
Sukoharjonews.com – Dengan estetika geng motor ala tahun 50-an dan premis yang samar-samar mengingatkan pada “Pleasantville”, karya unik terbaru dari duo bersaudara yang sangat menjunjung semangat independen ini merupakan film ansambel yang sebagian besar terasa memikat, di mana setiap pemain berkomitmen penuh pada peran mereka yang jenaka.
Dilansir dari Variety, Rabu (9/9/2026), di tengah berbagai misteri sinematik terbesar masa kini—di saat membuat film menjadi lebih sulit dari sebelumnya—terdapat fakta bahwa David dan Nathan Zellner terus mewujudkan visi mereka yang sangat khas ala DIY (mandiri) dan berjiwa kekanak-kanakan yang memikat, melalui filmografi independen yang skalanya dan tujuannya terus berkembang.
Sungguh sebuah keajaiban yang menggembirakan melihat duo ini—yang pernah menangkap ritme masa kanak-kanak dengan cara mereka yang unik (Kid-Thing), menyalurkan empati bagi mereka yang percaya harta karun Fargo itu nyata (Kumiko the Treasure Hunter), dan mengubah Robert Pattinson menjadi pengantin pria yang konyol dan agak gila hampir satu dekade sebelum “The Drama” melakukannya (Damsel)—tetap asyik bermain di dunia kreatif mereka yang menyenangkan.
Bagi sebagian besar penonton, ritme dan nuansa karya Zellner bersaudara ini mungkin merupakan selera yang butuh pembiasaan—seperti tiram atau Marmite—yang sangat digemari sebagian orang namun sulit dipahami oleh orang lain. Untungnya, banyak aktor hebat yang tampaknya sangat mengagumi mereka. Faktanya, cukup banyak dari mereka—termasuk Léa Seydoux, Cate Blanchett (yang juga bertindak sebagai produser), Chris Pine, dan Kelvin Harrison Jr.—hadir dan dengan riang melepas hambatan diri mereka dalam film unik independen terbaru karya duo bersaudara ini, “Alpha Gang”. Film ini berkisah tentang sekelompok alien berpakaian kulit yang terasing, yang berniat menaklukkan Bumi sembari mengenakan atribut geng motor ala tahun 50-an. Karena, yah, kenapa tidak?
Latar waktu cerita ini sengaja dibuat tidak jelas: Kita mungkin berada di pertengahan abad ke-20 jika melihat pakaian “greaser” (gaya anak motor retro) yang pas di badan, tatanan rambut yang ditata rapi, serta selera musik “doo-wop” yang memikat—yang diputar dari “jukebox” jadul—sebagai petunjuknya. Namun sekali lagi, siapa yang tahu di mana dan kapan semua ini terjadi, mengingat banyak penduduk Bumi yang juga muncul di sepanjang film “Alpha Gang”. Mereka mewakili sosok-sosok dari berbagai perang nyata sepanjang sejarah yang ditugaskan untuk membasmi alien berdarah biru: terkadang menggunakan tank, bazoka, dan granat tangan, namun di lain waktu menggunakan kereta kuda dan senjata kuno. Masih mengikuti?
Kelompok Alpha Satu hingga Enam—yang diperankan oleh Seydoux dan Harrison Jr., serta Doona Bae, Riley Keough, Dave Bautista, dan Lily-Rose Depp—berusaha melenyapkan mereka lebih dulu. Sepanjang waktu, mereka mempertahankan ekspresi wajah datar dan kaku sembari menari mengikuti lagu-lagu cinta era 50-an dengan gerakan ala robot. Mereka semua merasa waswas terhadap penyakit manusia yang menyebar cepat ini: emosi. Bagaimana jika mereka tertular dan—sayangnya—menunjukkan kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan sebagainya, hingga perlahan kehilangan kekuatan mereka? Alpha Enam (Keough), yang terlambat bergabung dan tiba di Bumi lewat adegan jenaka ala film fiksi ilmiah lawas, diperingatkan oleh Alpha Satu (Seydoux) tentang bahaya yang disebut “perasaan” ini. Namun, Enam punya masalah yang lebih mendesak, seperti serangan diare hebat yang harus dialami semua Alpha saat pertama kali menginjakkan kaki di Bumi.
Ya, lelucon seputar toilet mewarnai “Alpha Gang,” dan yang paling kocak adalah lelucon berulang tentang sosok Alpha misterius yang selalu membiarkan dudukan toilet dalam posisi terbuka dan mengencinginya hingga berantakan. Meski begitu, daya tarik utama film ini—yang disutradarai bersama oleh duo Zellner namun naskahnya ditulis oleh David seorang diri—terletak pada betapa para pemain tampak sangat menikmati peran mereka saat melontarkan dialog-dialog konyol dengan wajah datar; contohnya saat Alpha Tiga (Harrison Jr.) yang haus akan cinta mengajak seekor burung kecil untuk berpacaran dengannya.
Bukan hanya dia yang mulai hanyut dalam perasaan. Alpha Dua (Bautista), Empat (Depp), dan Lima (Bae) juga diam-diam mengalami gejolak batin, sementara Satu dan Enam meluapkan kemarahan dan frustrasi secara berlebihan. Meskipun konsep emosi yang melunakkan kekakuan para alien ini mengingatkan kita pada film “Pleasantville” karya Gary Ross, para Alpha yang sejatinya sudah penuh warna ini tidak lantas berubah menjadi semakin mencolok bak film Technicolor. Sebaliknya, mereka justru meneteskan air mata, saling merasa takut, dan mengalami masa-masa murung. Lagi pula, mengapa tidak?
Titik balik cerita terjadi saat Chris Pine muncul sebagai Alpha terbaru; kehadirannya langsung menjadi sumber tawa paling jenaka di sepanjang film. Seluruh pemain tampil totalitas dan tampak benar-benar menikmati peran mereka, namun ada sesuatu pada gaya akting Pine yang berlebihan justru memancing gelak tawa paling meriah. Ketika geng saingan bergaya tahun 80-an bernama Beta muncul—dengan Cate Blanchett yang jenaka dan mengenakan penutup mata di barisan mereka (tunggu sampai Anda mendengar aksennya)—kekacauan pun semakin memuncak. Jelas sekali bahwa duo Zellner merancang kelompok Alpha dan Beta dengan logika ala “Terminator”: Beta adalah alien yang lebih maju dan menolak untuk bergabung dengan Alpha yang relatif naif.
Akan ada anggota tubuh yang terputus, banyak darah (berwarna biru) yang tumpah, serta kekerasan ekstrem yang meletus di setiap sudut desain bergaya brutal dan pembangunan dunia yang sangat imersif—sesuatu yang harus disaksikan sendiri agar bisa dipercaya. Respons penonton tentu akan beragam terhadap racikan unik dan menghibur yang mengangkat tema isolasi, koneksi, dan kebutuhan akan rasa memiliki ini; sebuah karya yang tak bisa menyembunyikan nuansa melankolis mengenai kondisi dunia yang terpecah belah. Untungnya, film ini berakhir tepat sebelum durasinya terasa berlarut-larut hingga kehilangan daya tariknya—mengingatkan kita bahwa dunia sinema bisa memberi ruang lebih bagi visi tanpa kompromi dan karya seni unik nan nyentrik yang memiliki pesan bermakna sekaligus menyuguhkan hiburan yang memikat. (nano)














Facebook Comments