
Sukoharjonews.com – Saat seseorang memasuki usia lanjut tubuhnya mulai mengalami berbagai perubahan, mulai dari perubahan fisiologis hingga perubahan psikologis.
Dilansir dari Imun Update, Sabtu (19/4/2025), berbagai perubahan ini bukan hanya mempengaruhi kemampuan para lansia dalam melakukan aktifitas fisik, tetapi bisa menjadi pemicu perubahan tingkah laku juga.Selain itu, faktor internal seperti rasa kesepian karena minimnya interaksi sosial atau depresi juga bisa membuat perubahan tingkah laku pada orang dengan usia lanjut.
Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai beberapa faktor umum yang bisa menyebabkan perubahan tingkah laku para lansia.
Perubahan Fisiologis: Penurunan Fungsi Otak
Salah satu alasan utama lansia berperilaku seperti anak-anak adalah karena adanya penurunan fungsi kognitif. Seiring bertambahnya usia, otak mengalami proses penuaan alami yang dapat memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, dan pengambilan keputusan.
Selain itu, lansia juga lebih rentan terkena penyakit yang berhubungan langsung dengan kemampuan dan fungsi otak. Penyakit seperti Demensia atau Alzheimer bisa menurunkan fungsi otak secara signifikan.
Di sisi lain, penurunan kadar hormon juga bisa menjadi pemicu perubahan tingkah laku pada lansia.
1. Demensia dan Alzheimer
Demensia dan Alzheimer dapat menyebabkan penurunan kemampuan otak secara bertahap.Lansia dengan gangguan ini cenderung untuk lupa akan hal-hal sederhana, bingung dengan lingkungan sekitar, atau kesulitan memahami situasi. Akibatnya, mereka bisa menunjukkan perilaku regresif, seperti merengek, keras kepala, atau bahkan marah tanpa alasan jelas.
Selain itu, mereka juga dapat mengalami disorientasi waktu dan tempat, merasa cemas tanpa sebab yang jelas, serta mengalami kesulitan dalam mengenali anggota keluarga terdekat. Dalam beberapa kasus, mereka mungkin mengalami halusinasi atau delusi, yang semakin memperburuk kondisi mental dan emosional mereka.
2. Penurunan Hormon dan Saraf
Fungsi saraf yang melemah pada lansia dapat memengaruhi suasana hati mereka. Akibatnya, mereka bisa menjadi lebih emosional, mirip dengan anak-anak yang belum bisa mengelola emosi dengan baik. Penurunan produksi hormon seperti serotonin dan dopamin, yang berperan penting dalam mengatur suasana hati, juga dapat menyebabkan perubahan emosi yang drastis. Selain itu, perubahan pada sistem saraf otonom dapat mempengaruhi respons stres, membuat lansia lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi.
Lansia mungkin menjadi lebih mudah menangis, cepat tersinggung, atau merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Kombinasi faktor ini membuat mereka lebih sensitif terhadap perubahan kecil dalam lingkungan sekitar, sehingga memerlukan perhatian dan dukungan emosional yang lebih dari keluarga dan orang terdekat.
Faktor Psikologis: Kehilangan Kemandirian dan Identitas
Bayangin ketika Imuners biasanya melakukan segalanya sendiri, lalu tiba-tiba harus bergantung pada orang lain untuk makan, mandi, atau berjalan. Kehilangan kemandirian ini membuat banyak lansia merasa frustasi sekaligus merasa tidak berdaya. Perubahan kondisi ini menyebabkan perubahan keadaan mental bagi kebanyakan lansia dan akhirnya menjadi pemicu perubahan tingkah laku mereka.
1. Kebutuhan untuk Diperhatikan
Ketika merasa diabaikan, para lansia ini mungkin bertindak seperti anak kecil untuk mendapatkan perhatian keluarga. Perilaku ini bisa berupa sering mengeluh tentang hal-hal kecil, menunjukkan sikap cemberut, atau bahkan bersikap dramatis untuk menarik perhatian. Tidak jarang, mereka juga mencoba menciptakan situasi di mana mereka merasa ‘dibutuhkan’, seperti berpura-pura tidak bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya masih mampu mereka lakukan. Hal ini dilakukan sebagai cara untuk mengisi kekosongan emosional dan memastikan bahwa mereka tetap memiliki peran penting di mata keluarga mereka.
2. Perasaan Tidak Berguna
Lansia yang pensiun atau kehilangan peran sosialnya bisa merasa tidak berguna, yang membuat mereka mencari pengakuan dengan cara yang berbeda, seperti menjadi lebih manja atau banyak menuntut. Perasaan ini dapat semakin diperparah jika mereka merasa tidak lagi memiliki tujuan atau kontribusi yang berarti dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini bisa menyebabkan mereka merasa terisolasi secara emosional, bahkan ketika berada di tengah keluarga. Mereka mungkin juga menjadi lebih mudah tersinggung atau merasa diabaikan dalam percakapan, sehingga mencoba menarik perhatian dengan cara yang lebih ekstrem.(patrisia argi)



Facebook Comments