
Sukoharjonews.com – Dalam artikel ini akan menyampaikan tafsir surah Fushshilat ayat 34, yang menganjurkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Secara alamiah, manusia cenderung merasa kesal, marah, dan terdorong untuk membalas dendam ketika mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain.
Namun, dalam ajaran Islam, segala bentuk perbuatan tercela, termasuk pembalasan dendam yang dapat menimbulkan permusuhan, sangat dilarang. Islam menawarkan solusi yang lebih baik dalam menghadapi keburukan, yaitu dengan membalasnya dengan kebaikan.
Dikutip dari Bincang Syariah, Selasa (17/3/2026), prinsip ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Fushshilat ayat 34. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa kebaikan tidak pernah sama dengan keburukan.
Allah menganjurkan hamba-Nya untuk merespons keburukan dengan tindakan yang lebih baik, bahkan seakan-akan memperlakukannya dengan penuh persahabatan. Berikut adalah teks ayat beserta transliterasi dan artinya:
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
wa lâ tastawil-ḫasanatu wa las-sayyi’ah, idfa‘ billatî hiya aḫsanu fa idzalladzî bainaka wa bainahû ‘adâwatung ka’annahû waliyyun ḫamîm.
Artinya; “Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.”
Tafsir Ath-Thabari
Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dalam kitab Jami’ul Bayan (Juz 21, halaman 470-472) menjelaskan tafsir surah Fushshilat ayat 34, bahwa tidak akan pernah sama antara kebaikan orang-orang beriman yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” lalu mereka konsisten, berbicara dengan bahasa yang sopan, dan merespons dakwah dengan baik, dengan keburukan orang-orang kafir yang menolak dan mengganggu ajaran Islam.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Fushshilat ayat 26 yang menyebutkan bahwa orang-orang kafir berusaha menciptakan kegaduhan terhadap Al-Qur’an agar dapat mengalahkannya.
Dalam penjelasan lebih lanjut, Ath-Thabari menafsirkan frasa idfa‘ billatî hiya aḥsan sebagai perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar membalas keburukan dengan kesabaran dan kebaikan. Meskipun bersabar atas perlakuan buruk terasa sulit, sikap tersebut dapat melunakkan hati lawan, bahkan menarik mereka kepada kebenaran Islam.
Lebih lanjut, Ath-Thabari juga mengutip pendapat Ibnu Abbas RA yang menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk bersabar saat marah, bermurah hati, dan memaafkan saat disakiti. Jika seseorang melaksanakan hal ini, Allah akan melindunginya dari godaan setan dan menundukkan musuh-musuhnya hingga menjadi teman yang setia.
Tafsir Mujahid dan ‘Atha’
Pendapat lain dari para ulama tafsir, seperti Mujahid dan ‘Atha’, menyatakan bahwa makna idfa‘ billatî hiya aḥsan adalah anjuran untuk mengucapkan salam atau mendoakan kebaikan bagi orang yang berbuat buruk. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesabaran, tetapi juga inisiatif untuk membalas keburukan dengan kebaikan secara aktif.
Makna Kalimat Fa Idzalladzî Baina Ka Wa Bainahu ‘Adâwatun Ka’annahu Waliyyun Hamîm
Ath-Thabari menjelaskan bahwa makna kalimat ini adalah bahwa jika seseorang mengikuti perintah Allah untuk membalas keburukan dengan kebaikan, maka orang yang semula memusuhinya akan berubah menjadi lembut hati dan bahkan berbuat baik kepadanya. Hal ini menjadi prinsip dasar dalam menjalin hubungan sosial yang harmonis.
Tafsir Al-Mawardi
Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad Al-Mawardi dalam kitab Tafsir An-Nukat wa al-Uyun (Juz 5, halaman 185-186) memberikan enam penafsiran terhadap ayat ini:
Pertama, Kebaikan adalah lemah lembut, sedangkan keburukan adalah sikap kasar.
Kedua, Kebaikan adalah kesabaran, sedangkan keburukan adalah kebencian.
Ketiga, kebaikan adalah iman, sedangkan keburukan adalah syirik.
Keempat, kebaikan adalah memaafkan, sedangkan keburukan adalah balas dendam.
Kelima, kebaikan adalah menyantuni, sedangkan keburukan adalah perbuatan keji.
Keenam, kebaikan adalah mencintai keluarga Nabi SAW, sedangkan keburukan adalah membenci mereka.
Asbabun Nuzul
Menurut Al-Mawardi, ayat ini turun terkait perlakuan buruk Abu Jahal terhadap Rasulullah SAW. Allah kemudian memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar dan memaafkan tindakan tersebut. Ini menunjukkan bahwa Islam menekankan pentingnya sikap bijaksana dalam menghadapi permusuhan.
Merespons keburukan dengan kebaikan merupakan salah satu ajaran utama dalam Islam. Sikap ini tidak hanya menghindari konflik yang lebih besar, tetapi juga dapat meluluhkan hati orang yang bermusuhan. Ketika seseorang menahan amarah dan membalasnya dengan akhlak mulia, ia tidak hanya mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah, tetapi juga berpeluang mengubah musuh menjadi sahabat.
Membalas keburukan dengan kebaikan adalah prinsip yang diajarkan dalam QS. Fushshilat ayat 34. Tafsir para ulama menunjukkan bahwa kesabaran, kelembutan, dan kemurahan hati dapat mengubah permusuhan menjadi persahabatan.
Pun ini ditegaskan kembali dalam QS. Fushshilat ayat 35:
وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
Artinya: “(Sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak (pula) dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”
Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang mampu mengamalkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a‘lam. (nano)















Facebook Comments