Ragam  

Mengulik Parade Teater Taman Budaya Yogyakarta, Linimasa #5

Teater Amarta.

Sukoharjonews.com – Parade Teater Taman Budaya Yogyakarta telah memasuki tahun ke-5 di tahun 2022 ini. Tema yang di usung adalah “Ruang, Kosmik, Jiwa”. Tahun ini, kelompok yang mengikuti parade teater Linimasa ke-5 adalah Teater Amarta, Gamblang Musikal Teater (GMT) Jogjadrama, Teater Bocah Jogja, Teater Stemka, Secret Invation Movement, dan Komunitas Seni Bajra.


Dalam rilis yang diterima Sukoharjonews.com, Minggu (13/11/2022), parade teater tersebut digelar pada 23-25 Oktober 2022 lalu. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudaya) DIY, Dian Laksmi Pratiwi.

Dalam kesempatan tersebut, Dian menyampaikan bahwa selama dua tahun masa pandemi, pihaknya berusaha dan mencari tahu serta mengkreasikan pola-pola bentuk baru bagaimana teater kemudian bisa diapresiasi khususnya untuk semua seniman budayawan teater maupun masyarakat Yogyakarta lintas masa, lintas generasi, dan lintas lokasi.

Sedangkan Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati mengatakan jika tujuan dari Parade Teater Linimasa #5 adalah untuk memberikan ruang ekspresi dan artikulasi bagi seniman teater lintas generasi dengan harapan salah satunya yaitu sebagai sebuah regenerasi.

“Spirit berkesenian pada tahun ini berbeda dari linimasa sebelumnya. Pasca pandemi ini, teater kembali bertatap dengan penontonnya, kembali membuka ruangnya sehingga seperti kosmik dengan jiwa-jiwa yang mulai membangun peristiwanya,” ujarnya, dikutip dari Jogjaprov.go.id.


Untuk teater yang tampil sendiri, dilakukan pemilihan dengan ketat dan panjang. Dimulai dari pengajuan proposal, mempresentasikan secara detail gagasan karya, hingga terkurasi menjadi enam peserta. Dengan parade tersebut diharapkan mampu memberi ruang ekspresi dan artikulasi bagi seniman teater linimasa generasi dengan harapan lain salah satunya yaitu regenerasi.

Upaya kuratorial dilakukan dengan tetap mengedepankan spirit gagasan dari masing-masing kelompok. Membangun dan menyegarkan kembali ruang menonton seperti sediakala. Ada kerinduan pada jiwa-jiwa dimana panggung menjadi medan magnetik pertemuan antar generasi.

Penampil pertama adalah Teater Amarta yang menampilkan karya berjudul “Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga”. Bercerita tentang “kanca wingking” hanya bertugas mengelola pekerjaan pada ranah keluarga dan segenap urusan yang melingkupinya. Ternyata, ibu-ibu yang bertugas di belakang (wingking) justru memiliki keleluasaan untuk mengontrol hingga mengatur terwujudnya kesejahteraan keluarga.

Perbedaan pandangan itu menciptakan gap sehingga terpisah dalam kelompok-kelompok kecil. Ada dua figure penting representasi golongan tua dan golongan muda yang tidak sejalan dalam menggerakkan PKK, dan ada pula golongan putih yang tak berpihak. (*)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *