Mengintip Keberadaan Terminal Kijing di Kalimantan Barat, Ternyata Ini Peran Vitalnya

banner 468x60
Terminal Kijing yang dikelola PTP Nonpetikemas dorong efisiensi logistik dan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat. (Foto: Dok PTP Nonpetikemas)

Sukoharjonews.com (Jakarta) – Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dikelola PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas Cabang Pontianak. Terminal ini telah menjelma menjadi urat nadi perekonomian Kalimantan Barat.

Terminal Kijing berperan sebagai tulang punggung pelayanan kargo nonpetikemas di wilayah tersebut, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap efisiensi logistik dan kelancaran arus barang nasional. Terminal Kijing memiliki posisi strategis sebagai salah satu simpul logistik internasional karena berbatasan langsung dengan jalur perdagangan utama Selat Malaka.

Letak ini menjadikan Terminal Kijing berperan penting dalam memperkuat konektivitas serta mendorong aktivitas ekspor dan impor, khususnya bagi Kalimantan Barat. Dengan draft hingga -15 meter dan panjang dermaga lebih dari 1.900 meter, terminal ini mampu melayani hingga 15 kapal sekaligus, termasuk kapal besar berkapasitas hingga 100.000 DWT.

Kalimantan Barat sendiri dikenal sebagai salah satu sentra utama produksi minyak kelapa sawit nasional, menempati peringkat tiga besar provinsi penghasil crude palm oil (CPO). Tercatat terdapat 84 perkebunan kelapa sawit, 132 perusahaan industri CPO, serta 42 terminal khusus yang menopang ekosistem komoditas ini.

Kondisi tersebut semakin mengukuhkan Terminal Kijing sebagai urat nadi ekonomi Kalimantan Barat. Sebagai pintu gerbang utama ekspor produk turunan kelapa sawit, Terminal Kijing didukung fasilitas bongkar muat modern, seperti harbour mobile crane, excavator, wheelloader, mobile conveyor, flexible hose, dan portable filling station.

Selain CPO, terminal ini juga melayani berbagai komoditas lain, antara lain batubara, pupuk, palm kernel, bauksit, serta kargo berat. Dengan infrastruktur yang andal, Terminal Kijing memainkan peran penting dalam mendukung arus logistik, termasuk untuk proyek-proyek infrastruktur di wilayah barat Indonesia, sekaligus menjaga ketahanan rantai pasok nasional.

“Sebagai pelabuhan internasional baru di Kalimantan Barat, Terminal Kijing diposisikan menjadi motor penggerak ekspor-impor kawasan sekaligus katalisator pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ke depan, pelabuhan ini disiapkan untuk mendukung program hilirisasi yang tengah digencarkan pemerintah serta melayani berbagai macam kargo, baik nonpetikemas maupun petikemas guna memperkuat rantai pasok, khususnya di wilayah barat Indonesia,” kata Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PTP Nonpetikemas, Dwi Rahmad Toto S, dikutip dari laman KabarBUMN, Kamis(1/1/2026).

Kinerja Terminal Kijing Terus Meningkat
Kinerja operasional Terminal Kijing menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Throughput meningkat dari 1,95 juta ton pada 2023 menjadi 2,75 juta ton pada 2024, dengan proyeksi menembus 4 juta ton pada 2025.

“Hingga November 2025, total throughput mencapai 3,59 juta ton, didominasi curah kering sebesar 2,03 juta ton.

“Beberapa komoditas yang ditangani merupakan barang milik Mining Industry Indonesia (MIND ID) Group, khususnya PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), dalam mendukung pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Kami melihat pertumbuhan volume kargo di Terminal Kijing sebagai sinyal positif dari meningkatnya kepercayaan pengguna jasa,” ujar Toto.

Komoditas yang ditangani meliputi bauksit, batu bara, dan aluminium hidroksida sebagai muatan curah kering; caustic soda liquid sebagai muatan curah cair; serta aluminium hidroksida yang juga ditangani sebagai general cargo.

Hingga November 2025, PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak mencatat pertumbuhan kinerja pengoperasian Terminal Kijing untuk komoditas curah kering sebesar 342 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata throughput mencapai 3.620 ton per ship per day (T/S/D), melonjak signifikan dari 879 T/S/D pada periode hingga November 2024.

“Dari sisi operasional, kami terus berupaya menjaga kelancaran layanan dengan mengoptimalkan proses bongkar muat, penataan alur logistik, dan pengelolaan waktu sandar kapal secara efisien,” tambah Branch Manager PTP Cabang Pontianak, Suwanda.

Secara keseluruhan, PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak mengelola empat area terminal nonpetikemas di Kalimantan Barat, yakni Kawasan Dwikora, Pelabuhan Perintis Sintete, Ketapang, dan Kawasan Kijing. Berbagai komoditas general cargo seperti karet, bungkil, dan plywood turut ditangani di pelabuhan-pelabuhan tersebut.

Terminal Kijing sendiri melayani aneka kargo nonpetikemas, mulai dari CPO dan turunannya, batubara, pupuk, palm kernel, karung beras, hingga produk perkayuan. Didukung oleh hinterland Kalimantan Barat yang kuat sebagai sentra produksi CPO nasional, wilayah ini memiliki potensi besar untuk pertumbuhan volume kargo ke depan.

Langkah realokasi aset dari pelabuhan lain dalam jaringan SPMT juga menjadi strategi pemanfaatan aset idle sekaligus wujud sinergi antarunit, yang berdampak langsung pada peningkatan kinerja operasional dan kualitas layanan bagi pengguna jasa.

Implementasi TJSL di Terminal Kijing
Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, PTP Nonpetikemas menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di sekitar Terminal Kijing.

Program ini difokuskan pada pemberdayaan UMKM, pengembangan pendidikan, serta dukungan sosial bagi masyarakat, dengan pendekatan penciptaan nilai bersama (creating shared value/CSV). Dua program utama yang dijalankan meliputi PTP EduPort Magang Berkarya & Inovasi Bersama dan Program Pelatihan dan Sertifikasi Pekerja Harian.

PTP EduPort Magang Berkarya & Inovasi Bersama melibatkan mahasiswa Universitas Tanjungpura dan Universitas Muhammadiyah Pontianak dalam pembelajaran operasional serta pengembangan ide inovatif.

Sementara Program Pelatihan dan Sertifikasi Pekerja Harian membekali tenaga kerja lokal dengan sertifikasi BNSP di bidang curah cair, curah kering, dan general cargo.

“Penguatan kapasitas SDM melalui inovasi dan sertifikasi menjadi fondasi penting bagi keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional perusahaan serta kepedulian bagi masyarakat,” tambah Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, PTP Nonpetikemas berharap model kolaborasi berbasis CSV dapat diperluas ke cabang-cabang lain, sehingga memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus memperkuat kinerja perusahaan secara menyeluruh. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *