Musim Kemarau Datang, Ribuan Hektar Tanaman Padi Tadah Hujan Puso, Ini Datanya

Tanaman padi lahan tadah hujan di Desa Jatingarang Kecamatan Weru berakhir puso memasuki musim kemarau, Selasa (25/6).

Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Datangnya musim kemarau membuat sebagian petani di beberapa kecamatan di Sukoharjo mulai terkena dampaknya. Petani yang terkena dampak adalah petani yang menggarap lahan tadah hujan. Lahan tadah hujan tersebut mengalami puso atau gagal panen. Ribuan lahan tersebut tersebar di Kecamatan Weru, Bulu, Nguter, dan Kecamatan Bendosari.



“Jadi, lahan yang puso ini adalah lahan yang selama ini mengandalkan air hujan atau lahan tadah hujan. Karena sudah kemarau, tanaman padi tidak mendapatkan pasokan air dari hujan,” terang Kabid Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Dyah Rilawati, Selasa (25/6).

Dijelaskan Dyah, untuk Kecamatan Weru terdapat 684 hektar lahan yang puso, Kecamatan Bulu 36 hektar, Nguter seluas 144 hektar, Kecamatan Bendosari seluas 329 hektar. Sehingga, total lahan yang puso seluas 1.193 hektar. Kerugian petani akibat puso tersebut berbeda berdasarkan sistem tanam yang digunakan. Jika sistem tanam manual kerugian sekitar Rp3,530 juta per hektar, sedangkan kerugian yang menggunakan alat mesin pertanian sebesar Rp2,980 juta sehingga total kerugian berkisar Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.

Menurutnya, laporan lahan padi yang puso sudah masuk dan terus dilakukan pendataan dan diupdate. Sejak April lau, ujarnya, dinas sudah memberikan peringatan kepada petani mengenai mengenai curah hujan yang mulai menurun. Namun, banyak petani yang nekat menanam padi hingga akhirnya terkena puso. Selama ini, lahan tadah hujan hanya melakukan satu kali tanam padi dan lainnya menanam palawija.

Dyah juga mengatakan, rata-rata usia tanaman padi yang mengalami puso adalah 30-90 minggu. Penyebab puso karena kurangnya pasokan air ke sawah setelah tidak turun hujan. Biasanya, petani seringkali menggunakan pompa air untuk menyedot air dari sumur atau sungai yang masih terdapat air untuk mengairi sawah. Namun, jika tidak ada sumber air, tanaman padi dibiarkan puso.

“Seharusnya petani tidak nekat menanam padi di akhir-akhir musim hujan karena resikonya kekurangan air ketika masuk musim kemarau,” ujarnya. (erlano putra)



How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed