
Sukoharjonews.com (Solo) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSU Dr Moewardi Solo menerapkan layanan fast track (jalur cepat), guna memitigasi penumpukan pesien. Pasalnya, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jateng tersebut melayani kunjungan pasien sebanyak 1.500 hingga 3.000 pasien setiap harinya.
Untuk memastikan tidak terjadi penumpukan pasien, layanan tersebut dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Taj Yasin mengatakan, dia tidak lagi melihat penumpukan pasien di lantai 1 seperti sebelumnya. Pasien yang membutuhkan pelayanan telah diarahkan ke lantai 3, sehingga kepadatan lebih terkendali.
“Saya senang, karena saya sudah tidak melihat lagi masyarakat atau pasien di bawah (lantai 1) numpuk,” katanya, dilansir dari laman Pemprov Jateng, Minggu (16/8/2026).
Menurut Gus Yasin, kondisi tersebut menunjukkan pembenahan alur pelayanan mulai memberikan hasil.
“Ini artinya, pelayanan fast track itu semakin meningkat, semakin baik,” ujarnya.
Perbaikan itu menjadi perhatian Gus Yasin, karena beberapa hari sebelumnya masih ada masyarakat yang mengeluhkan lamanya proses pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Keluhan tersebut, kata dia, bukan selalu berarti pasien tidak mendapatkan penanganan. Tapi bisa terjadi karena proses rujukan dan perpindahan pasien antarunit belum terkoneksi dengan cepat. Kini, koneksi antarunit tersebut mulai dibenahi.
Wagub menilai, setiap bagian harus memahami tugasnya masing-masing, agar pasien tidak menjadi pihak yang dirugikan karena persoalan koordinasi.
Gus Yasin menyampaikan, perbaikan pelayanan di RSUD Dr Moewardi memiliki arti lebih luas, karena rumah sakit tersebut menjadi salah satu wajah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dalam memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.
Dia pun bersyukur masyarakat masih memberikan respons positif terhadap pelayanan Moewardi. Bahkan, pasien dari luar provinsi tetap datang untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit tersebut.
Di sisi lain, RSUD Dr Moewardi kini memberi perhatian khusus terhadap lamanya pasien berada di IGD.
Direktur RSUD Dr Moewardi, Yunita Dyah Suminar mengatakan, pasien kegawatdaruratan idealnya sudah mendapatkan kepastian penanganan maksimal enam jam setelah masuk IGD. Dalam rentang waktu tersebut, pasien harus sudah diputuskan apakah memerlukan operasi, rawat inap, atau perawatan di ICU.
Dia mengatakan, persoalan pasien yang berada lebih dari enam jam di IGD, kini menjadi salah satu prioritas pembenahan. Jajaran struktural rumah sakit juga terus beradaptasi, dengan berbagai persoalan yang muncul dalam pelayanan sehari-hari. (nano)











Facebook Comments