Meski Belum Ada Kasus Terpapar Hantavirus, DKK Sukoharjo Imbau Warga Waspada

banner 468x60
Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Sukoharjonews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo memastikan belum ada kasus penyakit hantavirus di Sukoharjo. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk mewaspadai penyakit yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya tersebut.

“Hantavirus itu penyakit yang disebabkan oleh virus dengan faktor penularan diantaranya melalui tikus,” terangnya, Minggu ((24/5/2026).

Tuti menjelaskan, seseorang yang dicurigai terpapar hantavirus akan menjalani screening awal berdasarkan faktor risiko. Petugas kesehatan nantinya akan menanyakan riwayat aktivitas pasien, terutama kemungkinan kontak dengan tikus atau kotorannya dalam kurun waktu satu hingga delapan minggu terakhir.

“Biasanya petugas akan menanyakan apakah dalam satu sampai delapan minggu terakhir ada kontak dengan tikus atau kotorannya, apakah di lingkungan tempat tinggal banyak tikus, atau ada aktivitas tertentu yang berisiko,” ujarnya.

Menurut Tuti, gejala awal hantavirus umumnya berupa demam tinggi mendadak, nyeri otot berat, sakit kepala, mual, muntah, batuk, hingga sesak napas. Kondisi tubuh penderita juga biasanya terasa lemas.

“Gejalanya bisa berupa demam tinggi mendadak, nyeri otot berat, sakit kepala disertai mual muntah, batuk, sesak napas, dan tubuh terasa lemas,” jelasnya.

“Kalau sudah berat biasanya bisa terjadi gangguan pernapasan, tekanan darah menurun, sampai gangguan ginjal,” sambung Tuti.

Untuk memastikan dugaan paparan hantavirus, petugas kesehatan akan melakukan screening lanjutan dan pemeriksaan darah lengkap. Selain itu, Dinas Kesehatan juga mengutamakan screening lingkungan apabila ditemukan gejala yang mengarah pada paparan virus tersebut.

“Kalau dicurigai seperti itu biasanya dilakukan screening dan pemeriksaan darah lengkap. Lingkungannya juga diperiksa jika memang ada indikasi mengarah ke sana,” katanya.

Tuti menambahkan, upaya penting yang harus dilakukan setelah ditemukan kasus adalah memutus sumber penularan. Risiko paparan disebut lebih tinggi pada lingkungan yang banyak tikus, seperti area sawah maupun wilayah terdampak banjir.

“Kalau sudah diketahui, yang penting adalah memutus sumber penularannya. Misalnya setelah banjir atau saat di sawah yang memang banyak tikus,” ujarnya.

Ia juga menegaskan penularan hantavirus tidak hanya melalui udara, tetapi bisa terjadi melalui sentuhan dengan benda atau lingkungan yang telah terkontaminasi kotoran tikus.

Karena itu, masyarakat diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menggunakan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi tercemar, serta tidak langsung menyapu kotoran tikus yang sudah kering.

“Kalau membersihkan kotoran tikus jangan langsung disapu karena debunya bisa beterbangan. Sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu, baru dibersihkan,” tambahnya. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *