
Sukoharjonews.com – Menunaikan ibadah haji merupakan setiap umat muslim di seluruh dunia. Di balik kesakralan dan keistimewaan Tanah Suci, banyak jamaah haji yang memiliki kebiasaan membawa pulang batu atau kerikil dari Makkah atau Madinah. Lantas apakah boleh membawa batu dari Makkah?
Dilansir dari Bincang Syariah, Sabtu (13/6/2026), tak bisa dipungkiri, ada banyak motif di balik kebiasaan membawa batu atau kerikil dari Tanah Suci. Bagi sebagian jamaah, hal ini merupakan simbol kenangan dan bukti nyata perjalanan spiritual mereka. Batu atau kerikil tersebut dianggap memiliki berkah dan dapat digunakan sebagai media doa dan zikir. Di sisi lain, ada juga jamaah yang membawanya untuk dijadikan souvenir atau hadiah bagi keluarga dan kerabat di tanah air.
Lantas apakah boleh para jamaah haji membawa batu atau kerikil dari dari Makkah atau Madinah untuk dibawa pulang haji?
Dalam literatur Islam tanah Makkah dan tanah Madinah merupakan kota yang mulia dan penuh keberkahan. Tak pelak, para jamaah haji kadang membawa batu, kerikil atau pun tanah Makkah Madinah guna diambil keberkahannya.
Memang banyak keistimewaan yang dimiliki kedua tanah tersebut. Allah Swt berfirman dalam beberapa ayat Al Qur’an mengisahkan keistimewaan tanah suci Makkah. Semisal dalam Surah An Naml ayat 91
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”
Dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran Ayat 96, Allah Swt juga berfirman bahwa kota Makkah merupakan kota yang tanahnya penuh dengan keberkahan:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ
Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Tanah madinah pun juga mendapat privilege (keistimewaan) dalam agama Islam. Rasulullah Saw dalam sebuah hadis pernah menyinggung terkait keistimewaan tanah Madinah. Semisal dalam hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu berikut:
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ ( قَالَ: { إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَالِأَهْلِهَا, وَإِنِّي حَرَّمْتُ اَلْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ، وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَابِمِثْلَيْ مَا دَعَا إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya:”Dari ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim mengharamkan kota Makkah dan mendoakan untuk penghuninya. Aku mengharamkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim mengharamkan kota Makkah. Aku mendoakan untuk sha’ dan mud-nya seperti yang didoakan Ibrahim untuk penghuni Makkah.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 2129 dan Muslim, no. 1360]
Terkait penjelasan hukum membawa batu atau kerikil dari dari Makkah atau Madinah untuk dibawa pulang haji, Al Alim Habib Abdurrahman bin Muhammad atau yang lebih dikenal dengan Sayyid Abdurrahman Ba’alawi telah menjelaskannya dalam kitab karya beliau Bughyah Al Mustarsyidin halaman 237 berikut:
فَائِدَةُ: قَالَ فِي شرح مَنَاسِكِ النووي: قَوْلُهُمْ يَحْرُمُ يَقْلُ تُرَابِ الْحَرَمِ وَحَجَرِهِ إِلَى الْحِلَّ مَحَلَّهُ لِغَيْرِ التَّدَاوِي كَتُرَابِ حَمْزَةَ للصداع، وَكَذَا لِلْحَاجَةِ كَالشَّجَرِ . اهـ
Artinya: sebuah faidah: berkata dalam kitab syarah manasik an nawawi pendapat mereka haram hukumnya memindahkan tanah dan batu tanah haram kepada tanah halal kecuali untuk keperluan pengobatan demikian juga jika ada kebutuhan seperti kayu (untuk kebutuhan bangunan).”
Dengan demikian hukum membawa batu atau kerikil dari dari Makkah atau Madinah untuk dibawa pulang haji adalah tidak diperbolehkan atau haram. Namun hukum haram ini bisa berubah diperbolehkan jika terdapat kebutuhan seperti untuk pengobatan dan bahan bangunan.
Demikian semoga bermanfaat Wallahu a’lam bishawab. (nano)















Facebook Comments