Operasional Haji di Makkah Tuntas, PPIH Kembali ke Tanah Air

banner 468x60
Jemaah haji 2026. (Foto: Kemenhaj)

Sukoharjonews.com (Tangerang) — Operasional haji 2026 di Makkah, Arab Saudi tuntas setelah semua jemaah bergeser ke Madinah. Secara bertahap, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Makkah juga kembali ke Tanah Air. Kepulangan kelompok pertama PPIH Makkah disambut langsung
Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf.

Sebanyak 355 petugas tiba di Tanah Air setelah menuntaskan tugas pelayanan kepada jemaah haji Indonesia selama berada di Arab Saudi. Menhaj menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh petugas atas dedikasi, kerja keras, serta pengabdian yang telah diberikan selama penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.

“Terima kasih atas seluruh performa dan upaya yang telah diberikan dalam melayani jemaah haji Indonesia. Presiden juga memberikan apresiasi kepada seluruh petugas yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh selama penyelenggaraan ibadah haji tahun ini,” kata Menhaj, dilansir dari laman Kemenhaj, Kamis (25/6/2026).

Menhaj menjelaskan, operasional pelayanan jemaah di Makkah telah selesai. Saat ini sekitar 29% jemaah atau 130-an kloter masih berada di Madinah dan akan dipulangkan secara bertahap sesuai jadwal penerbangan masing-masing.

Kemenhaj juga terus memantau kondisi 121 jemaah yang masih menjalani perawatan di Arab Saudi. Mereka akan dipulangkan setelah kondisi kesehatannya dinyatakan stabil dan layak terbang oleh tim medis.

Menhaj menyampaikan, hingga saat ini tercatat 350 jemaah wafat. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tetap menjadi perhatian serius dalam evaluasi penyelenggaraan ibadah haji.

“Ke depan, penerapan istithaah kesehatan akan diperketat dan standarnya harus diterapkan secara seragam di seluruh daerah,” tegasnya.

Menurut Menhaj, masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaan pemeriksaan dan penetapan istithaah kesehatan di sejumlah daerah. Karena itu, Kemenhaj akan memperkuat standardisasi agar setiap calon jemaah menjalani pemeriksaan kesehatan dengan ketentuan dan kualitas yang sama.

Evaluasi juga dilakukan terhadap peningkatan jumlah jemaah wafat setelah fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah tingginya aktivitas jemaah setelah menjalani rangkaian puncak haji, termasuk mengikuti kegiatan wisata.

“Setelah Armuzna, kondisi fisik jemaah umumnya menurun akibat kelelahan. Aktivitas seperti city tour harus diatur lebih ketat agar tidak membahayakan kesehatan jemaah,” jelas Menhaj.

Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan, Kemenhaj tidak berencana menambah jumlah PPIH, tetapi akan memperkuat kompetensi, kapasitas, dan kesiapan para petugas.

Durasi pendidikan dan pelatihan petugas kloter dan nonkloter yang selama ini berbeda juga akan diseragamkan. Petugas nonkloter selama ini mengikuti pelatihan sekitar satu bulan, sedangkan petugas kloter menjalani pelatihan selama tujuh hingga sepuluh hari.

“Ke depan, seluruh petugas akan mengikuti pendidikan dan pelatihan dengan durasi yang sama, yaitu sekitar satu bulan. Kami ingin seluruh petugas memiliki kesiapan, kemampuan, dan standar pelayanan yang setara,” katanya.

Kemenhaj juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PPIH. Petugas yang menunjukkan kinerja terbaik akan diberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada jemaah.

“Jumlah petugas tidak akan ditambah, tetapi kualitasnya akan terus ditingkatkan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar dalam mempersiapkan penyelenggaraan ibadah haji berikutnya agar semakin profesional, aman, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah,” tambah Menhaj. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *