Yang Belum Tahu, Berikut Ini 6 Ciri-ciri Orang Masuk Surga di Akhirat

Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin, Juz 1, halaman 7, menguraikan enam amalan utama yang menjadi bekal bagi seseorang untuk meraih surga di akhirat. Berikut adalah ringkasan dari 6 ciri-ciri orang masuk surga kelak di akhirat.

Dikutip dari Bincang Syariah, Selasa (20/1/2026), simak penjelasan Ibnu Qudamah berikut;

إعلم أن السالك لطريق الآخرة لا يخلو من ستة أحوال : إما أن يكون عابداً، أو عالماً، أو متعلماً، أو والياً، أو محترفاً، أو مستغرقاً بمحبة الله مشغولاً به عن غيره

Artinya: “Ketahuilah bahwasannya seseorang yang menempuh jalan akhirat, mereka tidak lepas dari enam kondisi, yaitu, adakalanya dia seorang yang ahli ibadah, alim, pengajar, penguasa, pekerja, atau dia tenggelam dalam cinta kepada Allah dan sibuk dengan Allah dan mengenyampingkan selain Allah”.

Adapun penjelasan dari penegasan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi di atas sebagai berikut:

Pertama, ahli ibadah. Ahli ibadah adalah mereka yang senantiasa memenuhi hari-harinya dengan berbagai aktivitas ibadah. Mereka menghabiskan waktu untuk membaca dan menghayati ayat-ayat suci al-Qur’an, sehingga hati mereka dipenuhi ketenangan dan ketentraman.

Selain itu, mereka juga memperbanyak dzikir seperti tasbih untuk senantiasa mengingat kebesaran Allah, serta shalawat sebagai bentuk penghormatan dan cinta kepada Rasulullah. Tidak hanya itu, bagi mereka yang memiliki kesempatan, memperbanyak tawaf di sekitar Ka’bah menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merasakan keagungan-Nya secara langsung.

Mereka yang demikian ini adalah golongan yang diberi keutamaan oleh Allah untuk memasuki surga-Nya. Dengan kesungguhan dan ketulusan dalam beribadah, mereka bukan hanya sekadar melaksanakan kewajiban, tetapi juga menambah amalan-amalan sunnah yang penuh dengan pahala.

Ketaatan dan kecintaan mereka pada Allah terlihat dari dedikasi mereka dalam memperbanyak ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Maka, bagi mereka, surga menjadi balasan yang paling layak sebagai tempat kembali yang penuh kebahagiaan dan kedamaian abadi.

Kedua, orang alim. Mereka yang memiliki pengetahuan yang luas dan menggunakannya untuk memberi fatwa, menulis buku, serta berceramah berkontribusi besar dalam membimbing masyarakat. Dengan berbagi ilmu, mereka membantu orang lain memahami ajaran agama dan menjalani kehidupan yang lebih baik sesuai syariat.

Orang alim yang sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk belajar, menulis, dan menyampaikan ilmu dianggap lebih utama daripada sekadar melaksanakan shalat sunnah. Aktivitas ini tidak hanya memperkaya diri mereka sendiri, tetapi juga memberikan manfaat yang luas bagi umat.

Melalui ceramah dan tulisan, mereka mampu menyentuh hati banyak orang, menyebarkan kebaikan, dan mengajak kepada jalan yang benar. Dengan demikian, komitmen mereka dalam menyebarkan ilmu menjadi salah satu jalan penting menuju surga, mengingat ilmu adalah cahaya yang menerangi kegelapan kehidupan.

Ketiga, pelajar atau penuntut ilmu. Mendalami ilmu agama bukan hanya tentang menjalankan ritual, tetapi juga memahami makna dan tata cara ibadah dengan baik. Setiap aktivitas ibadah, seperti shalat dan puasa, memerlukan pengetahuan agar dapat dilakukan dengan benar sesuai syariat.

Dengan demikian, seorang pelajar yang menginvestasikan waktu dan tenaga untuk belajar akan mendapatkan keutamaan besar di sisi Allah, menjadikannya salah satu dari golongan yang dijanjikan surga.

Keempat, penguasa atau pemimpin. Seperti, presiden, gubernur, bupati, atau instansi pemerintah lainnya. Mereka mempunyai wewenang untuk menentukan suatu kebijakan. Apabila kebijakan itu tujuannya untuk menjungjung tinggi keadilan, maka pahalanya sangat besar, karena ia memberi manfaat dan keamanan bagi rakyatnya.

Kelima, mencari nafkah untuk menghidupi atau mencukupi kebutuhan keluarga. Ia sangat giat bekerja, akan tetapi diwaktu yang kosong ia tidak lupa untuk berzikir mengingat Allah.

Keenam, tenggelam dalam kecintaan atau kerinduan kepada Allah. Mereka ini memiliki hati yang selalu terikat dengan-Nya, meskipun dikelilingi oleh berbagai aktivitas sehari-hari. Ketika menjalani hidup, ingatan mereka akan Allah tidak pernah pudar, dan setiap langkah yang mereka ambil dipenuhi dengan niat yang tulus untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Orang-orang ini mampu menyeimbangkan kewajiban duniawi dan spiritual dengan baik. Dalam kesibukan mereka, mereka tetap menemukan waktu untuk berdoa, berdzikir, dan merenungkan kebesaran Allah. Kecintaan mereka tidak hanya terpancar dalam hati, tetapi juga terlihat dalam tindakan mereka sehari-hari. Keberadaan Allah senantiasa menyertai setiap keputusan dan perbuatan, sehingga mereka menjadi teladan bagi orang lain dalam mencintai dan mengingat Allah di setiap momen hidup.

Pada dasarnya 6 hal yang telah disebutkan di atas menggambarkan bahwa banyak sekali jalan dan cara untuk menempuh kebahagiaan di akhirat. Oleh karena itu, hendaknya kita memberikan perhatian yang besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menuju akhirat. Wallahu a’lam bishawab. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar