
Sukoharjonews.com – Kehidupan tanpa cahaya bagaikan terjebak dalam kegelapan yang menyiksa, baik di dunia maupun di akhirat. Manusia seringkali dihadapkan pada situasi yang kelam, penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan. Kegelapan ini bukan berarti tidak adanya penerang, melainkan sebuah metafora untuk menggambarkan kondisi hidup yang buntu dan penuh dengan kesulitan. Artikel ini akan membahas tentang 5 penerang kehidupan menurut Abu Bakar ash-Shiddiq.
Dilansir dari Bincang Syariah, Sabtu (27/6/2026), kehidupan yang penuh dengan rintangan dan kesedihan ini dapat terjadi pada siapa saja, tanpa pandang bulu. Kehilangan orang yang dicintai, sakit berkepanjangan, atau kegagalan dalam mencapai cita-cita, semua itu dapat membawa manusia ke dalam jurang kegelapan.
Meskipun hidup diliputi kegelapan, bukan berarti tidak ada harapan. Cahaya selalu ada, meskipun terkadang tersembunyi di balik awan tebal. Kita harus terus mencari cahaya tersebut, baik melalui doa, usaha dan tekad yang kuat, maupun dengan mencari dukungan dari orang-orang di sekitar. Dengan menemukan cahaya, kita akan mampu keluar dari kegelapan dan menjalani hidup yang lebih bahagia dan penuh makna.
Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam karyanya Al-Isti’dad Liyaumil Ma’ad Juz 1, halaman 67 mengutip ungkapan Abu Bakar As-Shiddiq terkait penerang dari kegelapan kehidupan dunia dan akhirat. Adapun ungkapannya sebagai berikut:
الظلمات خمس، والسرج لها خمس حب الدنيا ظلمة والسراج نه التقوى، والذنب ظلمة والسراج له التوبة، والقبر ظلمة والسراج لها لا إله إلا الله محمد رسول الله، والآخرة ظلمة والسراج لها العمل الصالح، والصراط ظلمة والسراج لها اليقين
Artinya: Kegelapan itu ada lima, dan penerangnya juga ada lima, yaitu, cinta dunia itu merupakan kegelapan, adapun penerangnya adalah taqwa. Dosa itu merupakan kegelapan adapun penerangnya adalah taubat. Kubur itu gelap adapun penerangnya adalah kalimat Lailaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Akhirat itu gelap adapun penerangnya adalah amal sholeh. Shirat itu gelap adapun penerangnya adalah keyakinan.
5 Penerang Kehidupan
Ungkapan Abu Bakar As-Shiddiq di atas memberi pencerahan dan pandangan yang sangat berarti bagi kita. Adapun uraian ungkapan tersebut sebagai berikut:
Pertama, kegelapan cinta dunia penerangnya adalah taqwa. Orang yang cinta dunia akan melalaikan perintah Allah karena direpotkan mengurus hartanya, mereka hidup dalam kegelapan, kecuali orang-orang yang bertaqwa, ia akan menggunakan hartanya di jalan Allah, sehingga kekayaannya digunakan untuk beribadah kepada Allah.
Kedua, berbuat dosa adalah kegelapan, penerangnya adalah bertaubat. Orang yang sering berbuat dosa di sengaja atau tidak sengaja, hidupnya tidak akan tenang, gelisah, dan cemas. Kecuali ia segera bertaubat maka hidupnya akan tenang kembali.
Ketiga, kubur adalah tempat kegelapan penerangnya adalah kalimat, “Lailaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Orang yang bertauhid dan melanggengkan zikir, “Lailaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Kuburannya akan terang dan ia akan selamat dari siksa kubur.
Keempat, akhirat itu gelap adapun penerangnya adalah amal sholeh. Di akhirat amal Sholeh akan menyelamatkan seorang hamba bila ia beramal Sholeh ketika hidup di dunia. Sebaliknya seorang hamba yang banyak berbuat kemaksiatan ia akan celaka dan akan di masukkan ke neraka.
Kelima, shirat atau jalan yang lurus itu gelap, adapun penerangnya adalah keyakinan. Orang yang berjalan di jalan Allah pasti akan menemukan hambatan dan gangguan, hanya kemantapan hati atau keyakinan yang menerangi jalannya dan ia akan menuai keberhasilan, yakni, ia akan selamat di akhirat. (nano)














Facebook Comments