Luncurkan Buku “Sejarah Pengawas Pemilu/Pemilihan, Ini Tujuan Bawaslu Sukoharjo

Bawaslu Sukoharjo meluncurkan buku “Sejarah Pengawas Pemilu/Pemilihan Kabupaten Sukoharjo”.

Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Sebuah buku berjudul “Sejarah Pengawas Pemilu/Pemilihan Kabupaten Sukoharjo” dilucurkan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sukoharjo. Peluncuran disertai dengan bedah buku bersama Ketua PWI Solo, Anas Syahirul Alim dan anggota Bawaslu tahun 1999, Ahmad Muladi.


Kegiatan yang dimoderatori oleh anggota Bawaslu Sukoharjo, Rochmad Basuki tersebut dilaksanakan dikantor Bawaslu Kabupaten Sukoharjo secara luring maupun secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (9/8/2022). Kegiatan dihadiri eks Panwas kabupaten Sukoharjo dan juga media.

Dalam sambutannya, anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Rofiuddin menyampaikan buku sejarah yang diluncurkan Bawaslu Sukoharjo merupakan upaya agar sejarah pengawas terkubur dan peristiwa penting hilang begitu saja. Untuk itu, buku sejarah tersebut akan menjadi catatan penting untuk menjadi sumber yang sangat penting di tahun-tahun mendatang karena telah berhasil mengungkap sejarah pengawas pemilu dimasing-masing Kabupaten/Kota.

“Terimakasih kepada pengawas pemilu di periode- periode sebelumnya yang telah menyampaikan berbagai informasi diberbagai dokumen sehingga buku sejarah pengawas pemilu di kabupaten/Kota dapat disusun,” ujarnya.


Ketua Bawaslu Kabupaten Sukoharjo, Bambang Muryanto menyatakan bahwa ada yang unik di sisi kelembagaan di pengawas pemilu. Menurutnya, dahulu Panwas terdiri dari perwakilan ormas dan terus berkembang sesuai Undang-Undang Pemilu yang berlaku. Bambang mengucapkan terima kasih kepada narasumber mengingat kejadian yang lalu terkait informasi dan data yang telah disampaikan sehingga dapat menyusun buku ini sesuai fakta.

Sedangkan Ketua PWI Solo, Anas Syahirul Alim dalam kesempatan tersebut menyampaikan masukan terkait dalam penulisan buku sejarah pengawas pemilu/pemilihan Kabupaten Sukoharjo. Antara lain perlu ketelitian dalam penggunaan EYD, memperbanyak foto kegiatan agar Lebih hidup sebagai karya literasi dan dokumentasi. dan mempertajam narasi-narasi penanganan perkara.

“Buku sejarah ini berperan sebagai sejarah dan juga dapat menjadi dokumen di masa yang akan datang,” ujarnya,” (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.