Sukoharjonews.com – Pemerataan internet tidak lagi bergantung pada pembangunan BTS semata, tetapi disesuaikan dengan kondisi geografis, jumlah penduduk, dan kebutuhan setiap wilayah.
Hal tersebut dikatakan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.
Menurut Nezar, pemerintah mulai mengubah paradigma pembangunan konektivitas nasional. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah akan memadukan BTS, fiber optik, satelit, dan teknologi lain agar layanan internet dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk di daerah dengan medan yang sulit.
“Kita coba petakan mana yang prioritas. Yang mungkin tidak bisa ditembus dengan BTS, mungkin lewat satelit atau moda jaringan telekomunikasi yang lain,” ujar Nezar Patria, dilansir dari laman Komdigi, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Nezar, pendekatan tersebut diperlukan karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda.
Pemerintah akan menentukan teknologi yang paling tepat berdasarkan kondisi lapangan sehingga pembangunan konektivitas menjadi lebih efektif sekaligus mampu menjangkau wilayah yang selama ini sulit memperoleh akses internet.
“Provinsi Kalimantan Timur salah satu yang terbaik dalam soal konektivitas 95,5 persen. Dari 841 desa itu yang sudah terkover 803,” ujarnya.
Menurut Wamen Nezar, pemerintah masih mencatat adanya 269 titik blankspot yang perlu diprioritaskan penyelesaiannya melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BAKTI, dan operator telekomunikasi.
Wamen Nezar menegaskan keterbatasan anggaran tidak boleh menghambat pemerataan akses digital.
Karena itu, kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan konektivitas di wilayah yang masih mengalami blankspot maupun sinyal lemah.
“Dengan sinergi yang kita lakukan, kita bisa saling menguatkan dan mewujudkan beberapa titik yang memang dibutuhkan oleh masyarakat,” tegasnya. (nano)
Tinggalkan Komentar