
Sukoharjonews.com – Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo dikenal sebagai sentra penghasil jambu air. Saat ini, meski tengah memasuki musim kemarau, jambu air di Desa Pranan justru tengah memasuki panen raya. Dalam sehari, jambu air yang dihasilkan di Pranan bisa mencapai 20 ton.
“Fenomena El Nino tahun ini justru memberikan keuntungan bagi komoditas jambu di desa kami,” ujar Kepala Desa (Kades) Pranan, “Jigong” Sarjanto, Selasa (28/7/2026).
Jigong mengaku, musim kemarau yang lebih panjang membuat masa panen jambu menjadi lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kemaraunya datang lebih awal dan berakhir lebih panjang, sehingga panen jambunya juga berlangsung lebih lama dan hasil produksinya melimpah,” katanya.
Ia menjelaskan, pada puncak panen seperti saat ini produksi jambu air jenis wulung dan citra dari seluruh Desa Pranan mampu mencapai sekitar 20 ton per hari. Buah-buah tersebut tidak hanya dipasarkan di wilayah Solo Raya, tetapi juga dikirim ke berbagai kota besar di Indonesia.
Setiap sore, hasil panen warga dipaketkan dan dikirim menggunakan jalur bus menuju Semarang, Bandung, Surabaya hingga Jakarta. Permintaan dari luar daerah pun tetap tinggi sehingga hasil panen petani terserap pasar.
Untuk harga di tingkat petani, jambu dihargai sekitar Rp10.000 per kilogram. Sementara di tingkat pengecer atau konsumen, harganya bervariasi mulai dari Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram, tergantung jarak distribusi.
“Kalau dari petani sekitar Rp10 ribu per kilogram. Kalau dijual di luar daerah bisa Rp15 ribu, Rp20 ribu sampai Rp25 ribu, tergantung jauh dekatnya lokasi penjualan. Semakin jauh, tentu harganya semakin tinggi,” jelasnya.
Jigong mengatakan hampir seluruh warga Desa Pranan memiliki pohon jambu di pekarangan rumah.
Rata-rata setiap rumah menanam tiga hingga empat pohon sehingga komoditas tersebut telah menjadi sumber penghasilan masyarakat selain bertani padi.
Selain jambu, warga juga membudidayakan mangga yang masa panennya berlangsung setelah musim jambu berakhir. Dengan demikian, masyarakat memperoleh penghasilan secara bergantian dari berbagai komoditas.
“Desa Pranan merupakan desa buah. Selain bertani padi, justru mata pencaharian utama masyarakat adalah pedagang dan petani buah. Setelah panen jambu selesai, nanti berganti musim mangga, jadi terus berputar,” ujarnya.
Dari sekitar 1.200 kepala keluarga yang tinggal di Desa Pranan, hampir seluruhnya merupakan petani jambu. Untuk itu, panen raya jambu menjadi salah satu momen penting bagi perekonomian desa, selain panen padi dan mangga. (nano)














Facebook Comments