Sukoharjonews.com – Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) menggelar “International Guest Lecture”, Selasa (7/4/2026). Acara tersebut mengambil tema “Merajut Masa Depan: Praktik Terbaik Pendidik & Teknologi Pendidikan dari Dunia untuk SDGs” dengan menghadirkan nara sumber dari tiga negara.
Ketiga nara sumber yang dihadirkan masing-masing Prof Deshinta Arrova Dewi dari INTI International University Malaysia, Célestin Havyarimana dari University of Burundi, dan Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dari Chiba University Jepang.
Ketua Panitia, Prof Dewi Musumaningsih menyampaikan acara tersebut bertujuan untuk memberikan wawasan internasional kepada para mahasiswa dan dosen tentang tren inovasi pendidikan di FKIP. Kemudian, menyediakan ruang diskusi akademik lintas negara yang memperkaya pemahaman global.
“Mendukung implementasi SDGs melalui pendidikan dan teknologi. Meningkatkan kolaborasi akademik dengan institusi pendidikan luar negeri, serta menguatkan kapasitas mahasiswa dalam literasi global, teknologi, dan pedagogi modern,” ujarnya.
Dewi juga menyampaikan jika dalam acara sekaligus dilakukan penandatangan MoU, MoA, dan “Implementation Arrangement” dengan Univesity of Burundidan INTI International University Malaysia.
Dekan FKIP Univet Bantara Sukoharjo, Dr Pranichayudha Rohsulina, menambahkan, pendidikan memiliki tanggung jawab yang selalu diisi dalam mendukung pencapaian SDGs. Pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkeadilan merupakan fondasi utama untuk membangun masyarakat yang berkelajuan.
“Oleh karena itu, integrasi antara praktik terbaik pendidik dan kemanfaatan teknologi pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan dampak nyata bagi masa depan,” ujarnya.
Pranichayudha juga mengatakan, ada 13 program studi (prodi) di FKIP Univet akan bekerjasama dengan University of Burundi.
Sementara itu, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof Farida Nugrahani dalam “Opening Speech”-nya menyampaikan, saat ini terjadi ketimpangan dan terjadi disrupsi teknologi sehingga menjadi tantangan global. “Yang menjadi pertanyaaan, bagaimana langkah untuk mengatasinya?,” ujarnya
Farida melanjutkan, untuk menjawabnya, ternyata pendidikan adalah kunci utama bagi perubahan tersebut. Menurutnya, tantangan pendidikan dalam konteks ini, sesuai data UNESCO menunjukkan bahwa 244 juta anak dan remaja di dunia saat ini tidak sekolah. Dari 244 juta tersebut, 70% berada di negara berkembang dan mengalami “learning poverty”, yakni ketidakmampuan memahami text sederhana.
“Contohnya, saat ini banyak ditemukan anak-anak lulus SD tapi belum bisa membaca dan ini betul-betul terjadi. Kondisi mungkin juga terjadi di negara lain,” ujarnya.
Sebagai sebagai institusi perguruan tinggi, lanjutnya, merupakan “center of knowledge” atau pusat dari ilmu pengetahuan, “center of innovation” atau pusat inovasi, serta “center of impact”.
“Pak Menteri sudah menekaskan bahwa perguruan tinggi harus berdampak dan berkelajutan,” ujarnya.
Farida juga mengatakan, dibutuhkan pemikiran kritis yang sekaligus memberikan solusi. Kemudian memperluas akses pembelajaran, dan membangun karakter dan pilihan kemanusiaan untuk merajut masa depan. (nano)
Tinggalkan Komentar