
Sukoharjonews.com – “Satan’s Slaves: Origin” (judul asli: “Pengabdi Setan 3: Origin”) karya Joko Anwar—babak selanjutnya dalam waralaba horor “blockbuster” sang sineas—telah mendapatkan mitra penjualan global, yaitu Barunson E&A, studio asal Korea yang berada di balik film pemenang Oscar karya Bong Joon Ho, “Parasite”.
Dilansir dari Variety, Rabu (2/9/2026), perusahaan tersebut akan memperkenalkan proyek ini kepada para pembeli internasional di pasar film perdana Toronto Film Festival pada bulan September mendatang.
Meskipun merupakan film ketiga dalam waralaba ini, “Satan’s Slaves: Origin” berdiri sendiri sebagai sebuah prekuel yang menelusuri asal-usul sekte dan perjanjian iblis yang melatarbelakangi dua film pertamanya. Kisahnya bermula dengan wabah histeria massal di Strasbourg pada abad ke-16—yang diangkat dari peristiwa nyata tahun 1518—kemudian beralih ke sebuah mercusuar berhantu di pesisir selatan Pulau Jawa pada abad ke-17. Ini adalah produksi paling ambisius dalam karier Anwar sejauh ini; film ini mencakup dua benua dan menggunakan tujuh bahasa: Indonesia, Alsace, Portugis, Jawa, Belanda, Turki, dan Latin.
“Film ini adalah segalanya yang selama ini saya bangun tanpa saya sadari—film yang akhirnya menjawab dari mana kutukan itu berasal, mengapa kutukan itu tak kunjung berhenti, dan apa sebenarnya tujuan kutukan tersebut,” ujar Anwar. “Penggemar setia akan mendapatkan jawaban yang telah mereka nantikan selama bertahun-tahun. Penonton baru akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan.”
Rapi Films bertindak sebagai rumah produksi, dengan Anwar sebagai penulis naskah sekaligus sutradara, serta Come and See Pictures, Sky Media, dan Legacy Pictures sebagai mitra produksi bersama. Saat ini, film tersebut sedang dalam tahap pra-produksi dan dijadwalkan untuk tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2027.
Nama “Satan’s Slaves” (Pengabdi Setan) memiliki reputasi besar di Indonesia: versi orisinal tahun 1980 dari Rapi Films merupakan film klasik kultus lokal, versi baru garapan Anwar tahun 2017 memuncaki box office lokal tahun tersebut dan dianggap sebagai pemicu kebangkitan tren film horor di tanah air, sementara “Satan’s Slaves: Communion” (2022) menjadi film Indonesia pertama yang tayang dalam format IMAX dan tercatat sebagai salah satu dari enam film lokal terlaris sepanjang masa.
Kesepakatan ini memperpanjang kemitraan eksklusif dua tahun yang telah terjalin antara Anwar dan Barunson E&A. Kolaborasi terakhir mereka, “Ghost in the Cell,” saat ini menempati peringkat kedua dalam daftar box office lokal Indonesia tahun ini. Film horor-komedi tersebut tayang perdana di Festival Film Berlin dan telah mencatatkan lebih dari 3,3 juta penonton domestik serta terjual ke 150 wilayah, dengan Plaion memegang hak distribusi untuk Jerman dan Well Go USA untuk Amerika Utara.
Choi Yoonhee, CEO Barunson E&A, mengatakan, “Setiap kali kami bekerja sama dengan Joko Anwar, skalanya menjadi lebih besar dan ambisinya semakin tajam. ‘Satan’s Slaves: Origin’ berbeda dari karya-karya sebelumnya—sebuah kisah yang melintasi berbagai abad dan benua. Ini adalah bukti dari keyakinan kami selama bertahun-tahun: para pembuat film Indonesia saat ini sedang menghadirkan beberapa kisah bergenre paling berani di dunia, dan kami bangga dapat membantu mewujudkan pencapaian tersebut.”
Proyek ini merupakan tambahan terbaru dalam deretan akuisisi film genre Asia oleh Barunson E&A, yang juga telah terlibat dalam proyek “Inherit” karya Banjong Pisanthanakun, film thriller zombi Indonesia “Zona Merah: Dead City,” serta film okultisme Korea “Stoneborn” karya pembuat film “Exhuma.” (nano)














Facebook Comments