Beginilah Rasanya Jadi Pilihan Kedua: Lebih Menyakitkan dari Cinta Sepihak

Penyebab jadi second choice.(Foto:Pexels)

Sukoharjonews.com – Jadi pilihan kedua itu bukan cuma soal cinta yang nggak dibalas, tapi juga soal perasaan yang sering kali diabaikan. Kamu seperti cadangan hanya dicari kalau dia bosan, kesepian, atau tidak ada orang lain yang lebih menarik.

Dilansir dari Thought Catalog, Rabu (23/4/2025), jadi second choice artinya kamu harus siap kecewa. Saat kamu sudah antusias ingin bertemu, dia malah tiba-tiba membatalkan. Kalaupun jadi ketemu, dia malah sibuk main ponsel dan nggak benar-benar hadir untuk kamu. Rasanya kayak kamu yang berjuang sendiri sementara dia cuek.

Kamu pun jadi terbiasa dengar alasan klasik seperti “lupa”, “lagi sibuk”, atau “nggak sempat balas chat” meskipun kamu tahu itu cuma alasan. Tapi kamu tetap terima, berharap dia akan berubah.

Apa pun yang kamu lakukan, sepertinya nggak pernah cukup. Kamu cepat balas pesan, tapi dia lama. Kamu kasih hadiah ulang tahun, dia malah nggak terlalu peduli. Kamu berusaha kasih yang terbaik, tapi tetap merasa seperti kamu nggak cukup baik.

Jadi pilihan kedua juga bikin kamu harus berusaha keras. Kamu yang selalu ngajak ketemuan, kamu yang atur waktu, kamu yang terus mencoba bikin dia tertarik. Tapi dia? Nggak kelihatan niat membalas usahamu.

Dan ketika dia dekat dengan orang lain, rasa cemburu itu muncul tanpa bisa dikendalikan. Kamu lihat dia upload story bareng orang lain, atau flirting terang-terangan, dan kamu nggak bisa apa-apa selain merasa tersingkir.

Bahkan, tanda-tanda kamu cuma cadangan itu kelihatan jelas. Misalnya, dia masih pakai aplikasi kencan, atau kamu lihat chat dengan emoji hati dari orang lain. Kamu kasih perhatian penuh, tapi dia kasih sisa-sisa waktunya.

Kamu juga yang selalu menghubungi lebih dulu, ngajak jalan, dan ngalah demi ketemu. Rasanya semua beban hubungan ada di kamu, sementara dia tinggal menunggu tanpa usaha.

Intinya, jadi pilihan kedua itu seperti kamu berjuang sendirian dalam hubungan yang berat sebelah. Cuma kamu yang berharap, cuma kamu yang peduli, dan kalau hubungan ini berakhir, cuma kamu yang benar-benar patah hati.

Dan malam-malam kamu? Diisi dengan pikiran seperti, “Aku salah apa, sih?” atau “Haruskah aku tetap bertahan?” tapi kamu sendiri juga nggak yakin, apakah ini cinta atau kamu cuma sedang menyakiti diri sendiri.

Tinggalkan Komentar