Kekurangan Murid, Delapan SDN di Sukoharjo Digabung Tahun Ini

Kantor Disdikbud Sukoharjo. (Ilustrasi)

Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Gara-gara kekurangan murid, sebanyak delapan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Sukoharjo akan digabung atau “regruping” tahun 2022 ini. Kebijakan penggabungan delapan SDN tersebut dilakukan setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) melakukan pemetaan dan kajian beberapa waktu.


“Sementara baru untuk jenjang SD, untuk jenjang SMP tidak ada sekolah yang digabung atau regruping,” jelas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Sukoharjo, Darno, Selasa (19/7/2022).

Dikatakan Darnom, delapan SDN tersebut hanya memiliki total 50 siswa dalam satu sekolah, mulai kelas 1 hingga kelas 6. Jumlah tersebut sangat minim dan berlangsung bertahun-tahun. Menurutnya, setiap tahun ajaran baru, delapan sekolah tersebut tetap kekurangan pendaftar dan tidak bisa memenuhi kebutuhan ideal siswa baru dalam satu kelas.

Delapan SDN yang akan digabung tahun ini berada di wilayah Kecamatan Bendosari, Weru, Bulu, dan Kecamatan Kartasura. Darno mengaku persiapan sudah dilakukan termasuk sosialisasi dan tinggal pelaksanaan regruping.

Disdikbud Sukoharjo sendiri dalam proses penggabungan delapan SDN telah melakukan pemindahan terhadap kepala sekolah dan guru dengan status aparatur sipil negara (ASN) dan tenaga honorer atau guru tidak tetap (GTT). Mereka dipindah ke sekolah terdekat tempat tujuan regruping.

“Setelah sekolah digabung nanti pelaksanaan pembelajaran tetap berjalan seperti biasa. Kepala sekolah dan guru juga telah dipindah,” lanjutnya.

Darno mengatakan, kepala sekolah dan guru yang dipindah sekaligus untuk memastikan status mereka masih bisa bekerja. Sebab sekolah lama dipastikan akan dikosongkan karena kekurangan murid.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sukoharjo, Agus Sumantri mengatakan jika selama ini Komisi IV menemukan banyak sekolah kekurangan murid. Hal tersebut terlihat baik dalam kegiatan belajar mengajar maupun saat penerimaan siswa baru.

Sekolah yang kekurangan murid tersebut terjadi secara merata kebanyakan pada jenjang SDN dan SMPN. Sedangkan tingkat SMAN dan SMKN masih normal dimana jumlah siswa saat penerimaan siswa baru masih cukup banyak.

“Kebanyakan memang kekurangan murid terjadi pada SDN khususnya di wilayah pinggiran. Penggabungan sudah tepat agar lebih efektif dan efisien,” ujarnya. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.