Tahun 2025 Terjadi Lima Kasus Kematian Akibat DBD, DKK Sukoharjo Imbau Masyarakat Waspada

banner 468x60
Ilustrasi.

Sukoharjonews.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Pada kurun waktu 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo mencapat terdapat 244 kasus DBD dimana lima kasus diantaranya menyebabkan kematian.

“Masyarakat harus selalu waspada dan menerapkan perilaku hidup sehat dan selalui menjaga lingkungan bersih agar tidakmenjadi sarang nyamuk,” ujar Sekretaris DKK Sukoharjo, Didik Prasetyo Indriyanto, Sabtu (24/1/2026)

Menurutnya, berdasarkan data DKK, tren kasus DBD di Kabupaten Sukoharjo dalam tiga tahun terakhir menunjukkan fluktuasi. Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 233 kasus DBD. Jumlah tersebut meningkat tajam pada tahun 2024 menjadi 562 kasus.

Namun, pada tahun 2025 angka kasus kembali menurun menjadi 244 penderita. Sementara itu, untuk angka kematian akibat DBD juga mengalami perubahan. Pada tahun 2023 terdapat satu kasus kematian, kemudian meningkat menjadi sembilan kasus pada tahun 2024. Di tahun 2025, jumlah kematian akibat DBD tercatat sebanyak lima kasus.

Didik mengatakan, tingginya kasus DBD dari tahun ke tahun tidak lepas dari faktor risiko lingkungan, terutama rendahnya angka bebas jentik (ABJ).

“Kalau soal penyebab, kasus DBD tiap tahun itu salah satunya karena faktor lingkungan. Angka bebas jentik kita masih rendah. Rata-rata capaian ABJ di Kabupaten Sukoharjo selama tahun 2025 sebesar 87%, padahal seharusnya lebih dari 95% persen,” jelasnya.

Didik melanjutkan, kondisi tersebut menjadi tantangan utama dalam pengendalian DBD. Upaya paling efektif untuk menekan kasus DBD adalah melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Fogging itu dilakukan ketika sudah benar-benar ada kasus. Fogging bukan prioritas utama karena hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membunuh jentiknya. Setelah satu minggu, jentik bisa menetas kembali menjadi nyamuk,” terangnya.

Karena itu, Didik menegaskan PSN jauh lebih penting untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD, dengan cara menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Berdasarkan sebaran wilayah, pada tahun 2023 kasus DBD tertinggi tercatat di Kecamatan Sukoharjo Kota dengan 38 kasus, sementara kasus terendah berada di Kecamatan Bulu.

Pada tahun 2024, kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Weru dengan 102 kasus, sedangkan terendah di Kecamatan Baki dengan 11 kasus. Adapun tahun 2025, kasus DBD tertinggi kembali tercatat di Kecamatan Sukoharjo Kota dengan 107 penderita, sementara Kecamatan Bendosari menjadi wilayah dengan kasus terendah yakni nol kasus. (nano)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *