
Sukoharjonews.com – Beberapa waktu lalu sempat ramai tentang khodam dalam konten-konten media sosial. Bahkan jika sang kreator disawer dengan gift, maka ia bisa membacakan khodam lebih jelas dan lengkap. Lantas, siapakah khodam yang dimaksud tersebut? Nah berikut mengenal apa itu khodam lebih dekat.
Dilansir dari Bincang Syariah, Jumat (12/6/2026), dalam dunia Islam, khodam adalah berasal kata kata dari khodama-yakhdumu-khodim yang memiliki arti pembantu. Pembantu disini memiliki makna luas, seperti pembantu rumah tangga, pembantu kantor, atau pembantu lainnya. Namun tren yang lagi digandrungi banyak orang adalah sosok pembantu yang bisa mendeteksi kekuatan irasional yang berasal dari bangsa ghaib, dalam istilah jawa sering disebut perewangan.
Sejak zaman dahulu, umat manusia telah membangun kepercayaan berdasarkan hal-hal ghaib seperti mitos, keyakinan, budaya, dan ritual. Kepercayaan-kepercayaan ini bukan hanya dijadikan sebagai keyakinan semata, tetapi juga menjadi bagian yang hidup berdampingan dan kadang-kadang menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam buku “Menguak Dunia Jin dan Khodam” disebutkan bahwa khodam itu bisa didapatkan dari bangsa malaikat dan jin. Khodam yang berasal dari bangsa malaikat itu tidak didapat dari menulis nama di kolom komentar salah satu platform media sosial, tetapi didapatkan melalui cara-cara yang disyariatkan oleh agama Islam seperti rajin membaca Al-Qur’an, kuat berdzikir, atau melaksanakan riyadhah.
Itulah sistem perlindungan yang diberikan Allah kepada manusia yang seharusnya berlaku sepanjang hidup, selama fitrah manusia tetap utuh. Namun, karena fitrah ini kadang diubah oleh manusia sendiri, tercemar oleh keinginan hawa nafsu dan kekeruhan pikiran, akibatnya mata hati yang awalnya jernih menjadi tertutup oleh dosa-dosa dan sifat-sifat yang tidak terpuji. Akibatnya, sistem perlindungan tersebut mengalami perubahan.
Adapun khodam yang berasal dari bangsa jin, tidak semuanya beriman pada Allah. Sebab jin tersebut ada yang muslim dan ada juga yang kafir. Jin yang kafir inilah yang tidak mengimani Allah dan mempunyai tujuan untuk menyesatkan manusia dan mengajak manusia dari cahaya menuju kegelapan. Khodam yang menyesatkan ini yang sering digunakan oleh ahli sihir. Dalam Q.S Al-Jin disebutkan:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin: 6)
Menurut kepercayaan sebagian masyarakat, khodam yang berasal dari jin itu dapat memberikan kekuatan atau kemampuan yang melampaui batasan manusia biasa. Bagi masyarakat Jawa, khususnya kaum spiritual, hal ini sangat dipahami dan dihargai, karena dapat berfungsi sebagai sumber energi untuk menemani setiap aktivitas mereka, serta sebagai sarana komunikasi dengan hal-hal ghaib. Selain itu, bantuan ini juga bisa dijadikan sebagai pendukung atau sarana pertolongan dalam berbagai situasi.
Berdasarkan penelitian kajian aqidah dan filsafat Islam di Kudus, ada tiga pandangan mengenai hukum seseorang yang memiliki khodam. Pertama, ada yang mengatakan hal tersebut haram. Kedua, ada yang bersikap netral. Ketiga, ada yang menilai positif jika keberadaan jin yang muslim tersebut mendukung ibadahnya, seperti membantu mengobati orang lain atau menjaga keamanan.
Intinya, jika khodam tidak menyimpang dari ajaran Islam dan mengajarkan hal-hal yang baik, maka dianggap positif. Namun, jika keberadaan khodam malah membuat manusia menjauh dari ajaran agama, seperti menjadi sombong, dengki, takabur, musyrik, atau tergoda oleh harta sehingga memanfaatkan khodam untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama, maka hal tersebut adalah haram. Sebagaimana penegasan Allah dalam Q.S Shad:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ
“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (manusia dan jin), (dan Allah berfirman) :
“Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,” lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia : “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami (manusia) telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain (jin) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman “Neraka itulah tempat tinggal kamu semua, sedang kamu semua kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)” (QS. Shad: 55).
Ayat di atas merupakan larangan dari Allah untuk membuat kesepakatan dengan jin, karena setiap muslim seharusnya hanya meminta pertolongan dan bergantung kepada Allah. Allah adalah satu-satunya tempat meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta bantuan pada jin khodam atau sejenisnya hanya akan membuat seseorang semakin tersesat dan menggoyahkan akidahnya. (nano)















Facebook Comments