Yang Belum Tahu, Berikut Ini Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya‘ban

Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Malam pertengahan bulan Sya‘ban, kaum muslimin di Indonesia lazim mengisinya dengan berbagai amalan seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, zikir, dan doa bersama. Namun, tidak jarang muncul pertanyaan: bagaimana sebenarnya hukum memperingati malam Nisfu Sya‘ban?

Dikutip dari Bincang Syariah, Sabtu (31/1/2026), dalam khazanah fikih klasik, para ulama dari berbagai mazhab telah membahas keutamaan dan hukum memperingati malam Nisfu Sya‘ban dengan ibadah. Salah satu ulama mazhab Hanafi, Ibnu Najim al-Hanafi, secara tegas memasukkan malam Nisfu Sya‘ban ke dalam kategori malam yang dianjurkan untuk dihidupkan.

Simak penjelasan dalam kitab Al-Bahr ar-Ra’iq Syarh Kanz ad-Daqa’iq, Jilid 2, halaman 56 yang menyatakan bahwa menghidupkan malam nisfu Sya’ban hukumnhy adalah sunnah:

ومن المندوبات: إحياء ليالي العشر من رمضان، وليلتي العيدين، وليالي عشر ذي الحجة، وليلة النصف من شعبان

Artinya: “Di antara amalan yang dianjurkan adalah menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dua malam hari raya, malam-malam sepuluh (awal) bulan Dzulhijjah, dan malam pertengahan bulan Sya‘ban.”

Pandangan serupa juga ditegaskan oleh ulama mazhab Syafi‘i, Syihabuddin al-Qalyubi, dalam Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala Syarh al-Minhaj, jilid 1, halaman 359 menjelaskan bahwa malam Nisfu Sya‘ban termasuk waktu yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah karena menjadi mahal ijabah ad-du‘a (waktu terkabulnya doa).

Simak penjelasan berikut:

يُندَب إحياء ليلتي العيدين بذكرٍ أو صلاةٍ، وأَوْلَاها: صلاة التسبيح، ويكفي مُعظَمُها؛ وأَقَلُّهُ: صلاة العشاء في جماعة، والعزم على صلاة الصبح كذلك، ومثلهما: ليلة نصف شعبان، وأول ليلة من رجب، وليلة الجمعة؛ لأنها مَحَالُّ إجابة الدعاء

Artinya: “Disunnahkan menghidupkan dua malam hari raya dengan zikir atau shalat, dan yang paling utama adalah shalat tasbih. Cukup dilakukan sebagian besarnya, dan yang paling minimal adalah shalat Isya berjamaah serta berniat melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Demikian pula halnya malam Nisfu Sya‘ban, malam pertama bulan Rajab, dan malam Jumat, karena malam-malam tersebut merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa.”

Berdasarkan keterangan para ulama mu‘tabar dari mazhab Hanafi dan Syafi‘i, dapat disimpulkan bahwa memperingati dan menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban hukumnya sunnah (mandub). Praktik ini memiliki dasar yang kuat dalam kitab-kitab fikih klasik dan sejalan dengan tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban dengan berbagai bentuk ibadah merupakan amalan yang baik dan terpuji, selama dilakukan secara proporsional dan tetap berada dalam koridor syariat Islam. Wallahu a‘lam bisshawab. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar