Mengintip Produk Sepatu Kulit Produksi UMKM Klaten

Sepatu kulit produk UMKM Desa/Kecamatan Karanganom, Klaten, (Foto: Pemkab Klaten)

Sukoharjonews.com (Klaten) – Salah satu produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari Kabupaten Klaten adalah produk sepatu kulit. Meski produk lokal, sepatu kulit produksi UMKM di Dukuh Babadan, Desa Karangamo, Kecamatan Karanganom, Klaten ini cukup dikenal karena memiliki kualitas yang baik.


Salah satu produk UMKM sepatu kulit di desa tersebut adalah merek “Twentino Shoes” dimana sepatu kulit produksinya menggunakan kulit sapi dengan kualitas bagus.

Pemilik UMKM sepatu kulit “Twentino Shoes:, Tantia Nindi Pramesti menuturkan bahwa usaha sepatu kulit miliknya sudah ada sekitar 20 tahun lalu dan merupakan usaha turun temurun.

“Nama Twentino itu bermula dari angka kesukaan bapak yaitu Twenty atau 20, kalau No nya itu dari nama bapak (Ayahnya Nindi) yaitu Hadi Prayitno jadi diambil No di belakang dan di gabung akhirnya menjadi Twentino,” jelasnya, dikutip dari laman Pemkab Klaten, Sabtu (25/6/2022).

Nindi, 29, menyampaikan produk yang dihasilkan Twentino beragam mulai sepatu pantofel, boots, slop beskap, sandal yang tentunya semua produknya terdiri dari berbagai ukuran untuk perempuan (36-42) dan laki-laki dewasa (38-45).

Soal harga, Nindi menjelaskan mulai dari Rp120 ribu hingga Rp 400 ribu. Meski harganya terbilang murah untuk sebuah sepatu kulit, Nindi mengaku tetap mempertahankan kualitas yang bagus dan proses pengerjaannya pun masih menggunakan teknik turun temurun.

Selama ini, dalam pekerjaannya, Twentino juga memproduksinya sendiri mulai dari membuat pola hingga finishing dan dibantu dengan enam orang pekerja. “Alat pembuatan sepatu masih tradisional, oven pun masih tradisional, dan mesin yang digunakan standar untuk membuat sepatu,” jelasnya.

Nindi juga mengatakan, dalam sehari Twentino mampu menghasilkan 30 pasang sepatu kulit sapi dengan pemilihan bahan yang berkualitas dan pengerjaan yang teliti.

Saat ini, Twentino sudah memiliki reseller di Yogyakarta dan produknya juga telah merambah hingga luar pulau Jawa. Mulai dari Kalimantan dan Bengkulu. Selama ini, untuk pemasaran sendiri selain membuka toko di tempat produksi, juga menjualnya secara online dengan menggunakan media sosial, baik Instagram maupun Facebook.

“Kita ingin lebih mengembangkan usaha dengan mengikuti model, meskipun saat ini terkendala kekurangan karyawan. Selama ini kami tidak mau sembarangan mencari karyawan karena lebih memperhatikan hasil atau menambah kualitasnya dan lebih berkembang, bersaing di pasar yang lebih besar lagi,” tambah Nindi. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.