atas berlaku bagi imam.

Adapun bagi orang yang melaksanakan shalat sendirian, tetap disunnahkan baginya mengeraskan bacaan menurut mazhab kita (Syafi’i) dan mayoritas ulama dalam mazhab lain” (Syekh Abu Zakaria Yahya an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal. 389).

Merujuk dalam kitab tersebut, maka diketahui bahwa para ulama sepakat untuk mengeraskan bacaan salat dalam dua rakaatnya salat Subuh, Maghrib, dan Isya, dan melirihkan bacaan sholat dalam sholat dhuhur dan ashar serta rakaat ketiga dan keempat pada shalat maghrib dan Isya’. Namun bagaimana jika sholat tersebut adalah sholat qodho’? sedangkan kebanyakan orang melaksanakan sholat qodho’ tidak pada waktunya.

Shalat qadha’ merupakan sholat yang dilaksanakan diluar waktu yang ditetapkan. Pelaksanaan shalat qadha’ dikerjakan pada saat seseorang ingat atau sadar bahwa ia telah melewatkan sholat fardhu dari waktunya. mengenai kesunnahan dalam mengeraskan atau melirihkan bacaan al-Qur’an dalam shalat qadha’ ini, disebutkan dalam kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain:

)تنبيه( يسن الجهر بالقراءة لغير مأموم في صبح وأوليي العشاءين وجمعة وفيما يقضي بين غروب الشمس وطلوعها

“Disunnahkan untuk mengeraskan bacaan bagi selain makmum didalam shalat subuh, dua rakat awal shalat isya’, shalat jum’at, shalat yang di qadha’ di antara waktu tenggelam dan terbitnya matahari” (Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain, hal. 108).

Maka kesunnahan membaca keras juga berlaku dalam shalat qadha’ yang dilaksanakan di waktu antara tenggelamnya matahari sampai terbitnya matahari, begitu juga sebaliknya. Hal ini karena yang menjadi pedoman kesunnahan membaca keras ataupun lirih adalah pada saat waktu pelaksanaan shalat qadha’ tersebut dilakukan, bukan waktu asal waktu sholat tersebut ketika ada’.

Seperti contoh ketika seseorang mempunyai qadha’ sholat ashar, kemudian melaksanakan sholatnya ketika matahari tenggelam, maka sholat ashar yang asalnya sirriyah (sunnah dibaca lirih) menjadi jahriyah (sunnah dibaca keras). Karena seseorang tersebut melaksanakan sholat qadha’ di waktu sholat yang disunnahkan dibaca keras, yaitu diantara tenggelamnya matahari sampai terbitnya matahari. Tetapi ketentuan ini mengecualikan sholat dua hari raya. Dalam shalat dua hari raya, maka tetap dibaca jahr (keras) secara mutlak. Hal ini sebagaimana dalam kitab Hayiah I’anah al-Thalibin:

وأما فيما يقتضي بعد طلوع الشمس فيسر فيه، ولو كانت جهرية .وذلك لأن العبرة بوقت القضاء لا الأداء على المعتمد .إلا في صلاة العيدين فإنه يجهر بها مطلقا عملا بأصل أن القضاء يحكى الأداء، ولأن الشرع ورد بالجهر فيها في محل الإسرار، فيستصحب.

“Adapun sholat yang diqadha’ setelah terbit matahari, maka disunnahkan untuk membaca lirih didalamnya, meskipun shalatnya termasuk jahriyah.Yang demikian karena menurut Qaul Mu’tamad, yang menjadi patokan adalah pada waktu qadha’ bukan waktu ada’. Kecuali dalam sholat dua hari raya maka tetap disunahkan untuk mengeraskan suara secara mutlak, sebab mengamalkan hukum asal yang mengatakan bahwa hukum qadha’ mengikuti hukum ada’. Selain itu, syari’at telah menetapkan hukum jahr (sunnah dibaca keras) dalam dua sholat hari raya yang dilaksanakan pada tempat kesunnahan dibaca lirih, maka kesunnahan ini juga berlaku pada waktu qadha’”. (Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad Dimyathi, Hasyiah I’anah al-Thalibin, Juz 1, hal. 179).

Wallahu a’lam bisshawab. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *