Yang Belum Tahu, Berikut Ini 8 Hadis Keutamaan Hari Jumat

banner 468x60
Ilustrasi shalat Jumat. (Foto: Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Hari Jum’at adalah hari raya mingguannya orang-orang muslim. Mereka akan dipertemukan ketika melaksanakan shalat Jumat yang wajib bagi laki-laki muslim. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab kesepuluh, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan sepuluh hadis tentang fadhilah atau keutamaan hari Jumat yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Dikutip dari Bincang Syariah, Rabu (14/1/2026), berikut 8 hadis keutamaan Hari Jumat:

Hadis 1:

وقال صلى الله عليه وسلم: {سَيِّدُ الأَيَّامِ يَوْمُ الجُمُعَةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tuannya hari-hari adalah hari Jumat.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam As-Syafii’ dalam kitab Musnadnya dari sahabat Ibnu Al-Musayyab. Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya dari sahabat Abu Lubabah Al-Badri bin Abdul Mundzir serta imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya, imam Al-Baihaqi dalam kitab Syuabul Imannya, dan imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadraknya dari sahabat Abu Hurairah r.a., juga meriwayatkan hadis ini dengan redaksi yang lebih panjang.

Hadis 2:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَخَطَايَاهُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mandi di hari jum’at maka dosa-dosa (yang kecil) dan kesalahan-kesalahannya telah dilebur darinya.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Thabrani di dalam kitab Al-Mu’jam dengan redaksi yang agak panjang lagi dari Abu Bakar r.a. dan Imran bin Hushain. Menurut imam An-Nawawi Al-Bantani, maksud dari hadis tersebut adalah sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh imam Al-Hakim dari sahabat Qatadah r.a. bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mandi di hari Jumat maka ia dalam keadaan suci (secara maknawi) sampai Jumat berikutnya.”

Hadis 3:

وقال صلى الله عليه وسلم: {إنَّ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَلَيْلَتَهَا أَرْبَعَةٌ وعِشْرُونَ سَاعَةً يَعْتِقُ الله في كُلِّ سَاعَةٍ مِنْها ستُّمائَةِ ألْفِ عَتِيقٍ مِنَ النَّارِ}

Nabi saw. bersabda, “Sungguh hari dan malam Jumat itu ada dua puluh empat jam, Allah membebaskan di setiap jamnya enam ratus budak (penghuni) dari neraka.” Penulis belum menemukan riwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani yang telah mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayatnya. Hanya saja beliau menerangkan hadis yang semakna dengan hadis tersebut yang beliau riwayatkan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dari sahabat Anas bin Malik.

Hadis 4:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ تَرَكَ الجُمُعَةَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَلْيَتَصَدَّقْ بِدينارٍ فَإنْ لَمْ يَجِدْ فَنِصْف دينارٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Jumat dengan tanpa alasan maka sedekahlah satu dinar, jika tidak mendapatkannya, maka setengah dinar.” Hal itu adalah sebagai denda kafarat baginya. Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari Samurah bin Jundub dengan sanad yang shahih.

Hadis 5:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنا بِها طَبَعَ الله عَلَى قَلْبِهِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang meninggalkan tiga jumatan dengan meremehkannya maka Allah telah menutup di atas hatinya.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah dari Al-Ja’d dengan sanad yang hasan.

Hadis 6:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ المُنَافِقِينَ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang meninggalkan tiga jumatan dengan tanpa alasan maka ia ditulis termasuk orang-orang munafik.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabrani dari Usamah bin Zaid.

Hadis 7:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ مَاتَ يَوْمَ الجُمُعَةِ أوْ لَيْلَتَهَا رُفِعَ عَنْهُ عَذَابُ القَبْرِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang meninggal dunia di hari Jumat atau malamnya maka adzab kubur telah diangkat darinya.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dengan redaksi yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama sebagai berikut.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ. رواه أحمد.

Dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang meninggal dunia di hari Jumat atau malam Jumat maka ia akan terjaga dari fitnah kubur.” H.R. Ahmad. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tentu saja kematiannya tersebut dalam keadaan iman kepada Allah swt.

Hadis 8:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ يَوْمَ الجُمُعَةِ لِصَاحِبِهِ والإمَامُ يَخْطُبُ أنْصِتَ، أوْ تَكَلَّمَ أَوْ عَبِثَ أَوْ أَشَارَ بِيَدِهِ أَوْ بِرَأْسِهِ فَقَدْ لَغَا وَمَنْ لَغَا فَلاَ جُمُعَةَ لَهُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang berkata kepada temannya di hari Jumat sedangkan imam sedang berkhutbah maka (hendaknya) ia diam, atau ia berbicara, melakukan hal yang tidak ada artinya (bermain), memberikan isyarat dengan tangan atau kepalanya, maka ia telah sia-sia, dan siapa yang sia-sia maka tidak ada jumat baginya.”

Penulis belum menemukan hadis ini diriwayatkan oleh siapa. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits tidak menyebutkan perawi hadis ini. Hanya saja, imam An-Nawawi menyebutkan hadis-hadis lain yang semakna dengannya, yang di antaranya adalah hadis yang beliau kutip dari imam Ibnu Asqalani dalam kitab Bulughul Maram sebagai berikut.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا وَالَّذِي يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ. رواه أحمد.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang berbicara di hari Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka ia seperti himar (keledai) yang memikul kitab-kitab yang tebal. Dan orang yang berkata kepadanya, “Diamlah” maka tidak ada Jumat baginya.” H.R. Ahmad.

Imam Ibnu Asqalani mengatakan bahwa hadis ini merupakan tafsir/penjelasan dari hadis riwayat imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah yang marfu’ kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Jika kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah’ di hari Jumat dan imam sedang khutbah, maka sungguh kalian telah berbuat sia-sia.”

Hadis 9:

وقال صلى الله عليه وسلم: {غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Mandi di hari Jumat itu wajib atas setiap orang yang balig.”

Hadis keutamaan hari Jumat ini diriwayatkan oleh imam Malik, Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri. Imam An-Nawawi Al-Bantani menerangkan bahwa maksud dari wajib di sini adalah bukan wajib fardhu, tetapi ditakwil dengan wajib dalam hal kesunnahan, wibawa, atau etika yang baik. Jadi, etikanya bagi setiap orang yang sudah balig adalah mandi di hari Jumat ketika hendak berangkat shalat.

Hadis 10:

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أَدْرَكَ الجُمُعَةِ فَلَهُ عِنْدَ الله أَجْرُ مائةِ شَهِيدٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang melaksanakan shalat Jumat maka baginya di sisi Allah pahala seratus orang yang mati syahid.” Penulis belum menemukan hadis ini diriwayatkan oleh siapa. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits tidak menyebutkan perawi hadis ini. Hanya saja, imam An-Nawawi menyebutkan hadis lain sebagai keterangan hadis ini dari imam Ad-Daruquthni sebagai berikut.

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الجُمُعَةِ رَكْعَةً فَلْيَصِلْ إلَيْهَا أُخْرَى وَمَنْ فَاتَتْهُ الرَّكْعَتَانِ فَلْيُصَلِّ أرْبَعا» أوقال الظهر رواه الدارقطني فأو للشك من الراوي

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mendapati dari shalat Jumat satu rakaat maka sambunglah untuknya rakaat lainnya (menambah satu rakaat) dan siapa yang tertinggal dua rakaat, maka shalatlah empat rakaat atau ia berkata Dhuhur. H.R. Ad-Daruquthni, kata au (atau) merupakan keragua-raguan dari rawi.

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang 8 hadis tentang keutamaan hari Jumat di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya.

Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *