Yang Belum Tahu, Berikut Ini Keutamaan Membaca Surah Al-Waqi’ah

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Sukoharjonews.com – Kalau membaca Surah Al-Waqi’ah setiap malam, apakah benar bisa membuat seseorang kaya? Pertanyaan tentang keutamaan surah Al-Waqi’ah jamak kita dengar, terutama masyarakat awam, yang sudah bertahun-tahun mendengar argumen ini.

Pasalnya, sebagian orang mendengar anjuran dan keutamaan membaca Surah Al-Waqi’ah lalu segera menghubungkannya dengan kelapangan rezeki. Sebagian yang lain bahkan memandangnya dengan curiga. Bukankah ibadah seharusnya ditujukan untuk akhirat? Lalu mengapa justru dikaitkan dengan urusan dunia seperti rezeki dan kemiskinan?

Dilansir dari Bincang Syariah, Minggu (1/11/2026), pertanyaan itu sesungguhnya bukan hal baru. Jauh sebelum kita memperdebatkannya hari ini, Rasulullah SAW telah memberikan isyarat mengenai keutamaan surah tersebut.

سمعت رسول الله ﷺ يقول: من قرأ الواقعة كل ليلة لم يفتقر. رواه البيهقي.

Artinya: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan jatuh miskin.’ (HR. Baihaqi)

Hadis ini sering dibaca secara sederhana. Seolah-olah Surah Al-Waqi’ah adalah jalan pintas menuju kekayaan. Padahal, apakah memang demikian maksudnya? Apakah para ulama memahami hadis ini sebatas janji bertambahnya harta benda?

Menariknya, persoalan ini pernah ditanyakan langsung kepada para guru dan ulama terdahulu. Imam Munawi dalam kitab Faidul Qadir mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali sebagai berikut:

وقال الغزالي: سألت بعض مشايخنا عما يعتاده أولياؤنا من قراءة سورة الواقعة في أيام العسرة أليس المراد به أن يدفع الله به الشدة عنهم ويوسع عليهم في الدنيا فكيف يصح إرادة متاع الدنيا بعمل الآخرة؟ فأجاب بأن مرادهم أن يرزقهم قناعة أو قوتا يكون لهم عدة على عبادته وقوة على دروس العلم وهذا من إرادة الخير لا الدنيا

Al-Ghazali berkata: “Aku pernah bertanya kepada sebagian guru kami mengenai kebiasaan para wali kami yang membaca Surah Al-Waqi’ah pada masa-masa kesulitan. Bukankah yang dimaksud adalah agar Allah menghilangkan kesusahan mereka dan melapangkan rezeki mereka di dunia? Lalu bagaimana bisa menginginkan kenikmatan dunia melalui amalan akhirat?”

Maka beliau menjawab:

“Yang mereka maksud adalah agar Allah menganugerahkan kepada mereka sifat qana’ah (merasa cukup) atau rezeki yang menjadi bekal bagi mereka untuk beribadah kepada-Nya serta kekuatan untuk menuntut dan mengkaji ilmu. Ini termasuk menghendaki kebaikan, bukan menghendaki dunia.”

Jawaban ini penting dicermati. Sebab, ukuran kekayaan dalam pandangan para ulama ternyata tidak selalu identik dengan banyaknya harta. Bisa jadi seseorang memiliki sedikit harta, tetapi hatinya dipenuhi qana’ah sehingga hidupnya terasa lapang. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang bergelimang kekayaan namun terus dihantui rasa kurang dan kekhawatiran.

Karena itu, ketika para wali dan orang-orang saleh membiasakan membaca Surah Al-Waqi’ah pada masa-masa sulit, tujuan mereka bukan semata-mata mengejar kenikmatan dunia.

Mereka memohon kepada Allah agar diberikan kecukupan yang dapat menopang ibadah, menguatkan langkah dalam menuntut ilmu, dan menjaga hati dari kegelisahan akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Di sinilah letak keindahan penjelasan Al-Ghazali. Rezeki tidak selalu berarti bertambahnya angka dalam simpanan. Kadang ia hadir dalam bentuk hati yang merasa cukup. Kadang berupa kekuatan untuk terus belajar. Kadang pula berupa kemudahan beribadah tanpa dibebani kesulitan yang berlebihan.

Maka membaca Surah Al-Waqi’ah bukanlah upaya menjadikan ibadah sebagai alat memburu dunia. Sebaliknya, ia merupakan ikhtiar spiritual agar dunia berada di tangan secukupnya, sehingga hati tetap leluasa berjalan menuju Allah SWT. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar