
Sukoharjonews.com – Pemkab Temanggung mendesain ulang Alun-Alun. Penataan kawasan alun-alun tersebut mengusung semangat gotong royong dan aspirasi masyarakat. Hal itu disampaikan anggota Tim Ahli dan Perencanaan Penyusun Feasibility Study (FS) Revitalisasi Alun-Alun Temanggung Paulus Bawole.
Dikutip dari laman Pemprov Jateng, Bawole mengatakan, kunci keberhasilan proyek bukan terletak pada besar kecilnya anggaran, tetapi pada inklusivitas dan kolaborasi antara masyarakat dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung.
“Alun-alun ini bukan miliknya Pak bupati, tapi milik masyarakat semuanya, dan digunakan juga untuk masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi landasan kuat bagi Tim Ahli untuk melibatkan berbagai pihak dalam proses perencanaan, mulai dari perangkat daerah, komunitas, hingga warga. Bawole menjelaskan, pelibatan masyarakat penting untuk merespons masalah dan kebutuhan nyata pengguna alun-alun, dari pedagang kaki lima hingga kelompok difabel dan lansia.
Ia menekankan pentingnya desain yang inklusif, agar Alun-Alun Temanggung dapat diakses dan dinikmati semua kalangan. Sebagai contoh, fasilitas guiding blocks (jalur pemandu bagi tunanetra) yang ada saat ini, dinilai belum berfungsi maksimal karena masih banyak yang “nabrak-nabrak.”
“Inklusif ini (artinya) bisa dipakai semua orang, bukan hanya yang sehat, tapi juga difabel, orang tua, orang-orang tertentu bisa juga menemukan (manfaatnya),” jelasnya.
Selain aspek inklusivitas, Bawole juga menyoroti pentingnya keberlanjutan dan penguatan ekonomi rakyat. Ia berharap revitalisasi ini mampu memperkuat perekonomian lokal, menjadikan alun-alun bukan hanya ikon kota, tetapi juga mesin penggerak ekonomi masyarakat sekitar.”
Dalam aspek keberlanjutan, Tim Ahli menekankan perlunya desain yang mempertimbangkan kemudahan dan biaya perawatan yang sederhana serta murah.
“Kalau pemeliharaannya sederhana dan murah, tentu bisa dilakukan dengan mudah,” ujarnya.
Bawole menambahkan, Alun-Alun Temanggung memiliki sejarah panjang, terekam sejak tahun 1970 hingga 2015, dengan fungsi yang terus berkembang, dari tempat bertemunya penguasa dan rakyat pada masa lalu, hingga kini menjadi ruang terbuka hijau dan ruang publik.
“Kita coba kembalikan alun-alun itu menjadi milik masyarakat,” tambahnya.
Ia juga menyebut alun-alun sebagai ruang publik, ruang terbuka hijau, identitas wilayah, sekaligus titik “nol kilometer” yang merekam perjalanan sejarah kota. (nano)















Facebook Comments