
Sukoharjonews.com – Dampak musim kemarau panjang semakin dirasakan oleh masyarakat Sukoharjo bagian selatan. Saat ini, tercatat sebanyak 6.913 jiwa atau 1.855 kepala keluarga (KK) di 16 desa mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, warga yang kesulitan air bersih tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bulu, Weru, dan Tawangsari.
“Dampak kemarau semakin meluas terlihat dari bertambahnya titik dropping air bersih serta jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan,” ujarnya, Sabtu (26/9/2026).
Berdasarkan data BPBD Sukoharjo per 31 Agustus 2026, sebanyak 1.110 KK atau 3.722 jiwa di 14 desa pada tiga kecamatan tersebut terdampak kesulitan air bersih. Namun, berdasarkan pembaruan data per 20 September 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi 1.855 KK atau 6.913 jiwa yang tersebar di 16 desa.
Dengan demikian, dalam kurun waktu sekitar 20 hari, terdapat tambahan 3.191 jiwa yang mengalami kesulitan air bersih. Selain jumlah warga terdampak yang meningkat, wilayah yang membutuhkan dropping air bersih juga bertambah.
Ariyanto mengatakan kondisi tersebut menunjukkan dampak musim kemarau di wilayah Kabupaten Sukoharjo masih terus berkembang.
“Dampak musim kemarau hingga saat ini masih terus bertambah untuk titik dropping dan jumlah penduduk terdampaknya kan bertambah,” katanya.
BPBD Sukoharjo terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami kesulitan air bersih. Selain melakukan dropping, BPBD juga melakukan pendataan terhadap bantuan air bersih yang diberikan pemerintah daerah maupun pihak ketiga.
Hal itu dilakukan agar kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kemarau dapat dipetakan dengan lebih baik. Ariyanto mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak agar menggunakan air bersih secara bijak.
“Kami mengimbau kepada penduduk terdampak agar bijak untuk pemanfaatan air bersih,” katanya.
Ia juga meminta setiap bantuan air bersih yang disalurkan kepada masyarakat diinformasikan kepada BPBD.
“Kalau ada bantuan mohon diinformasikan, maksudnya BPBD ini kan sebagai koordinator untuk mencatat agar mengetahui kebutuhan air bersih masyarakat sampai akhir tahun itu berapa yang sudah tersalurkan, baik dari Pemda ataupun pihak ketiga,” jelasnya.
Menurutnya, pendataan tersebut penting agar BPBD dapat mengetahui kebutuhan air bersih masyarakat sekaligus memetakan bantuan yang telah disalurkan. Harapannya, distribusi bantuan diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah terdampak. (nano)














Facebook Comments