Yang Belum Tahu, Berikut Ini 5 Macam Ruh dalam Islam

Ilustrasi. (Foto: Bincang Syariah)

Sukoharjonews.com – Dalam artikel ini akan membahas tentant 5 macam ruh dalam Islam. Sejatinya, pembahasan soal ruh perspektif Islam termasuk tema yang sedikit kontroversi. Sebab, membahas hakikat ruh sendiri, Nabi tak berani menjelaskannya secara gamblang ketika beliau ditanya mengenai ruh.

Dilansir dari Bincang Syariah, Sabtu (30/5/2026), peristiwa inilah yang menjadi latar belakang turunnya Al-Qur’an surah al-Isra ayat 85 sebagai berikut.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا : الإسراء: 85

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. [Al Isra: 85]

Dalam mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, sudah sepakat bahwa ruh termasuk pengetahuan yang mana Allah memonopoli nya.

5 Macam Ruh
Tetapi demikian, meski tidak sampai pembahasan hakikat ruh, ada 5 klasifikasi yang diidentifikasi oleh Ulama berikut klasemennya sebagaimana Syekh Abu Bakar Syatha al-Dimyathi menjelaskan dalam kitabnya I’anah al-Thalibin juz 2 halaman 123.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأَرْوَاحَ عَلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ: أَرْوَاحُ الْأَنْبِيَاءِ: وَأَرْوَاحُ الشُّهَدَاءِ وَأَرْوَاحُ الْمُطِيعِينَ، وَأَرْوَاحُ الْعُصَاةِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ، وَأَرْوَاحُ الْكُفَّارِ

“Ketahuilah bahwa ruh ada lima macam. Pertama, ruhnya para Nabi. Kedua, ruhnya para syahid. Ketiga, ruhnya para hamba yang taat. Keempat, ruhnya hamba yang membangkang. Kelima, ruhnya orang-orang kafir”.

Klasemen 5 Macam Ruh
Adapun klasemen yang diperoleh dari masing-masing ruh maka tentu berbeda satu sama lain sebagaimana dikatakan oleh Syekh Khatib al-Syarbini dalam kitabnya, Hasyiah al-Bujairami ‘Ala al-Khatib juz 2 halaman 265.

Pertama, ruh para nabi: ruhnya mereka meninggalkan tubuhnya, menjadi seperti misk dan kapur barus, dan berada di surga, makan, bersenang-senang, dan berlindung di malam hari di lampu yang tergantung di bawah singgasana.

Kedua, ruh orang-orang yang mati syahid. Ketika ruh mereka keluar dari jasadnya, Allah tempatkan mereka di dalam rongga burung-burung hijau yang beredar di sungai-sungai surga, memakan buah-buahnya, meminum airnya, dan berlindung pada pelita-pelita emas yang tergantung di langit. Inilah yang dikatakan Rasulullah.

Ketiga, ruhnya orang beriman yang taat: ruhnya mereka berada di taman surga, mereka tidak makan dan tidak bersenang-senang, melainkan hanya memandang surga.

Keempat, ruh orang-orang mukmin yang durhaka: ruhnya mereka berada di antara langit dan bumi di udara.

Kelima, ruhnya orang-orang kafir: ruhnya mereka berada di dalam lubang burung hitam di penjara, dan menjadi tawanan di bawah bumi ketujuh, dan mereka terhubung dengan tubuh mereka, sehingga jiwa mereka tersiksa, dan tubuh itu menderita. Bagaikan matahari yang berada di langit keempat, dan cahayanya ada di bumi, sebagaimana ruh orang-orang mukmin berada di langit, diberkati dan cahayanya menyatu dengan jenazah.

Itulah penjelasan 5 klasifikasi ruh berikut masing-masing klasemennya. Pembagian klasemen tersebut bertautan dengan ketakwaan seorang hamba yang adakalanya ada yang menjadi Nabi dan Utusannya.

Dalam kalangan Ahlussunnah waljamaah, pembahasan ruh lebih tidak ingin membahasnya dan memasrahkan kepada Tuhan.

Definisi Mati dan Ruh dalam Berbagai Sudut Pandang
Hanya saja, pembahasan ruh tak bisa terhindarkan lantaran bertitik tolak dari pembahasan kematian yang merupakan peristiwa niscaya pada diri makhluk. Syekh Khatib al-Syarbini kemudian menjelaskan tiga definisi tentang mati.

Pertama, kematian adalah terpisahnya ruh dari badannya seorang insan. Sementara definisi kedua mengatakan, kematian adalah sifat yang menjadi kebalikan dari kehidupan. Dan pengertian ketiga menjelaskan bahwa kematian adalah tiadanya kehidupan dari situasi kehidupan itu sendiri. Menurut Syekh Khatib, pengertian ketiga inilah yang lebih bagus. (Hasyiah al-Bujairami ‘Ala al-Khatib juz 2 halaman 26).

Adapun ruh, menurut mayoritas ulama Ahlusunnah waljaamah, adalah hal yang tal mungkin diketahui hakikatnya karena pengetahuan itu miliki Allah semata. Hal ini juga diungkapkan oleh Imam al-Junaid al-Bagdadi sebagai mazhab dalam tasawuf kalangan Ahlusunnah wal Jamaah.

كما قال الجنيد: الروح شئ استأثر الله بعلمه ولم يطلع عليه أحدا من خلقه

“Ruh adalah sesuatu yang Allah monopoli pengetahuannya dan tidak ada seorangpun makhluknya yang mampu memahaminya”. (Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin 2: 123).

Sedangkan kalangan Mutakallimin berpendapat bahwa ruh adalah jism (benda) yang halus yang menyatu dengan badan sebagaimana bercampurnya air dengan kayu hijau yang tetap dan tidak akan fana. Kalangan Mutakallimin yang lain berpendapat sebagai sifat kehidupan yang mana dengan adanya ruh, badan bisa hidup.

Beda dengan Ahlussunnah dan mutakallimin, beda lagi dari kalangan Sufi dan Filosof yang memahami ruh bukan jisim dan sifat. Sebagaimana dikutip Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyati dalam I’anah al-Thalibin juz 2 halaman 123.

وأما الصوفية والفلاسفة فليست عندهم جسما ولا عرضا، بل هو جوهر مجرد غير متحيز، يتعلق بالبدن تعلق التدبير، وليس داخلا فيه ولا خارجا عنه

“Adapun kalangan Sufi dan Filosof mengatakan bahwa ruh bukanlah jism dan sifat melainkan suatu eksistensi yang sepi dan samar. Ruh itu berkaitan dengan badan untuk mengatur. Tetapi ruh tidak di dalam dan luar badan”. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar