
Sukoharjonews.com – Pertanyaan itu seolah sederhana, tapi menyimpan jebakan intelektual yang dalam: “Kalau takdir sudah ditentukan Tuhan, untuk apa kita berdoa?” Sebelum menjawabnya, perlu kita balik terlebih dahulu: mengapa kita justru tidak berdoa? Apakah pertanyaan terbalik itu tidak sama relevannya? Di sinilah sesungguhnya diskusi yang menarik dimulai.
Dilansir dari Bincang Syariah, Sabtu (31/10/2026), pertanyaan tentang takdir dan doa bukan sekadar perdebatan teologis yang kering. Ia menyentuh cara kita memandang diri sendiri, apakah kita agen yang aktif di dunia ini, ataukah sekadar wayang yang bergerak mengikuti skrip yang sudah tertulis jauh sebelum kita lahir. Jawaban kita atas pertanyaan ini akan sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup.
Takdir Baru Disebut Takdir Setelah Terjadi
Ada satu kekeliruan konseptual yang paling sering membuat orang tersandung dalam memahami takdir, yaitu menjadikannya sebagai alasan atas kondisi masa kini yang belum berubah. Takdir, secara epistemologis, hanya bisa diklaim ketika suatu peristiwa sudah benar-benar terjadi, bukan sebelumnya.
Bayangkan seorang buruh bangunan bernama Doni yang sudah bekerja tujuh tahun di tempat yang sama. Ketika ditanya apakah ia akan terus bekerja seperti itu selamanya, ia menjawab:”Ya mau bagaimana lagi, sudah takdir seperti ini.”
Faktanya, takdir itu adalah fakta tujuh tahun lalu ia diterima bekerja sebagai buruh bangunan. Bahwa ke depannya ia akan tetap seperti itu, itu bukan takdir. Itu pilihan, atau lebih tepatnya: keputusan untuk tidak memilih. Dan kekeliruan semacam ini bukan sekadar salah secara logika; ia berpotensi merusak kehidupan.
Satu konsekuensi yang tak bisa dielak adalah ini: kita tidak mengetahui apapun tentang masa depan. Kita memang mengimani bahwa Allah Swt. telah menuliskan segala sesuatu di Lauh Mahfudz. Tapi apakah kita bisa membacanya? Apakah kita bisa mengklaim dengan pasti bahwa inilah takdir saya sebelum ia terjadi? Tidak.
Maka takdir hanya bisa dijadikan pelajaran dan refleksi atas masa lalu, bukan tameng untuk menghindari ikhtiar di masa kini. Al-Quran dengan tegas mengecam mereka yang menjadikan kondisi sosial sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
Dalam Surat An-Nisa’ ayat 97, Allah menggambarkan sebuah dialog yang mencekam antara malaikat dan orang-orang yang meninggal dalam keadaan zalim terhadap diri sendiri:
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَاۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًاۙ ٩٧
Artinya; ”Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, ‘Bagaimana kamu ini?’
Mereka menjawab, ‘Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekkah).’ Mereka (para malaikat) bertanya, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahannam, dan (Jahannam) itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa’: 97]
Ayat ini adalah tamparan teologis bagi mereka yang bersembunyi di balik kata”tertindas” atau”terpinggirkan” sebagai alasan untuk tidak bergerak. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas ayat ini menegaskan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan untuk berubah namun memilih diam dengan alasan apapun termasuk menerima”takdir”, berada dalam kategori orang yang menzalimi dirinya sendiri. Ini bukan sekadar kesalahan akal, melainkan kesalahan yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. [Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Adzim, hlm 522.]
Jebakan Jabariyyah: Ketika Iman Mematikan Agensi
Kesalahpahaman tentang takdir yang kita diskusikan bukan fenomena baru. Dalam sejarah teologi Islam, ia memiliki nama: Jabariyyah. Aliran yang menganut determinisme absolut, di mana semua tindakan manusia dianggap semata-mata perbuatan dan kehendak Allah Swt., sehingga manusia tidak lebih dari boneka yang bergerak tanpa kehendak sendiri.
Konsekuensinya sangat fatal secara moral: jika semua adalah kehendak Allah, maka tidak ada pahala, tidak ada dosa, tidak ada pertanggungjawaban. Seorang pencuri mencuri karena Allah menghendakinya. Pembunuh membunuh karena itulah takdir. Paham ini ditolak keras oleh Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah karena ia meruntuhkan fondasi etika dan hukum dalam Islam.
Pada ujung spektrum yang berlawanan, terdapat aliran yang bernama Qadariyyah. Aliran ini justru menganggap manusia memiliki kebebasan mutlak, tanpa campur tangan Allah sama sekali.
Keduanya merupakan ekstremitas yang berbahaya. Jalan tengah yang digariskan oleh para ulama Ahl al-Sunnah adalah konsep kasb (perolehan): manusia memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih, namun Allah-lah yang menciptakan daya dan kemampuan tersebut. Manusia bertanggung jawab atas pilihannya, sementara Allah Maha Mengetahui apa yang akan dipilih. [Al-Baghdadi, Al-Farq bayn al-Firaq, hlm. 36;49.]
Doa Bukan Perisai, Doa adalah Jangkar
Berangkat dari ketidaktahuan kita tentang masa depan, dan dari kesadaran bahwa usaha manusia di ranah empiris tidak selalu mencapai tujuannya, di sinilah peran doa menemukan tempatnya yang paling tepat. Doa bukan pengganti usaha. Doa bukan jalan pintas menuju hasil tanpa kerja.
Doa adalah wujud harapan yang disandarkan kepada yang Transendental. Syaikh Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari, dalam mahakarya tasawufnya Al-Hikam, menuliskan sebuah aforisme yang sangat dalam:
“Jika dalam doamu yang penuh dan sungguh-sungguh masih ada keterlambatan dalam pemberian karunia, maka janganlah hal itu membuatmu berputus asa. Sebab Dia telah menjamin responnya bagimu menurut apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang kamu pilihkan untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang kamu kehendaki.” [Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari, Al-Hikam, hlm. 143.]
Manifestasi paling nyata dari doa bukanlah terkabulnya setiap permintaan, melainkan ketenangan jiwa yang hadir bahkan ketika doa belum terjawab. Ketenangan itu bukan hasil sampingan, ketenangan itu adalah jawaban pertama Allah atas doa hambanya. Dan ketenangan jiwa itu, pada gilirannya, menjernihkan pikiran, menguatkan tekad, dan memampukan seseorang bekerja lebih optimal di ranah duniawi.
Doa dan Ikhtiar: Dua Sayap yang Tidak Bisa Terbang Sendiri
Maka sintesisnya adalah doa tanpa ikhtiar adalah arogan, seolah kita meminta Allah Swt. mengerjakan semua hal sementara kita duduk menunggu. Ikhtiar tanpa doa adalah sombong, seolah kita mampu mencapai segalanya tanpa sandaran apapun di luar diri kita.
Keduanya harus hadir bersamaan, saling menopang. Ada sebuah atsar yang masyur dikaitkan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. yang menggambarkan filosof dan pejuang sejati:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوتُ غَدًا
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok hari.”
Kalimat pertama mendorong ikhtiar yang gigih dan terencana; kalimat kedua mendorong doa dan kepasrahan yang tulus. Keduanya bukan kontradiksi, keduanya adalah satu nafas. Kisah para nabi pun mengajarkan hal yang sama.
Nabi Ibrahim as. berdoa memohon keturunan yang salih, setelah puluhan tahun hidup, menikah, dan menjalani segala ikhtiar manusiawi. Nabi Musa as. berdoa memohon pertolongan Allah ketika Firaun mengejar di belakang dan laut menghadang di depan, bukan ketika ia masih duduk di rumah tanpa mengambil langkah apapun. Doa adalah kelengkapan dari usaha, bukan pengganti usaha.
Demikian penjelasan terkait pembahasan mengapa kita masih harus berdoa? Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (nano)












Facebook Comments