Yang Belum Tahu, Berikut Ini 3 Amalan Penghapus Dosa dalam Islam

Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Berikut 3 amalan penghapus dosa dalam Islam. Ada satu kenyataan yang sering membuat manusia gelisah sekaligus berharap: dosa. Ia melekat dalam setiap gerak, dalam setiap keputusan yang kadang tergesa, dalam setiap niat yang tak selalu bersih dari debu kepentingan.

Dilansir dari Bincang Syariah, Rabu (4/11/2026), tetapi Islam tidak pernah menutup pintu itu rapat-rapat. Bahkan ia membuka pintu yang lebih besar daripada rasa takut manusia itu sendiri: pintu rahmat.

Namun, di balik pintu rahmat itu ada peringatan yang keras, yang tidak boleh dipelintir menjadi pembenaran untuk bermalas-malas dalam moralitas.

Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا ۝١١٦

Artinya; Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh.

Amalan Penghapus Dosa

Dan di sinilah Islam menawarkan amalan penghapus dosa. Bukan jalan tunggal, tetapi rangkaian pintu yang sengaja dibuka agar manusia tidak terjebak dalam keputusasaan.

Pertama: Taubat

Pintu yang Tidak Pernah Ditutup. Di tengah runtuhnya moral manusia, taubat adalah deklarasi paling revolusioner: bahwa manusia masih ingin kembali menjadi manusia.

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥٣

Artinya; Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kedua, istighfar (meminta ampun)

Jika taubat adalah keputusan untuk kembali, maka istighfar adalah napas yang terus mengingatkan arah pulang itu. Nabi bersabda;

عنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَال: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:”منْ لَزِم الاسْتِغْفَار، جَعَلَ اللَّه لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مخْرجاً، ومنْ كُلِّ هَمٍّ فَرجاً، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Artinya:“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa membiasakan beristighfar maka Allah akan memberikan solusi setiap kesulitan yang ia hadapi, serta memberikan kemudahan dari kesusahan ia rasa dan memberikan rizki yang ia tak sangka-sangka. (HR. Abu Dawud)

Dan Al-Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 135, Allah berfirman;

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ۝١٣٥

Artinya; Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya)

Ketiga, Melakukan kebaikan

Jika taubat adalah pintu besar, dan istighfar adalah napas yang menjaga kesadaran, maka amal kebaikan adalah cara Allah menghapus bekas luka itu perlahan-lahan. Allah berfirman;

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ ۝١١٤

Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).

Imam Ibnu Hajar al_asqallani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan Jilid VIII, halaman 205 mengurai perdebatan panjang tentang makna ayat ini.

Sebagian memahami secara mutlak bahwa kebaikan menghapus semua dosa. Namun jumhur ulama menegaskan pembatasan: bahwa penghapusan itu berkaitan dengan dosa kecil, atau berlaku dalam kondisi dijauhinya dosa besar.

Di sini fiqh menunjukkan satu hal penting: amal bukan alat otomatis penghapus dosa tanpa kesadaran moral. Ia tidak bekerja seperti kalkulator spiritual. Ia bekerja dalam sistem etika yang menuntut keterlibatan manusia: taubat, kesadaran, dan penjauhan dari dosa besar.

Bahkan sebagian ulama seperti Ibnu Abd al-Barr menegaskan, jika semua dosa otomatis terhapus oleh amal, maka perintah taubat akan kehilangan makna. Dan fiqh tidak pernah mengizinkan moralitas menjadi dangkal.

Ibnu Hajar berkata;

[ ص: 208 ] قوله : ( قال لمن عمل بها من أمتي ) تقدم في الصلاة من هذا الوجه بلفظ قال لجميع أمتي كلهم وتمسك بظاهر قوله تعالى إن الحسنات يذهبن السيئات المرجئة وقالوا : إن الحسنات تكفر كل سيئة كبيرة كانت أو صغيرة ، وحمل الجمهور هذا المطلق على المقيد في الحديث الصحيح إن الصلاة إلى الصلاة كفارة لما بينهما ما اجتنبت الكبائر فقال طائفة : إن اجتنبت الكبائر كانت الحسنات كفارة لما عدا الكبائر من الذنوب ، وإن لم تجتنب الكبائر لم تحط الحسنات شيئا .

وقال آخرون : إن لم تجتنب الكبائر لم تحط الحسنات شيئا منها وتحط الصغائر . وقيل : المراد أن الحسنات تكون سببا في ترك السيئات كقوله تعالى إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر لا أنها تكفر شيئا حقيقة ، وهذا قول بعض المعتزلة . وقال ابن عبد البر : ذهب بعض أهل العصر إلى أن الحسنات تكفر الذنوب ، واستدل بهذه الآية وغيرها من الآيات والأحاديث الظاهرة في ذلك . قال : ويرد الحث على التوبة في أي كبيرة ، فلو كانت الحسنات تكفر جميع السيئات لما احتاج إلى التوبة . واستدل بهذا الحديث على عدم وجوب الحد في القبلة واللمس ونحوهما ، وعلى سقوط التعزير عمن أتى شيئا منها وجاء تائبا نادما . واستنبط منه ابن المنذر أنه لا حد على من وجد مع امرأة أجنبية في ثوب واحد

Artinya; [Hal. 208] Ucapannya: “(Nabi bersabda: bagi orang yang mengamalkannya dari umatku)”. Dalam bab shalat telah disebutkan dari jalur ini dengan lafaz: “beliau bersabda: untuk seluruh umatku, semuanya.”

Kaum Murji’ah berpegang pada firman Allah: “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan” (QS. Hud: 114), dan mereka berkata bahwa kebaikan-kebaikan menghapus setiap dosa, baik besar maupun kecil.

Mayoritas ulama (jumhur) membawa pengertian yang bersifat mutlak dalam hadis sahih: “Shalat ke shalat adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dijauhi dosa-dosa besar.”

Maka sebagian ulama berkata: apabila dosa-dosa besar dijauhi, maka amal-amal kebaikan menjadi penghapus dosa-dosa selain dosa besar. Adapun jika dosa-dosa besar tidak dijauhi, maka kebaikan tidak menghapus sedikit pun dosa.

Sebagian ulama lain berkata: jika dosa-dosa besar tidak dijauhi, maka kebaikan tidak menghapus apa pun dari dosa-dosa tersebut, namun tetap menghapus dosa-dosa kecil.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bahwa amal kebaikan menjadi sebab untuk meninggalkan dosa, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”, bukan bahwa amal tersebut benar-benar menghapus dosa secara hakiki. Ini adalah pendapat sebagian kaum Mu’tazilah.

Ibnu ‘Abd al-Barr berkata: sebagian ulama pada masa ini berpendapat bahwa kebaikan menghapus dosa-dosa, dan mereka berdalil dengan ayat ini serta ayat-ayat lain dan hadis-hadis yang secara lahir menunjukkan hal tersebut. Ia berkata: namun hal itu dibantah oleh adanya perintah untuk bertobat dari setiap dosa besar; seandainya kebaikan dapat menghapus seluruh dosa, maka tidak diperlukan lagi tobat.

Hadis ini juga dijadikan dalil bahwa tidak wajib hudud pada kasus ciuman, sentuhan, dan semisalnya, serta gugurnya ta’zir bagi orang yang melakukan hal-hal tersebut kemudian datang dalam keadaan bertobat dan menyesal.

Ibnu al-Mundzir menyimpulkan darinya bahwa tidak ada hukuman hudud bagi orang yang didapati bersama seorang wanita non-mahram dalam satu pakaian.

Dengan demikian, 3 amalan penghapus dosa, yakni taubat membuka pintu. Istighfar menjaga arah. Kebaikan membersihkan jejak. Semoga bermanfaat. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar