Terima Penghargaan Seni Prancis, Sutradara Garin Nugroho Naik ke Level Lebih Tinggi

Garin Nugroho saat terima penghargaan. (Foto: Variety)

Sukoharjonews.com – Sineas film Indonesia ternama Garin Nugroho telah diangkat ke peringkat Officier dans l’Ordre des Arts et des Lettres oleh Kementerian Kebudayaan Prancis, menerima salah satu penghargaan budaya tertinggi di negara ini sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap perfilman.

Dikutip dari Variety, Kamis (4/12/2025), Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, menyerahkan penghargaan tersebut kepada Nugroho dalam acara Malam Prancis di Pasar JAFF di Institut français d’Indonésie di Yogyakarta. Sutradara tersebut sebelumnya telah dianugerahi gelar Chevalier pada tahun 2015.

Didirikan pada tahun 1957, Ordo Seni dan Sastra memberikan penghargaan kepada individu-individu yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi budaya di Prancis dan dunia. Penghargaan ini mengakui karier Nugroho selama puluhan tahun dalam membentuk sinema Indonesia dan memperluas kehadiran internasionalnya.

Nugroho mengukir sejarah pada tahun 1998 ketika filmnya “Daun di Atas Bantal” menjadi film panjang Indonesia pertama yang terpilih untuk Festival Film Cannes, diputar di bagian Un Certain Regard. Tonggak sejarah ini membuka pintu bagi sinema Indonesia di Prancis dan internasional.

Karyanya telah mempertahankan resonansi yang kuat di kalangan penonton dan institusi Prancis. “Memories of My Body” memenangkan Montgolfière d’Or di Festival des 3 Continents di Nantes pada tahun 2018. Pada tahun 2023, Musée du Quai Branly – Jacques Chirac menyelenggarakan pertunjukan “Setan Jawa” sebagai sebuah sinetron-konser berskala besar yang menampilkan orkestra simfoni dan ansambel gamelan.

Kolaborasi ini berlanjut dengan “Daun di Atas Bantal” yang akan membuka acara Panorama Sinema Indonesia di Cinémathèque française di Paris pada 10 Desember. Retrospektif akbar ini akan menampilkan beberapa dekade perfilman Indonesia dan mendatangkan sutradara-sutradara terkemuka Indonesia ke ibu kota Prancis.

Film terbaru Nugroho, “Samsara” (2024), memadukan sinema, musik live, tradisi Bali, dan bentuk-bentuk kontemporer. Karya hibrida ini meraih empat penghargaan Citra pada tahun 2024, termasuk penghargaan sutradara terbaik, sinematografi terbaik, musik terbaik, dan desain produksi terbaik.

Selain perfilman, Nugroho mendirikan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF), festival film independen terkemuka di Indonesia. Ia meluncurkan JAFF Market pada tahun 2024 sebagai platform industri film pertama festival tersebut. Kolaborasinya dengan Prancis telah memfasilitasi berbagai inisiatif, termasuk Indonesia-France Film Lab, yang mempertemukan para sineas Indonesia yang sedang naik daun dengan para profesional industri Prancis untuk mendapatkan bimbingan.

Sejak 2023, Nugroho menjabat sebagai kepala program budaya di GIK UGM, tempat ia mengembangkan proyek-proyek yang menghubungkan budaya dengan pendidikan, kreasi, dan keterlibatan publik, seringkali bekerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis.

“Karya sinematik Garin Nugroho serta kepemimpinannya dalam lanskap budaya Indonesia telah menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia perfilman Asia Tenggara,” ujar Penone. “Berkat keterlibatannya yang mendalam dengan Prancis, ia telah mempererat hubungan antara komunitas film kita dan memperkuat kerja sama budaya antara kedua negara kita.”

Film panjang perdana Nugroho, “Cinta dalam Sepotong Roti,” dirilis pada tahun 1990. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar