Sukoharjonews.com (Jakarta) – Dalam upaya menjaga ekosistem di sepanjang Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), PT Hutama Karya (Persero) membangun Underpass Perlintasan Gajah (UPG) di beberapa titik JTTS.
Dengan adanya UPG, sosok seperti “Getar” dan “Codet” kini dapat bergerak bebas di wilayah Riau dengan lebih aman. Inovasi ini tidak hanya menjadi solusi infrastruktur, tetapi juga bukti komitmen untuk menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian satwa langka Indonesia.
Pembangunan UPG memungkinkan gajah berpindah antarhabitat tanpa hambatan, dengan desain terowongan yang disesuaikan berdasarkan data perjalanan dan perilaku mereka. Teknologi GPS collar digunakan untuk memantau pergerakan dan keberadaan gajah secara real-time, memastikan aktivitas tetap alami serta populasi tetap terjaga.
Kehadiran jalan tol pun tidak lagi menjadi ancaman, melainkan mendukung keberlangsungan ekosistem Gajah Sumatra di Riau.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, menjelaskan bahwa perusahaan menjadi pelopor perlindungan satwa dilindungi melalui pembangunan enam UPG di Jalan Tol Pekanbaru – Dumai (Permai) sepanjang 131,5 km.
“Teknologi GPS collar yang kami pasang membantu memahami pola perjalanan gajah antara dua kantong habitat utama untuk tujuan perkawinan, sehingga desain terowongan dapat optimal.”
“Data menunjukkan bahwa program konservasi tahun 2024 memberikan hasil nyata bagi kelestarian gajah Sumatra. Upaya ini menjadi contoh harmonisasi pembangunan dan pelestarian, menginspirasi proyek infrastruktur ramah lingkungan di masa depan,” jelasnya, dikutip dari laman KabarBUMN, Kamis (14/8/2025).
Adjib melanjutkan, teknologi tersebut mampu mengidentifikasi pola migrasi gajah, dengan periode September hingga November sebagai masa paling aktif pergerakan gajah jantan. Berdasarkan data tersebut, jadwal perawatan terowongan dapat diatur dan kewaspadaan tim monitoring ditingkatkan.
Data juga mengungkap bahwa gajah jantan dari kantong Balai Raja sering menuju kantong Giam Siak Kecil untuk mencari pasangan.
“Perjalanan cinta ini mencakup jarak puluhan kilometer dan menjadi dasar pembangunan underpass di kilometer 12, 61, 69, 71, 73, dan 76. Terowongan ini memiliki tinggi 5,1 meter dan lebar hingga 45 meter, memfasilitasi pergerakan alami sekaligus melindungi keselamatan gajah,” tambahnya.
Pemantauan intensif selama lima tahun memperlihatkan pola migrasi yang rutin dan dapat diprediksi. Perawatan terowongan dilakukan secara berkala untuk mengatasi genangan air, sementara kamera trap dipasang di setiap lokasi underpass untuk memperoleh data akurat terkait perilaku dan frekuensi penggunaan.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) menegaskan bahwa pergerakan ini merupakan perilaku alami yang penting untuk menjaga keragaman genetik.
“Gajah seperti Codet yang berusia 70 tahun dan Getar yang berusia 35 tahun adalah contoh nyata bagaimana satwa ini bergantung pada koridor aman untuk keberlangsungan hidup mereka,” ujar Genman S. Hasibuan, Kepala BBKSDA Riau.
Melalui sistem SMART Patrol, pertumbuhan vegetasi pakan dan pergerakan gajah dapat dipantau secara real-time menggunakan satelit dan artificial intelligence. Setiap gajah yang dilengkapi GPS collar bisa dipantau lokasinya setiap 30 menit, sehingga tim dapat melakukan mitigasi dini bila gajah mendekati permukiman.
Sejak program ini dijalankan, angka kecelakaan akibat konflik dengan satwa liar menurun hingga nol persen. Informasi peringatan dini juga diberikan kepada pengguna Tol Permai melalui VMS (Variable Message Sign) dan aplikasi mobile.
“Keberhasilan program ini terukur melalui data lapangan yang komprehensif: tidak ada lagi insiden gajah menyeberang jalan tol secara berbahaya sejak optimalisasi underpass tahun 2023,” jelas Adjib.
Hutama Karya juga berencana menerapkan konsep ini di proyek jalan tol lain yang melintasi habitat satwa dilindungi, termasuk Tol Sigli – Banda Aceh. Selain melindungi habitat, Hutama Karya juga mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar jalan tol melalui program ekonomi hijau berkelanjutan.
Masyarakat setempat dilibatkan aktif dalam penanaman dan budidaya tanaman pakan gajah. Kelompok Tani Hutan Alam Pusaka Jaya di Dusun Bahorok, Desa Pinggir, menerima bantuan 125 bibit durian montong premium, 4.000 bibit rumput odot, dan 3.000 batang jeruk nipis.
Jeruk nipis berfungsi sebagai penghalang alami gajah, rumput odot menjadi pakan favorit, dan durian montong diharapkan menjadi sumber ekonomi alternatif. Program ini telah memberi manfaat pada 75 kepala keluarga di 2024, meningkat dari 50 KK di tahun sebelumnya, dengan tambahan pendapatan rata-rata Rp2,5 juta per KK per tahun. (nano)
Tinggalkan Komentar