UMKM Jateng Mendunia dengan Produk Berbahan Limbah

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng, Nawal Arafah Yasin meninjau stan UMKM Jateng. (Foto: Pemprov Jateng)

Sukoharjonews.com (Semarang) – Dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, beragam produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kerajinan unggulan Jawa Tengah dipamerkan di Kompleks Kantor Gubernur. Dalam event tersebut, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng, Nawal Arafah Yasin mengunjungi pameran dan meninjau sejumlah stan.

Salah satu yang menarik perhatian ialah stan Dekranasda Kabupaten Semarang, yang memanfaatkan limbah sebagai bahan baku. Beragam produk ditawarkan oleh UMKM Tanganku, mulai dari batik ecoprint, tas dan suvenir, aksesori, hingga alas kaki. Menariknya, sebagian produk tersebut menggunakan plastik dan berbagai limbah yang sudah tidak digunakan sebagai bahan baku.

Produk berbahan limbah itu tidak hanya memiliki nilai kreativitas, tetapi juga telah dipasarkan ke sejumlah negara. Bahkan, penjualan suvenir Tanganku pada periode ramai wisatawan di Bali dapat menghasilkan omzet lebih dari 1.500 dolar AS atau sekitar Rp26,7 juta.

“Tadi Pak Wagub dan Ibu membeli tas, souvenir, itu semua sudah ekspor. Kalau souvenir ini Australia, Jepang, Taiwan, China, Samoa, Amerika, sama Singapura,” kata pemilik sekaligus desainer Tanganku, Kokos Trisada.

Dia menjelaskan, bahan baku produk Tanganku berasal dari limbah yang dikumpulkan di sekitar Kabupaten Semarang. Bahan itu kemudian dikembangkan oleh tim menjadi suvenir yang menyasar wisatawan, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Bali dan Danau Toba.

Untuk memperluas pasar, Tanganku memiliki dua lokasi di Bali yang menjadi basis penjualan produk kepada wisatawan mancanegara. Pada periode ramai kunjungan wisatawan, omzet produk suvenir disebut dapat mencapai lebih dari 1.500 dolar AS.

“Kalau dari nilai dolarnya itu fluktuatif. Ini kebetulan Juli sampai Oktober di Bali agak ramai. Jadi kalau untuk souvenirnya aja di luar sandal ya ini bisa tembus di atas 1.500 dolar (AS),” ungkap Kokos.

Kokos mengatakan, konsep penjualan yang dikembangkan adalah ekspor tenteng, yakni produk yang mudah dibawa wisatawan saat kembali ke negara asal. Konsep ini dinilai relevan dengan kondisi bagasi pesawat yang semakin terbatas.

Dalam event yang sama, Nawal Arafah juga meluncurkan Klinik Ekspor yang akan beroperasi di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng. Klinik tersebut sebagai wadah konsultasi bagi pelaku usaha, yang ingin mendapatkan informasi serta pendampingan untuk mengakses pasar luar negeri.

“Klinik ini yang pertama nantinya bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bagaimana caranya UMKM-UMKM ini bisa ekspor. Kemudian pendampingan mengenai legalitas, administrasi, juga untuk peningkatan kapasitas, standarisasi produk, bisa kemudian konsultasi di klinik ekspor ini,” tambanhnya. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar