
Sukoharjonews.com (Jakarta) – Sebanyak enam kontrak rehabilitasi jaringan irigasi akan dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero). BUMN konstruksi tersebut mendapat kepercayaan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mengerjakan rehabilitasi jaringan irigasi di lima wilayah.
Program ini diproyeksikan mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Lima wilayah tersebut adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Riau, dan Sulawesi Utara.
EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, memaparkan proyek-proyek tersebut mencakup Rehabilitasi Jaringan Irigasi di BBWS Bengawan Solo Paket 1 dan 2, di BWS Sumatera III Paket 1 dan 2, serta masing-masing satu paket di BWS Sulawesi I dan BBWS Cimanuk Cisanggarung.
Proyek ini menjadi bagian dari Program Optimasi Lahan (OPLAH) yang mendukung target swasembada pangan sesuai Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pekerjaan dimobilisasi sejak 3 September 2025 dengan target rampung pada Desember 2025.
“Melalui rehabilitasi jaringan irigasi di lima wilayah strategis ini, Hutama Karya berperan langsung dalam meningkatkan efisiensi distribusi air untuk lahan pertanian, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” terang Adjib, dikutip dari laman KabarBUMN, Sabtu (6/9/2025).
Lebih lanjut, Adjib menjelaskan bahwa rehabilitasi mencakup perbaikan saluran primer, sekunder, tersier, serta pembenahan bangunan pengatur dan pergantian pintu air yang sudah rusak.
Total panjang saluran yang akan diperbaiki mencapai lebih dari 76.190 meter dengan cakupan area layanan lebih dari 10.702 hektare. Proyek ini diyakini akan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat di sejumlah kabupaten.
“Rehabilitasi ini bukan sekadar perbaikan infrastruktur, tetapi investasi strategis untuk masa depan ketahanan pangan Indonesia.”
“Dengan kondisi jaringan irigasi yang lebih baik, petani dapat mengoptimalkan intensitas tanam dan meningkatkan produktivitas lahan mereka,” tambah Adjib.
Dalam pengerjaannya, Hutama Karya berkomitmen menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) dan memanfaatkan teknologi konstruksi terkini agar pekerjaan sesuai standar kualitas dan selesai tepat waktu.
Selain itu, perusahaan juga menargetkan minimal 80% tenaga kerja yang terserap berasal dari masyarakat sekitar, sebagai upaya mendukung pemberdayaan ekonomi lokal.
Agar kegiatan pertanian tidak terganggu selama pelaksanaan proyek, Hutama Karya menyiapkan metode kerja adaptif dengan melakukan koordinasi intensif bersama petani, perangkat desa, dan berbagai pemangku kepentingan terkait.
Seluruh proyek rehabilitasi irigasi ini merupakan wujud implementasi Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2025. Tujuannya ialah meningkatkan produktivitas pertanian serta mempercepat tercapainya swasembada pangan sebagaimana tertuang dalam Asta Cita poin 2. Kegiatan ini didanai sepenuhnya melalui APBN 2025.
“Oleh kakarena itu kami akan menggarap proyek ini dengan sungguh-sungguh agar dampak positif peningkatan produktivitas pertanian nasional serta kesejahteraan petani di enam wilayah tersebut dapat segera terealisasi,” tambah Adjib. (nano)















Facebook Comments