Yang Belum Tahu, Berikut Ini Penjelasan tentang Hukum Menyewa Tanah Kuburan

banner 468x60
Ilustrasi.

Sukoharjonews.com – Dalam artikel ini akan membahas bagaimana hukum menyewa tanah kuburan untuk mengubur mayit? Persoalan ini pada biasanya terjadi di daerah perkotaan yang hingga saat masih sering terjadi.

Dilansir dari Bincang Syariah, Rabu (22/7/2026), fenomena menyewa tanah kuburan merupakan fenomena yang terjadi di beberapa negara di dunia, termasuk di Indonesia. Fenomena ini terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya, Peningkatan jumlah penduduk. Jumlah penduduk di dunia terus meningkat, termasuk di Indonesia. Hal ini menyebabkan kebutuhan lahan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk pemakaman, juga meningkat.

Dalam kondisi tersebut, berdampak kepada sulitnya tanah untuk menguburkan jenazah. Dan menuntut bagi yang ingin menguburkan jenazah keluarganya agar menyewa tanah. Lantas bagaimana hukumnya dalam Islam?

Menyewa Tanah Kuburan
Menurut ulama Syafi’iyah, hukum menyewa tanah untuk kepentingan pemakaman mayit dalam Islam hukumnya adalah boleh. Terlebih di daerah perkotaan yang terkadang tanah wakaf untuk pemakaman terbatas. Penjelasan di atas terdapat dalam kitab Jawahir al-Ukud, juz I, halaman 211. Berikut redaksinya:

ولا يجوز الإستئجار للعبادات اللتي لا تنعقد إلا بالنية….ويجوز لتجهيز الميت ودفنه وتعليم القرآن.

“Dan tidak boleh sewa-menyewa untuk perihal ibadah-ibadah yang memerlukan niat….Dan boleh sewa-menyewa untuk mengurus mayit dan menguburkan mayit dan mengajarkan Al-Qur’an.”

Lebih jauh lagi, Imam Nawawi secara tegas membolehkan menyewa tanah dengan kepentingan menguburkan mayit. Berikut penjelaskannya dalam kitab Nihayat al-Muhtaj, juz V, halaman 292:

(وتصح) الإجارة لكل ما لا تجب له نية كما أفهمه كلامه….فتصح لتحصيل مباح كصيد (ولتجهيز ميت ودفنه).

“(Sah) hukumnya menyewa sesuatu yang tidak wajib niat sebagaimana kalamnya beliau yang memahamkan….maka sah menyewa sesuatu untuk memperoleh hal yang diperbolehkan seperti memburu (dan untuk mengurus mayit dan menguburkan mayit).”

Namun, ada pendapat lain yang tidak membolehkan menyewa tanah untuk mengubur mayit. Salah satu yang berpendapat demikian adalah Imam Al-Baghowi. Beliau berpendapat bahwa tidak boleh menyewa tanah untuk mengubur mayit.

Alasannya yakni, tidak boleh menggali kuburan yang masih belum lusuh mayitnya. Hal ini dalam konteks tanah yang disewa memang tanah kuburan. Jadi harus menunggu lusuhnya mayit sebelumnya. Dan kelusuhan mayit tersebut tidak diketahui kapan waktunya. Itulah mengapa beliau tidak membolehkan.

Hal ini termaktub dalam kitab Nihayat al-Muhtaj, juz V, halaman 292:

قال البغوي لا يجوز استئجارالأرض لدفن ميت لأن نبش القبر لا يجوز قبل بلاء الميت ولا يعرف متى يكون.

“Imam Al-Baghowi berkata: Tidak boleh menyewa tanah untuk menguburkan mayit. Karena, menggali kubur tidak boleh sebelum lusuhnya mayit. Dan lusuhnya mayit tersebut tidak diketahui kapan.”

Dengan demikian, melihat situasi perkotaan yang sangat sukar dalam memiliki tanah untuk menguburkan mayit maka saya rasa lebih cocok mengikuti pendapatnya Imam Nawawi yang membolehkan menyewa tanah untuk menguburkan mayit. Dan pendapat Imam Al-Baghawi lebih cocok untuk daerah pedesaan.

Demikian penjelasan tentang hukum menyewa tanah kuburan demi kepentingan menguburkan mayit. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *