Ragam  

Mengulik Jejak Perjuangan Komandan “Lasker Kere” Mayor Achmadi

Slamet Riyadi dan Achmadi Hadisoemarto, komandan Laskar Kere. (Foto: Historia)

Sukoharjonews.com – Nama tokoh satu ini sudah cukup familiar di telinga masyarakat. Ya, Mayor Achmadi yang acapkali kita lihat dijadikan nama jalan. Seperti di Kabupaten Sukoharjo dimana nama Jalan Mayor Achmadi digunakan diselah timur Tugu Bendo Bekonang, Kecamatan Mojolaban. Nama jalan tersebut membentang ke timur hingga pertigaan Sidan.


Sudah jamak di Indonesia bahwa nama jalan adalah tokoh-tokoh nasional atau para pahlawan Kusuma Bangsa. Generasi muda saat ini mungkin belum banyak yang tahu mengenai jejak perjuangan Mayor Achmadi hingga menjadi nama sebuah jalan.

Nah, menurut buku sejarah “Peranan Pelajar dalam Perang Kemerdekaan” yang terbit 1986 menyebutkan bahwa Mayor Achmadi lahir di Ngawi 5 Juni 1927 dengan nama lengkap Achmadi Hadisoemarto. Pada usia 14 tahun sudah bergabung dengan barisan Tentara Pelajar. Didikan orang tua dan lingkungan yang melingkupinya membentuk Achmadi sosok remaja yang penuh patriotisme. Nilai patriotisme plus leadership yang kuat membawa Achmadi menjadi komandan laskar pelajar pada usia 18 tahun.

Laskar pelajar ini gabungan dari pelajar tingkat SMP dan SMA untuk tingkatan pendidikan sekarang. Hebatnya laskar pelajar ini masih mengikuti wajib belajar di sekolah. Pagi sekolah dan sepulang sekolah langsung ikut berjuang bertaruh nyawa. Sesuatu yang sulit dibayangkan pada generasi millenial sekarang.


Laskar pelajar tersebut kerap disebut “Laskar Kere” karena penampilan mereka yang memakai pakaian seadanya. Penyematan Laskar Kere juga berasal dari Mayor Achmadi sendiri. Ketika ditanya salah satu Komandan TKR, “Kalian laskar apa?” Achmadi menjawab, “Laskar Kere, Pak, melarat tapi tidak kalah semangat.”

Laskar Kere atau Laskar Pelajar kerap juga disebut Tentara Pelajar dan terlibat langsung pada pertempuran yang dikenal sebagai “Serangan Umum Empat Hari” di Solo saat Agresi Militer Belanda II yang terjadi pada 7-10 Agustus 1949. Pertempuran tersebut merupakan serangan gabungan dari Detasemen TP Brigade XVII pimpinan Mayor Achmadi Hadisoemarto dan Brigade V/ Panembahan Senopati pimpinan Letkol Slamet Riyadi yang menjadi tokoh kunci dalam menentukan jalannya pertempuran.

Menurut catatan sejarah, serangan itu digagas di kawasan Monumen Banjarsari Solo. Untuk menyusun serangan, para pejuang berkumpul di Desa Wonosido, Kabupaten Sragen dari situlah ide untuk melakukan serangan umum dikobarkan.

Untuk menggempur Markas Belanda, serangan dilakukan dari empat penjuru Kota Solo. Rayon I dari Polokarto dipimpin Suhendro, Rayon II dipimpin Sumarto. Sementara itu Rayon III dengan Komandan Prakosa, Rayon IV dikomandani A. Latif, serta Rayon Kota dipimpin Hartono.


Pertempuran ini cukup menggoyahkan keyakinan Parlemen Belanda atas kinerja tentaranya yang gagal mempertahankan Kota Solo. Hal itu memaksa Perdana Menteri Belanda mengakomodasi tuntutan Delegasi Indonesia sebagai syarat sebelum mereka bersedia menghadiri Konferensi Meja Bundar.

Karena tak meninggalkan bangku sekolah saat berjuang, Tentara Pelajar me
miliki pengetahuan yang cukup. Termasuk Mayor Achmadi yang dikenal sebagai pemimpin yang heroik karena kemampuan dan kecakapannya. Tak heran Presiden Soekarno pada era Kabinet Dwikora mengangkatnya menjadi Menteri Penerangan RI.

Mayjen TNI (Pur) Achmadi Hadisoemarto wafat pada 2 Januari 1984 dan dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta. Sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya, Pemkot Solo membangun Patung Mayor Achmadi yang diresmikan pada 7 Agustus 2010 bertepatan dengan peristiwa Pertempuran Empat Hari di Solo.


Patung Mayor Acmadi berdiri gagah di Jalan Abdul Rahman Saleh, Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo atau di sebelah utara SMPN 4 Solo.

Patung Mayor Achmadi memegang buku di tangan kiri dan senjata di tangan kanan. Ini menunjukkan bahwa pelajar itu dalam berjuang yang paling utama adalah menuntut ilmu dengan sebaik- baiknya. Senjata menunjukkan hal kondisional.

Hal itu karena berada pada era revolusi maka senjata adalah wahana kondisional saat ini. Wahana utama dalam kehidupan pelajar adalah mengembang minat bakat secara optimal pun tentang soft skill yang mendukungnya. Tentunya, generasi penerus utamanya pelajar diharapkan dapat meneladani perjuangan Mayor Achmadi tersebut. (sapta nugraha/mg)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.