Marak Kasus Perundungan di Jateng, Taj Yasin: Optimalkan Upaya Pencegahan dan Edukasi

Ilustrasi. (Foto: Magnific)

Sukoharjonews.com (Semarang) – Kasus perundungan masih muncul di Jawa Tengah. Pemprov Jateng pun berupaya melakukan pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah. Tetapi harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga pendidikan, termasuk pesantren.

Kasus perundungan menjadi perharian Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyusul adanya kasus bullying di Jateng, termasuk kasus dugaan bullying yang siswa MTs di Kabupaten Pati dan kasus di Kabupaten Pemalang akhir-akhir ini.

Menurutnya, kasus perundungan (bullying) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu diatasi oleh semua pihak.

“Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi,” ujar Taj Yasin, dilansir dari laman Pemprov Jateng, Selasa (11/8/2026).

Wagub menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mendorong berbagai upaya preventif. Termasuk, salah satunya melalui Forum Anak Pesantren, sebagai ruang edukasi dan partisipasi anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Selain itu, pendidikan karakter dan pencegahan perundungan juga mulai diperkuat sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Kemarin saat Rapat Koordinasi PAUD, kami menyampaikan bahwa salah satu yang harus dibekali kepada para guru adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman bagi anak-anak. Jangan sampai mereka diberikan beban yang berlebihan,” ujarnya.

Taj Yasin menilai, setiap kasus bullying harus ditangani dengan melihat akar persoalannya. Lingkungan tempat anak tumbuh dan berinteraksi perlu dianalisis, agar penyebab perundungan dapat diidentifikasi secara tepat.

“Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dilakukan di lingkungan sekolah,” katanya.

Wagub juga menekankan pentingnya komunikasi yang intensif antara sekolah dan orang tua, dalam memantau perkembangan perilaku anak, baik di lingkungan pendidikan maupun di rumah.

“Kita harapkan sekolah-sekolah memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Bagaimana perilaku anak di sekolah dan bagaimana perilaku mereka di rumah harus saling diketahui. Dengan begitu, potensi bullying bisa ditekan sejak dini,” ujarnya.

Menurut Gus Yasin, sapaan wagub, meningkatnya laporan atau pengaduan terkait kasus perundungan, justru menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk melaporkan setiap dugaan kekerasan terhadap anak.

“Dengan adanya aduan-aduan ini saya justru senang. Artinya, semakin banyak yang berani melapor, semakin banyak pula kasus yang bisa kita tangani. Itu menunjukkan kepedulian masyarakat semakin baik,” katanya.

Gus Yasin berharap, seluruh elemen masyarakat terus memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan, sehingga anak-anak di Jawa Tengah dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar